Fakta Nasional

Pasca Bentrok Pulau Rempang , Politisi Senayan Dukung Kompolnas Turun Tangan dan Dorong Keterlibatan Komnas HAM

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Anggota Komisi III DPR RI, Abdullah, mendesak Polri untuk memastikan stabilitas dan keamanan di Pulau Rempang, Batam, Kepulauan Riau, setelah bentrokan yang melibatkan warga dan petugas keamanan PT Makmur Elok Graha (PT…

Penulis: Zul Jamba Editor: Redaksi 📍 Nasional Saturday, 21 December 2024 📖 2 menit
Pasca Bentrok Pulau Rempang , Politisi Senayan Dukung Kompolnas Turun Tangan dan Dorong Keterlibatan Komnas HAM
Anggota Komisi III DPR RI, Abdullah/dpr.go.id.

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET - Anggota Komisi III DPR RI, Abdullah, mendesak Polri untuk memastikan stabilitas dan keamanan di Pulau Rempang, Batam, Kepulauan Riau, setelah bentrokan yang melibatkan warga dan petugas keamanan PT Makmur Elok Graha (PT MEG). Ia menegaskan pentingnya peran aparat dalam mencegah kerusuhan serupa di masa depan.

"Kami turut prihatin atas kerusuhan yang terjadi di Rempang dan meminta kepada aparat keamanan untuk melakukan perlindungan kepada warga, karena hal itu merupakan tugas kepolisian," ujar Abdullah, Jumat (20/12/2024).

Kerusuhan pecah pada Rabu (18/12) dini hari, ketika puluhan orang menyerang posko warga di Kampung Sembulang Hulu dan Kampung Sei Buluh, Kecamatan Galang. Insiden ini mengakibatkan delapan warga terluka, satu di antaranya kritis. Selain korban luka, belasan kendaraan bermotor rusak, dan posko warga mengalami kerusakan serius.

Konflik dipicu oleh tindakan oknum yang diduga perwakilan PT MEG, yang mencabut dan merusak spanduk penolakan warga terhadap Proyek Strategis Nasional (PSN) Rempang Eco-City. Warga yang merasa terintimidasi terlibat cekcok dengan pekerja PT MEG hingga akhirnya terjadi bentrokan.

Abdullah menilai pemerintah harus segera mengambil langkah strategis untuk menyelesaikan konflik ini.

“Kedepankan pendekatan humanis kepada warga, bukan kekerasan. Penolakan terjadi pasti bukan tanpa alasan, pemerintah harus memastikan hak-hak warga terpenuhi," tegas legislator dari Dapil Jawa Tengah VI itu.

Ia juga menyoroti pentingnya penegakan hukum yang adil. Abdullah meminta aparat kepolisian dan TNI untuk bersikap profesional dalam menangani situasi di Rempang.

"Jangan sampai ada aparat membekingi kekerasan. Petugas kepolisian dan TNI harus memastikan keamanan masyarakat serta bersikap adil dan transparan dalam menjalankan tugas," katanya.

Abdullah mendukung langkah Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) yang terjun langsung mengawasi penanganan kasus ini. Selain itu, ia juga mendorong Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) untuk mengawal proses penyelesaian konflik agar hak-hak masyarakat adat dan lokal tidak terabaikan.

“Stabilitas keamanan penting untuk kemajuan pembangunan. Kami juga mendesak Komnas HAM untuk memastikan bahwa hak-hak masyarakat dihormati dan dilindungi," ungkap Abdullah.

Masyarakat setempat terus menolak pembangunan PSN Rempang Eco-City, yang mereka anggap mengabaikan aspek sosial dan budaya. Proyek ini dikerjakan oleh Pemko Batam, Otorita Batam, dan PT MEG, dengan tujuan menjadikan Rempang sebagai mesin ekonomi baru Indonesia.

Abdullah mengingatkan bahwa pembangunan tidak boleh merugikan masyarakat.

“Proyek ini harus mempertimbangkan prinsip keadilan sosial, kelestarian lingkungan, dan keberlanjutan. Jika pembangunan tidak berpihak pada rakyat, maka perlu ada peninjauan ulang," katanya.

Abdullah meminta semua pihak untuk mengutamakan pendekatan dialog dalam menyelesaikan konflik.

“Utamakan pendekatan humanis kepada warga. Kekerasan hanya akan memperburuk situasi. Pemerintah harus menjamin keselamatan dan keamanan rakyat," tegasnya.

Ia juga meminta pemerintah memastikan bahwa setiap kebijakan pembangunan dilakukan dengan mempertimbangkan kepentingan masyarakat.

“Kami berharap solusi terbaik bisa ditemukan tanpa mengorbankan hak-hak warga,” pungkas Abdullah.[dnl]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK