Fakta Nasional

Mengenal 'Eggshell Parenting': Ketika Anak Harus 'Berjalan di Atas Cangkang Telur' dan Cara Memutus Rantainya

FAKTANASIONAL.NET — Pernahkah Anda dibesarkan oleh orang tua yang emosinya begitu mudah meledak tanpa alasan jelas? Atau, apakah semasa kecil Anda kerap merasa bertanggung jawab penuh untuk memantau suasana hati ( mood ) orang tua agar rumah tetap d…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Jessy Serianda Editor: Redaksi 📍 Nasional Thursday, 23 July 2026 📖 3 menit
Mengenal 'Eggshell Parenting': Ketika Anak Harus 'Berjalan di Atas Cangkang Telur' dan Cara Memutus Rantainya
Pola pengasuhan eggshell parenting yang dipenuhi ketidakstabilan emosi orang tua berpotensi memicu ketakutan dan stres kronis pada anak hingga dewasa. Kesadaran diri menjadi kunci utama untuk memutus rantai trauma pengasuhan ini./Dok. Ist
) -->

FAKTANASIONAL.NET — Pernahkah Anda dibesarkan oleh orang tua yang emosinya begitu mudah meledak tanpa alasan jelas?

Atau, apakah semasa kecil Anda kerap merasa bertanggung jawab penuh untuk memantau suasana hati (mood) orang tua agar rumah tetap damai?

Jika jawabannya ya, bisa jadi Anda tumbuh dalam bayang-bayang eggshell parenting.

Istilah ini diambil dari ungkapan bahasa Inggris "walking on eggshells" (berjalan di atas cangkang telur)—sebuah kiasan yang menggambarkan kondisi seseorang yang harus melangkah sangat berhati-hati dalam ketidakpastian dan rasa tidak aman yang konstan.

Dalam pola pengasuhan ini, orang tua (eggshell parent) memiliki dinamika emosi yang sangat rapuh, tidak stabil, dan sukar diprediksi.

"Ketika orang tua memiliki suasana hati tidak stabil, ledakan emosi, dan perilaku yang tidak konsisten yang menyebabkan anak-anak mereka harus berhati-hati di sekitar mereka, mereka menunjukkan eggshell parenting," jelas psikoterapis Anna Hindell mengutip dari Parents.

Baca Juga: Tembus 5.000 Unit di Seluruh Indonesia, PLN Resmikan SPKLU Center Tanjung Priok untuk Manjakan Pengguna EV

Pada situasi ekstrem, pola asuh ini menciptakan fenomena pertukaran peran emosional (parentification). Anak yang seharusnya dilindungi justru merasa memikul beban untuk 'menjaga' perasaan orang tuanya dan terus menyalahkan diri sendiri ketika timbul ketegangan di rumah.

Dampak Panjang pada Perkembangan Anak

Tumbuh di bawah bayang-bayang ketakutan emosional berdampak serius pada kesehatan mental anak hingga mereka dewasa. Anak kerap kesulitan meregulasi emosi, mengalami stres kronis, serta memicu masalah gaya kemelekatan (attachment issue):

  • Anxious Attachment Style: Anak tumbuh menjadi pribadi yang cemas, selalu takut diabaikan, atau merasa tidak dicintai.

  • Avoidant Attachment Style: Anak merasa sulit untuk mempercayai, mengandalkan, atau membuka diri kepada orang lain.

5 Tanda Anda Mengalami Luka Trauma 'Eggshell Parenting'

Cara seseorang membesarkan anak amat dipengaruhi oleh trauma atau pola yang ia serap dari orang tuanya terdahulu. Menghimpun dari Huffington Post, berikut adalah tanda-tanda yang mengindikasikan bahwa Anda dibesarkan dalam lingkungan eggshell parenting:

1. Waspada Berlebihan (Hypervigilance)

Anda terus-menerus memindai ruangan atau situasi untuk mencari tanda-tanda konflik, perubahan mood, atau potensi ledakan emosi orang lain. Kebiasaan refleksif dari masa kecil ini kerap terbawa hingga ke lingkungan kerja maupun lingkaran sosial dewasa.

2. Menjadi People Pleaser yang Kronis

Anda secara otomatis memantau kebutuhan orang sekitar dan melakukan apa saja demi membuat mereka senang. Anda cenderung memendam pendapat pribadi atau menekan kebutuhan sendiri hanya agar orang lain tidak marah.

3. Sulit Mengekspresikan dan Mempercayai Emosi Sendiri

Psikolog klinis Noelle Santorelli memaparkan bahwa anak belajar menekan emosinya sendiri untuk menghindari benturan dengan orang tua. Saat dewasa, ketika merasakan emosi wajar seperti kecewa atau marah, Anda justru mempertanyakan keabsahan perasaan tersebut dan merasa bersalah.

4. Merasa Bertanggung Jawab atas Perasaan Orang Lain

Adanya dorongan kuat dari dalam diri yang membuat Anda merasa bahwa suasana hati atau emosi negatif orang di sekitar Anda adalah kesalahan atau tanggung jawab Anda untuk memperbaikinya.

5. Merasa Tidak Nyaman atau Canggung di Dekat Orang Tua

Muncul ketegangan emosional atau rasa ketidaknyamanan tersendiri setiap kali harus menghabiskan waktu bersama orang tua, terutama karena ingatan emosional atas sensitivitas mereka di masa lalu.

Putus Rantai Trauma untuk Generasi Mendatang

Pola pengasuhan yang baik dari orang tua memang patut diteruskan.

Namun, jika Anda menemukan pola eggshell parenting dalam riwayat pengasuhan Anda, kesadaran diri (self-awareness) adalah langkah awal terpenting untuk menghentikan rantai trauma tersebut agar tidak terulang pada anak-anak Anda.

Memulihkan diri melalui bantuan profesional seperti psikolog atau konselor, belajar mengenali batasan emosional (emotional boundaries), serta melatih regulasi emosi yang sehat dapat membantu membangun lingkungan rumah yang aman, hangat, dan stabil bagi tumbuh kembang buah hati.

Baca Juga: Titik Balik Kebahagiaan: Selebgram Amanda Zahra Menikah Lagi


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK