Fakta Nasional

Perguruan Tinggi Didorong Jadi Problem Solver Pembangunan Kawasan Transmigrasi

FAKTANASIONAL.NET — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong perguruan tinggi di Indonesia untuk bertransformasi menjadi problem solver dalam mendukung pembangunan kawasan transmigrasi. Peran aktif kampus ini d…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Jessy Serianda Editor: Redaksi 📍 Nasional Thursday, 30 July 2026 📖 2 menit
Perguruan Tinggi Didorong Jadi Problem Solver Pembangunan Kawasan Transmigrasi
Kemdiktisaintek mendorong kolaborasi perguruan tinggi melalui Konsorsium Perguruan Tinggi untuk menjadi problem solver dalam pembangunan kawasan transmigrasi di Indonesia./Dok. Kemdiktisaintek

FAKTANASIONAL.NET — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong perguruan tinggi di Indonesia untuk bertransformasi menjadi problem solver dalam mendukung pembangunan kawasan transmigrasi.

Peran aktif kampus ini diwujudkan melalui kebijakan Diktisaintek Berdampak guna mempercepat pembangunan daerah dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Hal tersebut ditegaskan oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan dalam acara Pelepasan Tim Ekspedisi Patriot yang diselenggarakan oleh Kementerian Transmigrasi, Rabu (29/7/2026).

"Perguruan tinggi harus menjadi problem solver persoalan-persoalan yang dihadapi oleh bangsa. Saat ini kampus yang hebat adalah kampus yang mampu memberikan makna yang lebih besar dalam kehidupan masyarakat," tegas Fauzan.

Berdasarkan data Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) Oktober 2025 dan Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, Indonesia memiliki 4.416 perguruan tinggi, 303.067 dosen, serta 9.967.487 mahasiswa.

Baca Juga: Menkeu Ungkap Penyebab Realisasi Anggaran Pendidikan 2025 di Bawah 20 Persen

Besarnya potensi sumber daya ini dinilai sebagai modal strategis untuk mendukung percepatan pembangunan berbasis ilmu pengetahuan dan riset.

Kemdiktisaintek mendorong perubahan paradigma perguruan tinggi dari yang semula bekerja mandiri menjadi penguat jejaring kolaborasi.

Salah satu langkah konkretnya adalah pembentukan Konsorsium Perguruan Tinggi (KPT) di berbagai daerah yang melibatkan pemangku kepentingan lewat pendekatan Pentahelix—menggabungkan perguruan tinggi, pemerintah daerah, dunia usaha dan dunia industri (DUDI), masyarakat, serta media.

Model konsorsium ini telah diterapkan di beberapa wilayah, seperti di Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk percepatan penurunan stunting lewat KKN Tematik, di Sulawesi Tengah untuk penanganan tuberkulosis (TBC), serta di Bondowoso untuk pendampingan pertanian organik.

Pendekatan serupa dinilai relevan untuk diterapkan dalam pembangunan kawasan transmigrasi dengan memetakan persoalan spesifik di tiap daerah.

"Perguruan tinggi itu harus menjadi bagian solusi terhadap masalah yang ada di masyarakat. Di suatu kawasan transmigrasi, kampus bisa mengidentifikasi tantangan yang ada di lokasi tersebut. Ketika diperlukan kajian yang lebih spesifik dan treatment yang lebih efektif, maka perguruan tinggi dapat 'memencet tombol' konsorsium yang ada di daerah tersebut," jelas Fauzan.

Langkah ini sejalan dengan arahan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia dalam kerangka Asta Cita, khususnya Asta Cita poin 2 hingga 6, yang menekankan sinergi lintas kementerian/lembaga untuk pemerataan pembangunan melalui penguatan SDM, sains, dan teknologi.

Menindaklanjuti arahan tersebut, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto turut mendorong perguruan tinggi agar hadir sebagai mitra strategis sekaligus asisten pembangunan daerah.

Melalui penguatan Konsorsium Perguruan Tinggi Solusi Kebangsaan, Kemdiktisaintek berkomitmen memastikan Tridarma Perguruan Tinggi memberikan dampak nyata berbasis ilmu pengetahuan untuk mendukung pencapaian Indonesia Emas 2045.

Baca Juga: Menteri PPPA Ajak Perempuan Berperan Aktif Cegah Kasus Kekerasan di Lembaga Pendidikan


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK