Sebagian Wilayah Terdampak Bencana di Sumatera Masih Gelap Gulita
FAKTANASIONAL.NET – Meski proses pemulihan pascabencana di Aceh dan sejumlah wilayah Sumatera diklaim telah mencapai 85 persen, persoalan krisis energi masih menjadi hambatan krusial. Hingga kini, hampir separuh dari wilayah terdampak dilaporkan mas…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET – Meski proses pemulihan pascabencana di Aceh dan sejumlah wilayah Sumatera diklaim telah mencapai 85 persen, persoalan krisis energi masih menjadi hambatan krusial.
Hingga kini, hampir separuh dari wilayah terdampak dilaporkan masih belum teraliri listrik, sebuah kondisi yang dikhawatirkan akan mengganggu kesiapan warga menyambut bulan suci Ramadan.
Kondisi tersebut diungkapkan oleh Anggota Satgas Pemulihan Pascabencana DPR, Teuku Abdul Khalid, dalam rapat koordinasi di Kompleks Parlemen, Senayan, Rabu (18/2/2026).
Baca Juga: Dipimpin Mendagri, Satgas Pascabencana Siapkan Langkah Strategis Pemulihan Wilayah Terdampak
Ia menekankan bahwa listrik adalah urat nadi pemulihan yang tidak bisa ditunda lagi.
Khalid menjelaskan bahwa secara umum upaya normalisasi di berbagai sektor telah menunjukkan perkembangan positif.
Namun, ketimpangan pada infrastruktur dasar, khususnya kelistrikan, menjadi rapor merah yang harus segera dibenahi oleh pemerintah dan PLN.
"Alhamdulillah, kami laporkan bahwa normalisasi sudah berjalan lumayan," ujar Khalid di hadapan forum rapat.
Meskipun angka pemulihan secara total menunjukkan tren naik, Khalid memberikan catatan kritis mengenai data riil di lapangan.
"Kami di lapangan terus catat Case Fatality Rate (CFR) yang ada di lapangan juga memantau 85 persen. Tetapi 45 persen sebagai itu juga belum ada listrik. Yang namanya putaran teras itu adalah listrik," tegas legislator asal Aceh tersebut.
Pemulihan jaringan listrik di wilayah terdampak bukan tanpa kendala.
Satgas DPR mencatat bahwa beratnya medan yang masih tertutup material lumpur tebal serta cuaca yang tidak menentu menjadi faktor utama lambatnya perbaikan instalasi kabel dan gardu.
Selain itu, keterbatasan tenaga teknis di lapangan membuat proses penyambungan kembali arus listrik ke rumah-rumah warga dan fasilitas umum menjadi tersendat.
Khalid mengingatkan bahwa tanpa listrik, aktivitas warga akan lumpuh dan para pengungsi akan kesulitan untuk kembali ke kediaman masing-masing. Terlebih, kebutuhan akan penerangan dan energi meningkat drastis saat memasuki bulan puasa yang tinggal menghitung hari.
Khalid juga menegaskan bahwa pihaknya terus melakukan koordinasi ketat untuk mencari solusi atas keterbatasan tenaga kerja dan beratnya kondisi lapangan.
Pemerintah didorong untuk segera mengerahkan sumber daya tambahan agar target normalisasi 100 persen bisa tercapai sebelum hari pertama Ramadan.
Baca Juga: Didominasi Bencana Hidrometeorologi Basah, BNPB Rilis Data Banjir Sumbawa hingga Longsor Wonosobo
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.