Pentingnya Menjaga Lisan: Meneladani Ajaran Rasulullah
RELIGI, FAKTANASIONAL.NET - Lisan adalah pintu gerbang amal, baik atau buruknya tindakan sering kali bermula dari kata-kata. Dalam era media sosial dan komunikasi instan, menjaga lidah menjadi semakin krusial—bahkan satu status atau komentar dapat m…
Dengarkan Ringkasan
RELIGI, FAKTANASIONAL.NET - Lisan adalah pintu gerbang amal, baik atau buruknya tindakan sering kali bermula dari kata-kata.
Dalam era media sosial dan komunikasi instan, menjaga lidah menjadi semakin krusial—bahkan satu status atau komentar dapat menimbulkan dampak luas.
Rasulullah ﷺ telah mengingatkan betapa bahaya ucapan sia-sia atau fitnah: “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya ia berkata baik atau diam” (HR. Bukhari dan Muslim).
Berikut beberapa poin refleksi untuk menjaga lisan sesuai sunnah Nabi dalam konteks modern.
- Waspada Gosip dan Fitnah di Era Digital
Media sosial mempermudah penyebaran informasi, namun juga hoaks dan ujaran kebencian. Menahan diri untuk tidak menyebarkan rumor tanpa sumber jelas sejalan dengan ajaran menjaga lisan. Sebelum membagikan, tanyakan: “Apakah bermanfaat? Apakah benar?” Jika jawabnya meragukan, lebih baik diam.
- Berbicara dengan Adab dan Etika Islam
Adab bicara mencakup sopan santun, nada lembut, dan memilih waktu tepat. Dalam QS. Al-Isrâ’ [17]: 53, Allah memerintahkan, “Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik.” Di kantor, rumah, atau komunitas, gunakan kata yang membangun, menghindari sindiran atau ejekan.
- Mengembangkan Kebiasaan Dzikir Mulut
Sederhana, mengucap “Subḥāna llāh”, “Al-ḥamdu lillāh”, “Allāhu Akbar”, dan “Lā ilāha illā llāh” menggantikan perkataan sia-sia. Selain mendapatkan pahala, hati pun terjaga dari pikiran negatif.
- Latih Empati dalam Komunikasi Sehari-hari
Mendengarkan dengan saksama sebelum berbicara, menanyakan kabar orang lain, dan memberi pujian sejati adalah wujud lisan yang menjaga silaturahim. Rasulullah ﷺ senantiasa mengutamakan kelembutan kata, bahkan kepada anak-anak dan hewan.
- Menahan Amarah dengan Kalimat Terbaik
Dalam kondisi marah, biasanya lisan mudah menyinggung perasaan. Ingatlah firman Allah dalam QS. Āli ‘Imrân [3]: 134 tentang orang yang menahan amarah dan memaafkan. Tarik napas, baca “A’ūdzu billāhi minasy-syaitānir rajîm”, kemudian ucapkan kalimat yang menyejukkan.
Menjaga lisan adalah investasi pahala dan keharmonisan sosial. Dengan meneladani Rasulullah ﷺ, setiap kata menjadi amal yang mendekatkan kita kepada Allah dan menjaga kehormatan diri di zaman penuh tantangan.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.