Sebut Tak Transparan, DPPI Makassar Bongkar Kejanggalan Seleksi Paskibraka Nasional Asal Sulsel
FAKTANASIONAL.NET — Polemik seputar seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat nasional perwakilan Sulawesi Selatan (Sulsel) terus menggelinding panas. Hal ini terjadi setelah siswi asal SMAS Cerdas Bangsa Makassar, Cathlyn Yvaine…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET — Polemik seputar seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) tingkat nasional perwakilan Sulawesi Selatan (Sulsel) terus menggelinding panas. Hal ini terjadi setelah siswi asal SMAS Cerdas Bangsa Makassar, Cathlyn Yvaine Lesmana, dikabarkan dicoret dari daftar calon Paskibraka yang akan bertugas di Istana.
Ketua Pelaksana Duta Pancasila Paskibraka Indonesia (DPPI) Kota Makassar, Yusuf A. Bachtiar Mappiare, secara gamblang mengungkit sejumlah kejanggalan dalam proses seleksi tingkat provinsi tersebut yang dinilainya tidak berlangsung terbuka.
"Sistem seleksinya sendiri tidak transparan dan kabupaten/kota lainnya pasti sepakat," ujar Yusuf kepada media, Selasa (26/5/2026).
Baca Juga: Makassar Jadi Primadona Investasi! Badan Gizi Nasional Siapkan Ribuan Lowongan Kerja Lokal
DPPI Makassar Soroti Pengusiran Pendamping hingga Nilai Kepribadian
Yusuf membeberkan beberapa poin krusial yang dianggap menyalahi aturan transparansi seleksi:
-
Pendamping Diusir Tanpa Alasan: Pada hari terakhir seleksi (21 Mei 2026), para pendamping resmi yang mengantongi ID card dilarang masuk ke ruang seleksi tanpa alasan jelas.
-
Kejanggalan Nilai Kepribadian: Tes kepribadian memegang bobot sangat besar, yakni 40 persen dari total nilai. Namun, hasilnya baru diumumkan dua hari setelah tes. "Jadi bisa orang berspekulasi baru diatur nilainya," cetus Yusuf.
-
Tahapan Pantukhir yang Dipaksakan: Yusuf menilai tahapan pantukhir (penentuan akhir) fisik tidak diperlukan lagi jika seluruh akumulasi nilai tes sudah ada. "Harusnya sudah data dan nilai," tambahnya.
Selain itu, Yusuf menyayangkan adanya sentimen internal panitia yang enggan meloloskan perwakilan asal Makassar lagi dengan dalih pemerataan daerah.
"Ada panitia dan pihak sana bilang 'jangan Makassar terus', padahal tidak ada aturan mengatur tersebut. Terpentingkan kualitas dilihat bukan asal daerah. Kalau memang asal daerah dilihat, kenapa diseleksi? Mendingan digilir saja," kritik Yusuf seraya mencontohkan daerah Polman (Sulbar) dan Palu (Sulteng) yang bisa mengirim hingga 3-4 perwakilan karena murni melihat kualitas.
Kesbangpol Sulsel Bantah Keras: Nilai Utusan Lain Jauh Lebih Tinggi
Merespons tudingan miring tersebut, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Sulsel, Bustanul Arifin, langsung angkat bicara. Ia menegaskan seluruh tahapan seleksi telah dilaksanakan secara objektif dan sesuai regulasi baku.
"Dari awal kami pastikan pelaksanaan seleksi utusan kabupaten/kota ke provinsi berjalan objektif dan transparan. Tidak ada titipan, apalagi diskriminasi rasial," tegas Bustanul, Senin (25/5/2026).
Bustanul menjelaskan, penilaian akhir merupakan akumulasi komprehensif dari Tes Wawasan Kebangsaan (PWK), Tes Intelegensi Umum (TIU), kesamaptaan, peraturan baris-berbaris (PBB), keterampilan, hingga kepribadian. Penilaian pun dilakukan langsung oleh tim pusat yang terdiri dari BPIP, DPPI Pusat, TNI, Polri, hingga Sekretariat Militer Presiden (Setmilpres).
Terkait isu etnis Tionghoa yang menyeret nama Cathlyn, Bustanul meminta semua pihak untuk tidak memperkeruh suasana dengan sentimen SARA. Ia mengungkapkan fakta bahwa nilai Cathlyn memang kalah bersaing dengan utusan putri asal Makassar lainnya.
"Yang agak lucu kenapa yang dipersoalkan adalah utusan kota Makassar yang kebetulan etnis Tionghoa. Padahal Kota Makassar mengirim tiga utusan putri, dan dari hasil seleksi utusan putri dari Makassar, utusan yang lain lebih tinggi (nilainya) dari utusan dimaksud (Cathlyn), harusnya yang lebih tinggi nilainya itu yang diperjuangkan," kata Bustanul.
Bustanul juga menantang pihak-pihak yang menyebut ada penganuliran sepihak untuk membuktikan ucapan mereka.
"Tidak ada menganulir sepihak atau penggantian. Logikanya kalau ada anggapan menganulir pengumuman atau ada penggantian, harusnya ada pengumuman awal dan diganti dengan pengumuman baru, tunjukkan ke saya mana pengumuman yang dianulir atau diganti tersebut," pungkasnya.
Meski dipastikan tidak melenggang ke tingkat nasional di Istana, Cathlyn Yvaine Lesmana dipastikan tetap akan bertugas sebagai anggota Paskibraka tingkat Provinsi Sulawesi Selatan pada Agustus mendatang.
Baca Juga: PSM Makassar vs PSBS Biak di Pekan ke-19 BRI Liga 1 2024/2025: Laga Seru yang Layak Ditunggu
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.