Fakta Nasional

Lontong Sayur dan Negara yang Harus Dibersihkan

SESEKALI kita bicara soal makan. Takdir manusia memang sederhana. Lahir, tumbuh, lapar, makan, lalu lapar lagi. Gara-gara urusan makan, negara bisa berperang, rumah tangga bisa berantakan. Tapi jangan terlalu tinggi dulu. Kali ini kita bicara soal s…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Tuesday, 18 August 2026 📖 2 menit
Lontong Sayur dan Negara yang Harus Dibersihkan
Lontong Sayur dan Negara yang Harus Dibersihkan/(Rosadi Jamani)

SESEKALI kita bicara soal makan. Takdir manusia memang sederhana. Lahir, tumbuh, lapar, makan, lalu lapar lagi. Gara-gara urusan makan, negara bisa berperang, rumah tangga bisa berantakan. Tapi jangan terlalu tinggi dulu. Kali ini kita bicara soal sarapan, lontong.

Ceritanya, mobil saya sudah sangat kotor karena ikut merayakan HUT RI kemarin. Lumpur, debu, cipratan entah dari mana, semua menempel. Saatnya dibawa ke tempat pencucian.

Prinsipnya sederhana, kalau kotor, wajib dibersihkan. Sayangnya, prinsip ini kadang hanya berlaku untuk mobil.

Bukan untuk sebagian koruptor. Sudah tahu uang haram, masih disikat. Sudah tahu melanggar hukum, masih senyum. Kalau mobil kotor dicuci, perilaku kotor malah kadang dicari pembenaran.

Saya langganan cuci mobil di Jalan Ujungpandang, Pontianak. Kebetulan di sebelahnya ada kios kecil yang menjual aneka sarapan.

Ada lontong.

Saya pesan lontong sayur dengan topping daging. Sambil mobil dimandikan, saya ikut dimandikan kenikmatan.

Begitu lontong datang, dunia mendadak terasa lebih adil.

Potongan lontongnya lembut dan padat. Kuah sayurnya gurih, hangat, kaya rempah. Santannya menempel di lidah. Sayurnya memberi tekstur, sementara dagingnya menjadi bonus kebahagiaan.

Satu sendok kuah. Lontong masuk. Daging menyusul. Perut yang sejak tadi keroncongan mendadak berhenti berdemo.

Nikmat apalagi yang kau dustakan?

Apalagi disantap pagi-pagi ketika perut kosong. Aroma santan, bawang, rempah dan daging bercampur menjadi propaganda kuliner yang tidak membutuhkan baliho. Satu suapan saja sudah cukup membuat kita sadar. Kebahagiaan kadang tidak membutuhkan jabatan. Cukup sepiring lontong.

Indonesia memang luar biasa. Lontong bukan sekadar makanan, tetapi sudah menjadi bahasa persatuan perut. Setiap daerah punya versi sendiri.

Ada lontong sayur Betawi dengan labu siam, kacang panjang dan kuah santan. Ada lontong Medan dengan tauco, rendang atau telur balado. Ada lontong Padang dengan gulai ayam, nangka muda atau kacang panjang.

Bandung punya lontong kari. Rembang punya lontong Tuyuhan. Surabaya punya lontong kupang, lontong kikil dan lontong balap dengan tauge, tahu, lentho serta petis.

Banjarmasin punya lontong Orari dengan ikan haruan. Tangerang punya lontong Cap Go Meh, bukti, perut manusia ternyata lebih cepat berdamai dari politik.

Ada pula lontong mie, ketoprak, lontong isi, lontong dekem Pemalang dan lontong tahu.

Begitulah Indonesia. Beda kuah, beda lauk, beda rempah, tetapi bisa duduk dalam satu piring.

Ironisnya, makanan kita kadang lebih toleran dari politikusnya. Lontong tidak pernah bertanya, “Kamu partai apa?”

Kuah santan tidak pernah meminta jabatan. Daging tidak pernah korupsi anggaran. Sambal tidak pernah membentuk koalisi untuk memperpanjang kekuasaan.

Mungkin para elite perlu belajar dari lontong. Perbedaan tidak harus menjadi permusuhan. Kekayaan tidak harus menjadi keserakahan. Kekuasaan tidak harus menjadi kesempatan menggerogoti negara.

Mobil saya akhirnya selesai dicuci. Kinclong lagi. Saya pun selesai sarapan.

Lalu muncul pikiran sederhana, alangkah indahnya kalau negara juga bisa dicuci.

Korupsi disikat. Kolusi dibilas. Nepotisme disemprot tekanan tinggi. Seluruh sistem dikeringkan dengan kain kejujuran.

Sayangnya, negara tidak punya tempat cuci mobil. Yang tersedia hanya hukum. Masalahnya, hukum harus ditegakkan manusia. Di situlah noda paling sulit dibersihkan muncul, keserakahan.

Pagi ini saya pulang membawa dua kesimpulan. Mobil kotor bisa dicuci. Lontong bisa mengenyangkan.

Tetapi negara kotor hanya bisa dibersihkan kalau orang-orang memegang kekuasaan benar-benar mau berhenti mengotori.

Sebab republik ini tidak kekurangan air. Tidak kekurangan sabun. Yang kadang kurang adalah kemauan untuk benar-benar membersihkan.

Yang merasa ngiler, seruput Koptagul aja wak!

Penulis: Rosadi Jamani


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK