Menyelami Penderitaan
DALAM Dunia yang sibuk menghitung kemenangan, hanya sedikit manusia yang berani menghitung luka. Orang-orang memamerkan mahkota, tetapi menyembunyikan duri yang pernah menembus kepalanya. Mereka memuji senyuman, tetapi menutupi air mata seolah-olah…
Dengarkan Ringkasan
DALAM Dunia yang sibuk menghitung kemenangan, hanya sedikit manusia yang berani menghitung luka.
Orang-orang memamerkan mahkota, tetapi menyembunyikan duri yang pernah menembus kepalanya.
Mereka memuji senyuman, tetapi menutupi air mata seolah-olah tangisan adalah aib yang harus dikubur bersama malam.
Padahal, sejarah manusia tidak pernah ditulis oleh tawa semata. Ia diukir oleh penderitaan yang menolak dilupakan.
Penderitaan adalah bahasa yang tidak memerlukan penerjemah. Ia dapat dipahami oleh seorang pengemis maupun seorang raja.
Ia tidak memilih rumah yang megah atau gubuk yang reyot. Ia mengetuk setiap pintu, dan setiap kali ia masuk, ia meninggalkan pertanyaan yang sama:
"Apakah engkau masih mengenal dirimu sendiri ketika semua yang engkau banggakan telah direnggut darimu?"
Banyak orang mengira penderitaan datang untuk menghukum. Padahal sering kali ia datang untuk memperkenalkan manusia kepada dirinya sendiri.
Sebab selama hidup dipenuhi kemudahan, manusia mudah mengira bahwa dirinya kuat. Ia mengira kekayaannya adalah benteng, jabatannya adalah kehormatan, dan pujian manusia adalah ukuran kemuliaan.
Namun ketika badai datang, semua yang tampak kokoh mulai memperlihatkan retaknya.
Saat itulah seseorang menyadari bahwa yang selama ini ia sebut kekuatan hanyalah pinjaman.
Ada sebuah ketakutan yang hidup diam-diam di dalam dada manusia.
Ketakutan kehilangan.
Ketakutan ditolak.
Ketakutan miskin.
Ketakutan dipenjara.
Ketakutan dihina.
Ketakutan mati.
Ketakutan inilah yang kemudian dipelihara oleh kekuasaan.
Betapa banyak manusia rela menjual nuraninya hanya agar tetap aman.
Mereka mengubah keyakinan menjadi komoditas.
Mereka menggadaikan kejujuran demi kursi.
Mereka menukar harga diri dengan kenyamanan.
Lalu mereka menyebut semua itu sebagai kebijaksanaan.
Padahal sesungguhnya itu hanyalah rasa takut yang mengenakan pakaian sopan.
Orang yang takut selalu mudah diarahkan.
Ia tidak membutuhkan rantai.
Cukup ancaman.
Cukup janji.
Cukup sedikit kenyamanan.
Maka ia akan berjalan menuju penjara yang dibangunnya sendiri.
Namun ada manusia yang berbeda.
Ia telah terlalu lama berjalan bersama penderitaan.
Ia telah kehilangan banyak hal yang dahulu dianggap penting.
Ia pernah menyaksikan harapannya runtuh.
Ia pernah ditinggalkan ketika paling membutuhkan teman.
Ia pernah difitnah saat berkata jujur.
Ia pernah gagal ketika telah mengerahkan seluruh kemampuannya.
Ia pernah menangis tanpa ada bahu tempat bersandar.
Mula-mula ia mengira dirinya sedang dihancurkan.
Tetapi waktu membisikkan sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh sekolah mana pun.
Bahwa tidak semua yang patah sedang binasa.
Ada yang patah agar cahaya dapat masuk.
Ada yang hancur agar kesombongan ikut terkubur.
Ada yang kehilangan agar tidak lagi bergantung kepada sesuatu yang fana.
Luka yang dahulu ia benci perlahan berubah menjadi guru yang paling sabar.
Guru itu tidak banyak berbicara.
Ia mengajar melalui sepi.
Ia mengajar melalui penantian.
Ia mengajar melalui air mata.
Dan pelajaran itu tidak pernah dapat dibeli.
Suatu hari, tanpa disadari, ia menemukan sesuatu yang aneh dalam dirinya.
Ia masih merasakan sakit.
Namun ia tidak lagi takut.
Ketakutan yang dahulu menguasai pikirannya mulai mati satu demi satu.
Apa lagi yang harus ditakutkan oleh seseorang yang telah kehilangan hampir segala sesuatu?
Apa ancaman terbesar bagi orang yang sudah berkali-kali jatuh lalu bangkit?
Apa hinaan bagi hati yang telah ditempa oleh kesunyian?
Penderitaan ternyata tidak sekadar melukai.
Ia juga membunuh sesuatu.
Ia membunuh rasa takut.
Dan ketika rasa takut mati, lahirlah kebebasan yang tidak dapat dipenjarakan.
Sejak saat itu dunia tidak lagi mampu membelinya.
Sebab dunia selalu membeli manusia melalui apa yang mereka cintai.
Ada yang dibeli dengan uang.
Ada yang dibeli dengan jabatan.
Ada yang dibeli dengan pujian.
Ada yang dibeli dengan ketenaran.
Ada yang dibeli dengan ancaman.
Namun bagaimana mungkin membeli seseorang yang telah belajar bahwa semua itu hanyalah tamu?
Tamu datang.
Tamu pergi.
Rumah tetap berdiri.
Begitulah hati orang yang telah ditempa penderitaan.
Ia tidak lagi menjadikan dunia sebagai pemilik dirinya.
Dunia hanyalah persinggahan.
Karena itu ia tidak sibuk memperebutkan kursi yang akan ditinggalkan.
Ia lebih sibuk memperbaiki jiwa yang akan dibawanya pulang.
Banyak penguasa mengira kekuatan mereka lahir dari banyaknya orang yang tunduk.
Padahal sebagian besar ketundukan hanyalah buah dari ketakutan.
Begitu rasa takut hilang, singgasana mulai terlihat biasa.
Mahkota hanyalah logam.
Istana hanyalah batu.
Jabatan hanyalah selembar keputusan yang suatu hari akan usang.
Yang tetap hidup hanyalah akhlak.
Karena itu orang yang telah menyelami penderitaan tidak mudah terpukau oleh kemegahan.
Ia telah melihat bahwa kekuasaan dapat berpindah tangan dalam satu malam.
Ia telah melihat orang kaya menjadi miskin.
Ia telah melihat orang yang dielu-elukan berubah menjadi bahan cemoohan.
Ia telah melihat waktu menertawakan kesombongan manusia.
Lalu mengapa ia harus menyembah sesuatu yang bahkan tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri?
Namun jangan salah mengerti.
Orang seperti ini bukan pemberontak terhadap semua hal.
Ia masih mengenal hormat.
Ia masih memahami adab.
Ia masih tahu kapan harus menundukkan kepala.
Tetapi kepalanya tidak tunduk kepada ketakutan.
Ia tunduk kepada kebenaran.
Ia menghormati kebijaksanaan, bukan kesewenang-wenangan.
Ia memuliakan akhlak, bukan kekuasaan.
Ia mencintai kejujuran, bukan kemewahan.
Karena itu, hormatnya memiliki nilai.
Ia tidak murah.
Ia tidak dijual.
Ia tidak dipaksa.
Ia lahir dari hati yang mampu membedakan antara kemuliaan dan kemegahan.
Betapa banyak manusia tampak tinggi karena berdiri di atas panggung, padahal jiwanya kerdil.
Dan betapa banyak manusia tampak sederhana, tetapi langit mengenal namanya lebih baik daripada bumi.
Ukuran kemuliaan ternyata bukan seberapa tinggi seseorang berdiri, melainkan kepada nilai apa ia bersedia berlutut.
Mungkin itulah sebabnya penderitaan menjadi jalan yang berat.
Bukan karena Tuhan mencintai air mata.
Melainkan karena hanya sedikit manusia yang mau dibebaskan dari ketakutannya.
Kebebasan batin selalu menuntut harga.
Harga itu adalah kenyamanan.
Harga itu adalah kesombongan.
Harga itu adalah ilusi bahwa manusia dapat menguasai segalanya.
Dan ketika semua ilusi itu runtuh, lahirlah seseorang yang tidak lagi hidup demi tepuk tangan manusia, tetapi demi ketenangan nuraninya.
Ia berjalan perlahan.
Tidak tergesa-gesa mengejar dunia.
Tidak pula berhenti karena ancaman.
Sebab ia telah mengetahui sebuah rahasia yang hanya diajarkan oleh penderitaan:
bahwa orang yang paling merdeka bukanlah orang yang memiliki segalanya, melainkan orang yang tidak lagi diperbudak oleh rasa takut kehilangan apa pun.
Setelah rasa takut perlahan gugur dari dalam dada, manusia memasuki sebuah negeri yang asing. Negeri itu tidak memiliki tembok, tetapi sangat sulit dimasuki.
Tidak ada gerbang yang dijaga prajurit, namun hanya sedikit jiwa yang berhasil tiba di sana. Negeri itu bernama kemerdekaan batin.
Di sana, ancaman kehilangan tidak lagi menjadi cambuk. Pujian tidak membuat seseorang mabuk, dan celaan tidak membuatnya kehilangan arah.
Ia telah belajar bahwa penilaian manusia berubah secepat bayangan yang berpindah mengikuti matahari.
Hari ini seseorang dipuja karena kekayaannya, esok ia dicela karena kemiskinannya.
Hari ini seseorang disanjung karena jabatannya, lusa namanya bahkan tidak lagi disebut. Betapa rapuhnya kemuliaan yang dibangun di atas penilaian manusia.
Maka orang yang telah ditempa oleh penderitaan tidak lagi menggantungkan harga dirinya pada sorak-sorai.
Ia lebih memilih menjadi benar daripada menjadi terkenal. Ia lebih rela kehilangan kesempatan daripada kehilangan hati nuraninya.
Kekuasaan sering kali tidak datang dengan wajah yang menakutkan. Ia datang dengan senyum yang ramah, dengan janji yang terdengar masuk akal, bahkan dengan bahasa yang mengatasnamakan kepentingan bersama.
Ia berkata, "Ikutlah bersama kami. Tidak perlu mengubah dunia. Cukup diam, dan engkau akan hidup nyaman."
Banyak jiwa menerima tawaran itu. Bukan karena mereka jahat, melainkan karena mereka lelah.
Mereka ingin hidup tenang, ingin keluarga mereka aman, ingin hari-harinya berlalu tanpa guncangan.
Perlahan, diam menjadi kebiasaan, lalu kebiasaan berubah menjadi pembenaran.
Di situlah hati mulai kehilangan kepekaannya.
Kezaliman yang pertama kali membuat mereka gelisah, lama-kelamaan terasa biasa.
Kebohongan yang dahulu mereka benci, akhirnya terdengar wajar.
Dan suara hati yang dahulu lantang, kini hanya berbisik lirih, tenggelam oleh riuh kepentingan.
Begitulah nurani mati, bukan karena satu pukulan besar, tetapi karena ribuan kompromi kecil.
Namun ada jiwa yang menolak jalan itu.
Bukan karena ia merasa paling suci, bukan pula karena ia haus pujian sebagai pejuang.
Ia hanya tidak sanggup mengkhianati kebenaran yang telah tumbuh di dalam dirinya.
Penderitaan telah mengajarinya bahwa kenyamanan yang dibayar dengan kehormatan adalah penjara yang paling indah sekaligus paling menyedihkan.
Sebab seseorang dapat memiliki rumah megah, tetapi hidup sebagai tawanan ketakutannya sendiri.
Ia dapat mengenakan pakaian yang mahal, tetapi jiwanya telanjang di hadapan kebenaran.
Ia dapat duduk di kursi yang tinggi, tetapi setiap malam tidur bersama kecemasan yang tidak pernah selesai.
Apa arti kemenangan jika hati terus-menerus kalah?
Apa arti kekuasaan jika seseorang tidak lagi mampu menatap dirinya sendiri di depan cermin?
Ada saat ketika langit seolah diam terhadap orang yang jujur.
Mereka difitnah.
Mereka disingkirkan.
Mereka dianggap pengganggu.
Orang-orang bertanya, "Mengapa orang baik justru menderita?"
Barangkali karena dunia terlalu sering mengukur kemenangan dengan hasil yang tampak. Padahal Tuhan menumbuhkan banyak kemenangan di tempat yang tidak terlihat oleh mata.
Benih tidak pernah tumbuh di atas batu. Ia tumbuh di dalam tanah yang gelap.
Begitu pula jiwa manusia.
Kebijaksanaan jarang lahir dari pesta. Ia lebih sering lahir dari kesendirian.
Keberanian tidak lahir dari tepuk tangan. Ia tumbuh ketika seseorang tetap memilih jalan yang benar meskipun tidak ada seorang pun yang berdiri di sisinya.
Maka jangan terburu-buru menyebut penderitaan sebagai kegagalan. Bisa jadi ia adalah musim ketika akar sedang tumbuh jauh lebih dalam daripada yang dapat dilihat.
Orang yang telah melewati musim-musim itu mulai memandang manusia dengan cara yang berbeda.
Ia tidak lagi mudah menghakimi.
Sebab ia tahu setiap senyum mungkin sedang menyembunyikan luka.
Setiap kemarahan mungkin lahir dari kepedihan yang lama dipendam.
Setiap kesombongan bisa jadi hanyalah topeng untuk menutupi ketakutan.
Penderitaan telah melembutkan hatinya tanpa membuatnya lemah.
Ia mampu memaafkan, tetapi tidak membenarkan kezaliman.
Ia mampu berbelas kasih, tetapi tidak menyerahkan prinsip.
Ia dapat mengulurkan tangan kepada orang yang jatuh, namun tidak ikut terjatuh bersama kebohongan mereka.
Belas kasih tanpa kebenaran adalah kelemahan.
Kebenaran tanpa kasih sayang adalah kekerasan.
Maka ia berusaha menjaga keduanya berjalan berdampingan.
Suatu hari, mungkin ia akan dipanggil menghadap orang-orang yang merasa dirinya berkuasa.
Mereka mengira ancaman akan membuatnya gemetar.
Mereka lupa bahwa ketakutan telah lama dimakamkan oleh penderitaan.
Apa yang masih dapat dirampas dari seseorang yang telah belajar hidup dengan kehilangan?
Apa yang dapat dijadikan ancaman bagi orang yang telah menerima bahwa segala sesuatu di dunia hanyalah titipan?
Tubuhnya mungkin dipenjara.
Namanya mungkin dicemarkan.
Hartanya mungkin disita.
Tetapi keyakinannya tidak dapat dirantai.
Ada kebebasan yang tidak dapat disentuh oleh tangan manusia. Kebebasan itu hidup di dalam hati yang telah berdamai dengan takdir dan berpegang teguh pada kebenaran.
Lihatlah sungai.
Ia tidak pernah berteriak bahwa dirinya kuat.
Namun batu-batu yang keras perlahan terkikis oleh alirannya.
Bukan karena sungai lebih keras daripada batu, melainkan karena ia tidak berhenti mengalir.
Demikian pula jiwa yang ditempa penderitaan.
Ia tidak perlu membuktikan keberaniannya setiap hari.
Ia cukup setia pada kebenaran.
Kesetiaan itulah yang perlahan mengikis kesombongan zaman.
Sering kali perubahan besar tidak lahir dari keramaian, tetapi dari satu hati yang menolak berbohong.
Satu orang yang berkata benar pada saat semua memilih diam dapat menjadi awal dari bangkitnya banyak hati yang lama tertidur.
Keberanian ternyata menular.
Sebagaimana ketakutan juga menular.
Maka setiap manusia sedang memilih, apakah ia akan menjadi pembawa keberanian atau penyebar ketakutan.
Kita hidup pada masa ketika banyak orang mengejar citra, tetapi melupakan karakter.
Mereka sibuk membangun nama, namun lupa membangun jiwa.
Mereka menginginkan pengikut, tetapi enggan menjadi teladan.
Mereka ingin dihormati, tetapi tidak mau hidup terhormat.
Padahal waktu adalah hakim yang tidak pernah menerima suap.
Ia akan mengikis topeng satu demi satu.
Yang tersisa bukanlah gelar, bukan pula harta, melainkan jejak akhlak yang pernah ditinggalkan.
Seseorang boleh dikenang karena kekuasaannya selama beberapa tahun.
Namun ia akan dikenang karena akhlaknya selama beberapa generasi.
Kekuasaan hanya mengatur manusia selama ia hidup.
Akhlak terus berbicara bahkan setelah pemiliknya dikuburkan.
Barangkali di situlah letak kemerdekaan yang sesungguhnya.
Bukan ketika manusia bebas melakukan apa saja yang diinginkannya, melainkan ketika ia mampu berkata "tidak" kepada segala sesuatu yang berusaha membeli nuraninya.
Kemerdekaan bukanlah hidup tanpa tekanan.
Kemerdekaan adalah tetap memilih yang benar meskipun tekanan datang dari segala arah.
Dan orang yang telah melewati lorong panjang penderitaan memahami satu rahasia yang tidak diajarkan oleh dunia:
bahwa kekuasaan dapat memaksa tubuh untuk berlutut, tetapi tidak akan pernah mampu memaksa jiwa yang telah merdeka untuk menyembah kebohongan.
Di hadapan manusia, ia mungkin tampak sendirian.
Namun di hadapan kebenaran, ia tidak pernah benar-benar sendiri.
Sebab setiap langkah yang dijaga oleh hati nurani akan selalu menemukan jalannya menuju cahaya, meskipun harus melewati malam yang paling panjang.
Pada akhirnya, setiap perjalanan manusia akan bermuara pada satu pertanyaan yang tidak pernah dapat dihindari:
Apakah yang sesungguhnya engkau bawa pulang dari kehidupan ini?
Bukan rumah yang megah.
Bukan rekening yang penuh.
Bukan pula tepuk tangan yang dahulu memenuhi ruangan ketika namamu dipanggil.
Semua itu akan tertinggal, sebagaimana daun-daun gugur meninggalkan rantingnya ketika musim berganti.
Yang tetap berjalan bersama manusia hanyalah dirinya sendiri—jiwa yang selama hidup dibentuk oleh pilihan-pilihannya.
Karena itu, kehidupan bukanlah perlombaan mengumpulkan sebanyak mungkin milik, melainkan perjalanan membentuk sebanyak mungkin makna.
Sering kali manusia takut kehilangan dunia, padahal dunia tidak pernah benar-benar menjadi miliknya.
Kita menyebut sesuatu sebagai "hartaku", padahal kita hanya menjaganya untuk sementara.
Kita menyebut seseorang sebagai "milikku", padahal setiap jiwa memiliki jalannya sendiri.
Kita menyebut jabatan sebagai "kekuasaanku", padahal waktu dapat mengambilnya hanya dengan satu keputusan yang tidak pernah dimusyawarahkan.
Begitulah kehidupan mengajarkan kerendahan hati.
Segala sesuatu yang dapat dirampas bukanlah bagian terdalam dari diri kita.
Jika kebahagiaan bergantung pada sesuatu yang dapat hilang, maka hidup akan selalu dipenuhi kecemasan.
Tetapi jika ketenangan berakar pada hati yang mengenal Tuhannya, maka badai hanya akan menggoyangkan ranting, bukan mencabut akar.
Orang yang telah ditempa oleh penderitaan memahami kenyataan itu.
Ia tidak lagi mengejar penghormatan; ia mengejar kelayakan untuk dihormati.
Ia tidak lagi sibuk membela citra; ia lebih sibuk menjaga hati.
Sebab citra hidup di mata manusia.
Sedangkan hati hidup di hadapan Tuhan.
Betapa banyak orang tampak bersih di hadapan publik, tetapi gelisah ketika sendirian.
Dan betapa banyak orang difitnah oleh manusia, namun jiwanya tenang karena mengetahui bahwa kebenaran tidak bergantung pada pengakuan banyak orang.
Hati yang bersih adalah rumah yang tidak dapat dibakar oleh kebencian.
---
Ada orang yang memenangkan banyak pertempuran, tetapi kalah melawan keserakahannya sendiri.
Ada orang yang mengalahkan banyak musuh, tetapi tidak pernah mampu mengalahkan egonya.
Dan ada pula orang yang tampak kalah di hadapan dunia, namun justru menang di hadapan nuraninya.
Kemenangan yang terakhir itulah yang paling sulit dipahami oleh zaman.
Dunia mencintai pemenang yang berdiri di podium.
Langit mencintai jiwa yang tetap jujur meski berdiri sendirian.
Dunia menghitung hasil.
Langit menimbang niat.
Dunia melihat seberapa tinggi seseorang naik.
Langit melihat seberapa rendah hatinya ketika berada di puncak.
Maka jangan iri kepada mereka yang hidup dalam kemewahan, jika kemewahan itu membuat mereka kehilangan kebebasan untuk berkata benar.
Dan jangan pula meremehkan mereka yang hidup sederhana, jika kesederhanaan itu menjaga mereka tetap merdeka.
Sebab kemiskinan bukanlah kehinaan.
Kekayaan juga bukanlah kemuliaan.
Yang memuliakan manusia adalah akhlaknya.
Akhlak adalah cahaya yang tetap menyala ketika semua lampu dunia dipadamkan.
Ia tidak membutuhkan panggung.
Tidak memerlukan pengakuan.
Ia cukup hadir, lalu kehadirannya menenangkan orang-orang di sekitarnya.
Lihatlah pohon yang paling kuat.
Ia tidak tumbuh dalam satu malam.
Akar-akarnya menembus tanah yang keras sebelum dahannya menjulang ke langit.
Begitu pula jiwa.
Semakin dalam ia ditempa oleh penderitaan, semakin tinggi ia mampu memandang kehidupan tanpa dikuasai kesombongan.
Karena itu, jangan terburu-buru meminta hidup yang mudah.
Mintalah hati yang kuat.
Jangan memohon agar semua badai dijauhkan.
Mohonlah agar setiap badai melahirkan kebijaksanaan.
Sebab laut yang tenang tidak pernah membentuk pelaut yang tangguh.
Demikian pula kehidupan yang selalu mudah jarang melahirkan manusia yang bijaksana.
Ada saatnya seseorang harus memilih.
Memilih kenyamanan atau kebenaran.
Memilih jabatan atau kejujuran.
Memilih pujian atau harga diri.
Pilihan itu tidak selalu datang dalam peristiwa besar.
Sering kali ia hadir dalam keputusan-keputusan kecil yang tampak sepele.
Ketika melihat kebohongan, apakah kita diam?
Ketika melihat ketidakadilan, apakah kita berpaling?
Ketika mengetahui yang benar, apakah kita tetap mengatakannya meskipun suara kita menjadi suara yang paling sunyi?
Sesungguhnya, kehidupan dibangun oleh keputusan-keputusan kecil yang dilakukan berulang kali.
Dari situlah karakter bertumbuh.
Dan karakter yang terus dipelihara akan menjadi takdir seseorang.
Penderitaan tidak menjadikan semua orang mulia.
Sebagian menjadi keras hati.
Sebagian menjadi pendendam.
Sebagian memilih membalas luka dengan melukai.
Namun ada pula yang menjadikan penderitaan sebagai ladang tempat tumbuhnya kasih sayang.
Mereka memahami betapa beratnya memikul beban.
Karena itu mereka tidak ringan menghakimi.
Mereka mengetahui betapa sakitnya dikhianati.
Karena itu mereka berhati-hati agar tidak mengkhianati.
Mereka pernah menangis dalam kesunyian.
Karena itu mereka tidak menertawakan air mata orang lain.
Penderitaan telah memanusiakan mereka.
Bukan karena luka itu indah, melainkan karena mereka memilih belajar darinya, bukan tinggal di dalamnya.
Akhirnya, sampailah kita pada sebuah rahasia yang selama ini tersembunyi di balik semua luka.
Ternyata penderitaan bukanlah tujuan.
Ia hanyalah jalan.
Tujuannya adalah kematangan jiwa.
Tujuannya adalah kebebasan batin.
Tujuannya adalah lahirnya manusia yang tidak lagi mudah dipermainkan oleh rasa takut, oleh ambisi yang membutakan, ataupun oleh kekuasaan yang mabuk pada dirinya sendiri.
Ketika rasa takut telah mati, keberanian lahir dengan tenang.
Ketika kesombongan telah runtuh, kebijaksanaan mulai bertunas.
Ketika keinginan untuk dipuji telah padam, keikhlasan mulai berbicara.
Dan ketika semua itu bertemu dalam satu hati, lahirlah manusia yang sulit dicengkeram oleh dunia.
Mungkin orang seperti itu tidak akan selalu menang dalam ukuran manusia.
Namanya bisa saja dilupakan.
Perjuangannya mungkin tidak pernah ditulis dalam buku sejarah.
Ia mungkin wafat tanpa upacara besar.
Namun kehidupan tidak pernah hanya diukur oleh apa yang dikenang manusia.
Ada catatan yang lebih agung daripada arsip dunia.
Ada saksi yang tidak pernah lalai.
Ada keadilan yang tidak dapat dibeli.
Karena itu, jangan biarkan hidupmu dipimpin oleh ketakutan.
Jangan biarkan ancaman menentukan arah langkahmu.
Jangan biarkan kekuasaan membeli suara hatimu.
Rawatlah nurani sebagaimana seorang penjaga menyalakan pelita di tengah malam. Sebab ketika seluruh cahaya dunia padam, hanya pelita itulah yang akan menunjukkan jalan pulang.
Maka, jika suatu hari engkau ditanya, "Apakah yang paling berharga setelah melewati begitu banyak penderitaan?"
Jawablah dengan tenang:
"Aku kehilangan banyak hal yang pernah kuanggap penting. Aku kehilangan kenyamanan, pujian, bahkan orang-orang yang dahulu berjalan bersamaku. Namun dari semua kehilangan itu, aku memperoleh sesuatu yang tidak dapat dibeli oleh emas, tidak dapat dipaksa oleh ancaman, dan tidak dapat dirampas oleh kekuasaan: kebebasan jiwaku untuk tetap berpihak kepada kebenaran."
Dan pada saat itulah, penderitaan tidak lagi menjadi kutukan.
Ia berubah menjadi jalan sunyi yang mengantarkan manusia kepada kemuliaan akhlak.
Sebab kemenangan terbesar bukanlah ketika seseorang mampu menaklukkan dunia, melainkan ketika ia berhasil menaklukkan dirinya sendiri.
Orang yang mampu menguasai dirinya tidak akan mudah diperbudak oleh hawa nafsu.
Orang yang menjaga akhlaknya tidak akan menjual nuraninya demi keuntungan sesaat.
Dan orang yang telah mengenal Tuhannya tidak akan menundukkan kepalanya kepada kesombongan manusia.
Sebab pada akhirnya, kemerdekaan sejati bukanlah bebas melakukan apa yang kita inginkan, melainkan bebas untuk tetap memilih kebenaran, sekalipun seluruh dunia mengajak kita meninggalkannya.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.