Fakta Nasional

Luluh Lantak

BETAPA sering kita mengira bahwa cinta berakhir karena hadirnya orang ketiga, karena jarak, waktu, atau takdir yang dianggap terlalu kejam. Padahal, yang paling sunyi justru adalah ketika dua hati masih saling mengingat, tetapi tak lagi berjalan men…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Friday, 17 July 2026 📖 2 menit
Luluh Lantak
Luluh Lantak

BETAPA sering kita mengira bahwa cinta berakhir karena hadirnya orang ketiga, karena jarak, waktu, atau takdir yang dianggap terlalu kejam.

Padahal, yang paling sunyi justru adalah ketika dua hati masih saling mengingat, tetapi tak lagi berjalan menuju tujuan yang sama.

Mereka masih mengenal nama satu sama lain dan hidup bersama seperti orang yang mencinta.

Namun kesadaran kadang tidak sanggup membuka tabir, bahwa sejatinya dua insan telah menjadi asing dalam haluannya.

Cinta sejatinya bukan sekadar pertemuan dua jiwa, melainkan kesediaan untuk menempuh jalan yang sama.

Selama arah itu masih satu, badai sebesar apa pun dapat dilalui bersama.

Namun ketika kompas hati mulai menunjuk ke arah yang berbeda, bahkan langit yang cerah pun tak mampu menyelamatkan sebuah hubungan dari keruntuhan.

Ah sial... Asmaraloka yang telah luluh lantak sekarang hanya menjadi saksi yang tak sanggup dibantah bahwasanya harapan, kepercayaan, dan janji-janji pernah diikrarkan.

Di dalamnya tumbuh tawa, doa, air mata, juga impian yang dirangkai perlahan. Namun sebuah dunia tak selalu hancur oleh gempa.

Ada kalanya ia roboh karena fondasinya diam-diam retak, sementara para penghuninya sibuk berjalan menjauh tanpa pernah benar-benar menyadarinya.

Yang paling menyakitkan bukanlah perpisahan itu sendiri. Luka terdalam justru lahir ketika kita sadar bahwa seseorang yang dahulu menggenggam tangan dengan penuh keyakinan kini memilih melepaskannya, bukan karena kehilangan rasa, melainkan karena telah menemukan tujuan yang berbeda.

Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada pengkhianatan yang dramatis. Yang ada hanyalah dua langkah yang perlahan menjauh hingga tak lagi saling terdengar.

Barangkali memang demikian hakikat cinta. Ia tidak selalu meminta dua insan untuk tetap bersama.

Kadang ia hanya mengajarkan bahwa mencintai berarti menerima kenyataan ketika jalan yang ditempuh tak lagi searah.

Sebab memaksa seseorang berjalan di jalan yang bukan pilihannya hanyalah mengubah cinta menjadi penjara.

Mungkin masih ada rindu yang tertinggal di setiap sudut kenangan.

Mungkin masih ada doa yang diam-diam dipanjatkan untuk kebahagiaan orang yang telah pergi.

Namun cinta yang dewasa tahu kapan harus menggenggam, dan kapan harus merelakan.

Sebab tidak semua cinta menjadi tempat kita pulang, sebagian hanya ditakdirkan singgah untuk menjadi pelajaran paling indah tentang kehilangan.

Ketika Asmaraloka akhirnya luluh lantak, yang gugur bukan sekadar sebuah hubungan, melainkan semesta kecil yang pernah dibangun oleh dua hati.

Dan dari reruntuhan itu, kita belajar satu hal yang paling getir, bahwa cinta jarang takluk karena badai.

Lebih sering, ia perlahan runtuh ketika dua jiwa yang dahulu saling memilih memutuskan melangkah ke cakrawala yang berbeda.[dit]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK