Lintas Ormas Desak PLN Bertanggung Jawab atas Dampak Pemadaman Listrik di Kalbar
FAKTANASIONAL.NET - Sejumlah tokoh masyarakat dan lintas organisasi kemasyarakatan (ormas) mendatangi Kantor PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Kalimantan Barat di Jalan Ahmad Yani, Pontianak, Selasa (7/7/2026). Kedatangan mereka untuk men…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET - Sejumlah tokoh masyarakat dan lintas organisasi kemasyarakatan (ormas) mendatangi Kantor PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Kalimantan Barat di Jalan Ahmad Yani, Pontianak, Selasa (7/7/2026). Kedatangan mereka untuk menyampaikan aspirasi sekaligus meminta penjelasan terkait pemadaman listrik yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Barat dalam beberapa waktu terakhir.
Pertemuan tersebut dihadiri Ketua Front Persaudaraan Islam (FPI) Kalimantan Barat Habib Rizal Alqadri, tokoh etnis Dayak Alex Sandra Djaong, Ketua Harian IKMA H. Fauzi, perwakilan keluarga besar Tionghoa Pontianak Hendry Pangestu Liem, serta Manager PT PLN (Persero) UID Kalimantan Barat, Maria Goretti Indrawati Gunawan.
Dalam penyampaiannya, Alex Sandra Djaong meminta PLN bertanggung jawab atas berbagai dampak yang ditimbulkan akibat pemadaman listrik. Ia juga menyinggung adanya informasi mengenai masyarakat di Sumatera Utara yang tersandung persoalan hukum berkaitan dengan kemarahan akibat pemadaman listrik dan berharap PLN turut memberikan perhatian terhadap persoalan tersebut.
Selain itu, Alex mendesak PLN membahas pemberian kompensasi kepada masyarakat yang terdampak pemadaman listrik.
“Kami meminta PLN memberikan kontribusi kepada masyarakat yang terdampak, baik dalam bentuk voucher maupun bantuan tunai. Hal itu perlu dibahas bersama masyarakat agar ada solusi yang jelas,” ujarnya.
Sementara itu, Hendry Pangestu Liem mengaku mengalami kerugian besar akibat pemadaman listrik. Ia menyebut sembilan ekor ikan arwana miliknya mati karena padamnya aliran listrik dengan nilai kerugian mencapai puluhan juta rupiah.
Menurut Hendry, dampak pemadaman listrik telah dirasakan seluruh lapisan masyarakat, baik pelaku usaha maupun masyarakat biasa.
Dalam pertemuan tersebut, kata Hendry, pihak PLN menyampaikan target pemulihan sistem kelistrikan secara normal pada 11 Juli 2026.
“Kami berharap target itu tidak meleset. Kalau sampai kembali molor, kami akan mengajak masyarakat Kota Pontianak bermalam di kantor PLN sebagai bentuk protes,” tegasnya.
Hendry juga meminta PLN memberikan kompensasi kepada pelanggan yang terdampak sesuai ketentuan yang berlaku. Ia mengaku telah menyiapkan langkah hukum untuk mengajukan tuntutan atas kerugian yang dialaminya akibat matinya sembilan ekor ikan arwana.
Selain kerugian materiil, Hendry mengatakan keluarganya juga terdampak karena cucunya yang baru berusia tiga hari terpaksa dibawa menginap di hotel selama dua hari akibat kondisi rumah tanpa listrik.
Dalam kesempatan yang sama, Habib Rizal Alqadri meminta manajemen PLN lebih mengedepankan kepedulian terhadap masyarakat Kalimantan Barat.
“Kami mencintai dan menghormati Bapak-Ibu di PLN. Kami juga berharap Bapak-Ibu memiliki rasa cinta kepada masyarakat. Kalau sama-sama saling menghormati dan saling peduli, insya Allah semua persoalan bisa diselesaikan dengan baik,” katanya.
Habib Rizal menegaskan persoalan listrik merupakan kebutuhan seluruh masyarakat tanpa memandang agama, suku maupun latar belakang.
“Kalau listrik terus bermasalah, dampaknya dirasakan semua masyarakat. Ini bukan lagi soal agama atau suku. Semua warga Kalimantan Barat membutuhkan pelayanan listrik yang baik,” ujarnya.
Ia mengingatkan agar PLN tidak menganggap remeh keluhan masyarakat. Menurutnya, pemadaman listrik yang terus berulang dapat memicu kekecewaan publik apabila tidak segera ditangani secara serius.
Dalam penyampaiannya, Habib Rizal mengutip hadis Nabi Muhammad SAW, “Irhamu man fil ard yarhamkum man fis sama” yang berarti, “Sayangilah makhluk yang ada di bumi, maka kalian akan disayangi oleh Allah yang berada di langit.”
Menurutnya, pelayanan kepada masyarakat merupakan bentuk kepedulian yang harus diwujudkan oleh setiap penyelenggara pelayanan publik. Ia juga mengajak PLN memperhatikan masyarakat yang bergantung pada listrik untuk menjalankan usaha, bekerja, belajar, hingga merawat anggota keluarga yang sedang sakit.
Meski menyampaikan kritik, Habib Rizal mengaku memahami kemungkinan adanya kendala teknis di internal PLN. Namun, ia berharap perusahaan terbuka kepada masyarakat dan segera melakukan perbaikan agar pelayanan kembali normal.
“Kami tidak ingin terjadi keributan. Yang kami inginkan hanya pelayanan listrik yang lebih baik dan kepastian bagi masyarakat. Semoga ke depan PLN benar-benar hadir untuk melayani rakyat,” tutupnya.
Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Manager PT PLN (Persero) UID Kalimantan Barat, Maria Goretti Indrawati Gunawan, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas gangguan kelistrikan yang terjadi.
“Kami sekali lagi memohon maaf atas kondisi yang terjadi. Kami juga memohon doa dan dukungan dari seluruh masyarakat Kalimantan Barat agar kami dapat segera melakukan pemulihan sistem, sehingga listrik di Kalimantan Barat kembali normal seperti sediakala,” ujarnya.
(Reni)
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.