Fakta Nasional

Krisis Air Bersih Pangandaran Makin Parah, Warga Cuci Baju di Sungai yang Nyaris Kering

FAKTANASIONAL.NET – Kemarau panjang mulai membawa dampak serius bagi warga Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Selama hampir empat bulan tanpa hujan, masyarakat Dusun Cihideung, Desa Ciganjeng, Kecamatan Padaherang, harus menghadapi keterbatasan air…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Wednesday, 09 September 2026 📖 1 menit
Krisis Air Bersih Pangandaran Makin Parah, Warga Cuci Baju di Sungai yang Nyaris Kering
Krisis Air Bersih Pangandaran Makin Parah, Warga Cuci Baju di Sungai yang Nyaris Kering/Pixabay
) -->

FAKTANASIONAL.NET – Kemarau panjang mulai membawa dampak serius bagi warga Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat.

Selama hampir empat bulan tanpa hujan, masyarakat Dusun Cihideung, Desa Ciganjeng, Kecamatan Padaherang, harus menghadapi keterbatasan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sumur yang selama ini menjadi sumber utama air warga perlahan mengering. Bukan hanya debitnya yang menyusut, kualitas air yang tersisa pun memburuk.

Air di dasar sumur berubah menjadi kuning pekat sehingga warga tidak berani menggunakannya untuk minum maupun memasak.

Kondisi tersebut membuat pengeluaran rumah tangga bertambah. Untuk kebutuhan konsumsi, warga terpaksa membeli air galon.

Sementara air sumur yang keruh masih dimanfaatkan untuk mandi dan mencuci peralatan dapur setelah disaring berulang kali guna mengurangi endapan lumpur.

Dikutip dari detikJabar, Rabu (9/9/2026), salah seorang warga, Rasini, mengatakan perubahan kualitas air sudah dirasakan sejak sekitar dua bulan terakhir.

"Sudah dua bulan air berwarna kuning. Airnya juga tinggal sedikit dan harus disaring berkali-kali sebelum digunakan," ucapnya, Selasa (8/9/2026).

Ia mengatakan kebutuhan air untuk konsumsi kini sepenuhnya mengandalkan air yang dibeli.

"Kalau kondisinya terus seperti ini, air sumur bisa habis. Kami berharap ada bantuan air bersih," harapnya.

Krisis semakin berat karena Sungai Ciseel yang biasanya menjadi pilihan warga untuk mencuci juga mengalami kekeringan. Aliran sungai menghilang dan hanya menyisakan genangan di antara bebatuan serta lumpur.

Warga pun harus berjalan menuju lokasi tersebut sambil membawa pakaian. Aktivitas mencuci di sungai kini menjadi rutinitas pada pagi dan sore hari.

Ketua RT setempat, Karno, menyebut kekeringan di wilayahnya telah berlangsung hampir empat bulan. Air sumur yang tersisa hanya dapat digunakan untuk sanitasi dasar dan mencuci peralatan dapur.

"Untuk mencuci pakaian, warga memanfaatkan air genangan di Sungai Ciseel. Kami berharap ada bantuan air bersih dari pemerintah desa maupun kabupaten," ungkapnya.

Warga kini berharap pemerintah segera menyalurkan bantuan air bersih sembari menunggu hujan turun dan mengembalikan kondisi sumber air.

"Mudah-mudahan ada turun hujan, jadi pengairan normal kembali," ucapnya.[dit]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK