Pergiku
PERGIKU bukan tanda menyerah. Bukan pula akhir dari segala harapan yang pernah kita semai di musim-musim yang kini tinggal kenangan. Aku hanya sedang belajar menerima bahwa tidak semua cinta ditakdirkan untuk saling memiliki. Aku pernah mengetuk pin…
Dengarkan Ringkasan
PERGIKU bukan tanda menyerah. Bukan pula akhir dari segala harapan yang pernah kita semai di musim-musim yang kini tinggal kenangan.
Aku hanya sedang belajar menerima bahwa tidak semua cinta ditakdirkan untuk saling memiliki.
Aku pernah mengetuk pintu hatimu dengan doa-doa yang lirih, menunggu dengan sabar seperti senja yang setia menanti malam.
Namun, ada pintu yang memang tidak pernah diciptakan untuk kubuka, sekeras apa pun aku mengetuknya.
Maka, izinkan aku pergi. Bukan karena cintaku telah habis, melainkan karena aku terlalu mencintaimu untuk terus memaksamu tinggal.
Sebab cinta yang sejati tidak pernah tumbuh dari paksaan. Ia mekar dari kerelaan, dari dua hati yang saling memilih tanpa tekanan.
Aku akan membawa namamu dalam diam, sebagaimana angin membawa harum bunga tanpa pernah meminta bunga itu mengenali arah datangnya.
Barangkali di suatu sudut waktu, kau akan mengingat bahwa pernah ada seseorang yang mencintaimu dengan begitu sederhana: tanpa syarat, tanpa tipu daya, bahkan tanpa meminta balasan.
Jika kelak langkahmu menemukan bahagia bersama orang lain, jangan khawatir tentang aku.
Aku akan tetap mendoakanmu dari kejauhan, sebab doa adalah satu-satunya cara mencintai yang tidak pernah melukai siapa pun.
Dan bila suatu hari kau bertanya mengapa aku memilih pergi, jawabannya sederhana. Aku ingin cintaku tetap indah dalam ingatanmu, bukan berubah menjadi beban yang membuatmu sesak.
Karena terkadang, bentuk cinta yang paling tulus bukanlah bertahan, melainkan melepaskan.
Pergiku bukan tanda menyerah. Ini adalah cara terakhirku mencintaimu—membiarkanmu terbang ke langit yang kau pilih, sementara aku belajar berdamai dengan bumi yang harus kutapaki sendiri.
Sebab mencintai tidak selalu berarti memiliki. Kadang, mencintai berarti mengikhlaskan, lalu diam-diam tetap mendoakan agar kau selalu menemukan cahaya, meski cahaya itu bukan lagi aku.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.