Lebaran Kelabu di Cibubur: Banjir Tak Lazim Rendam Pemukiman dan Tol Jagorawi
FAKTANASIONAL.NET – Kawasan Cibubur, Jakarta Timur, yang selama ini dikenal relatif aman dari genangan, dikejutkan oleh banjir besar tepat pada hari pertama Idulfitri 1447 Hijriah, Sabtu (21/3/2026). Insiden ini memicu tanda tanya besar karena terja…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET – Kawasan Cibubur, Jakarta Timur, yang selama ini dikenal relatif aman dari genangan, dikejutkan oleh banjir besar tepat pada hari pertama Idulfitri 1447 Hijriah, Sabtu (21/3/2026).
Insiden ini memicu tanda tanya besar karena terjadi saat mobilitas warga tengah tinggi untuk merayakan Lebaran.
Banjir tidak hanya merendam pemukiman warga dalam waktu yang cukup lama, tetapi juga melumpuhkan infrastruktur vital.
Ruas Tol Jagorawi KM 12 arah Jakarta dilaporkan mengalami kemacetan parah akibat genangan air yang menghambat arus kendaraan dan distribusi logistik di hari kemenangan tersebut.
Anomali Aliran: Hulu Meluap, Hilir Normal
Wakil Ketua FAKTA Indonesia, Azas Tigor Nainggolan, menilai banjir kali ini merupakan anomali yang menunjukkan adanya kerusakan sistemik.
Berdasarkan pantauannya, volume air di wilayah hilir justru terpantau normal, berbanding terbalik dengan kondisi di Cibubur.
Tigor menjelaskan bahwa wilayah hilir seperti Penas hingga Banjir Kanal Timur (BKT) tidak mengalami peningkatan debit air yang signifikan.
Hal ini mengindikasikan adanya sumbatan atau hambatan besar di tengah jalur aliran sungai.
"Ada masalah pada sistem drainase dan aliran sungai yang tidak berjalan dengan baik. Ini menjadi alarm bahwa ada kerusakan yang tidak ditangani dengan baik,” kata Tigor melalui keterangan tertulis di Jakarta, Senin (23/3/2026).
Kegagalan Sistem Drainase
Analisis Tigor menunjukkan bahwa luapan air yang tertahan di kawasan hulu menjadi bukti bahwa sistem drainase Jakarta sedang tidak sehat.
Ketidakmampuan air untuk mengalir ke hilir menyebabkan pemukiman warga tergenang meskipun curah hujan di titik lain mungkin tidak se-ekstrem di hulu.
Situasi di Tol Jagorawi menjadi sorotan utama karena dampaknya yang meluas terhadap aksesibilitas warga yang hendak bersilaturahmi.
Kemacetan panjang di KM 12 menjadi bukti nyata bahwa sistem pengalihan air di sekitar jalan bebas hambatan tersebut gagal mengantisipasi debit air.
Hingga Senin (23/3), warga dan pengguna jalan mendesak Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk segera melakukan audit total terhadap saluran drainase di sepanjang koridor Cibubur guna mencegah kejadian serupa terulang kembali.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.