Sejarah 10 Sanghyang Tanah Jawa: Berbeda Ibu, Diusir, Hingga Menjadi Penguasa Alam Kalimantan
FAKTANASIONAL.NET – Kisah mengenai para Sanghyang dalam sejarah tanah Jawa menyimpan cerita tentang pergantian kepemimpinan, konflik, hingga perjalanan spiritual. Dalam sebuah riwayat yang beredar, awalnya terdapat 10 Sanghyang yang disebut sebagai…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET – Kisah mengenai para Sanghyang dalam sejarah tanah Jawa menyimpan cerita tentang pergantian kepemimpinan, konflik, hingga perjalanan spiritual.
Dalam sebuah riwayat yang beredar, awalnya terdapat 10 Sanghyang yang disebut sebagai saudara, meski berasal dari ibu yang berbeda.
Keberadaan para Sanghyang tersebut kemudian mengalami perubahan setelah Sanghyang Burung diusir ke Pulau Kalimantan.
Peristiwa itu membuat jumlah Sanghyang yang berada dalam rangkaian kisah kepemimpinan tanah Jawa disebut tersisa delapan.
Kepemimpinan tanah Jawa pada awalnya dipercayakan kepada Ratu Pantai Selatan atau Cikidul.
Namun, mandat itu kemudian dicabut oleh ayahnya setelah kepemimpinannya dinilai menimbulkan kekacauan dan pertumpahan darah.
Setelah kepemimpinan Ratu Pantai Selatan berakhir, tanggung jawab tersebut disebut diberikan kepada Pangeran Ismoyo yang lebih dikenal dengan nama Semar.
Namun, Pangeran Ismoyo memilih meninggalkan tanggung jawab kepemimpinan tersebut.
Ia kemudian menempuh perjalanan spiritual dengan mendalami ajaran leluhur di wilayah Himalaya.
Pergantian kepemimpinan selanjutnya mengarah kepada Asta Dewa. Dalam kisah tersebut, Asta Dewa pada mulanya disebut enggan menerima amanah karena telah memiliki jabatan di puncak Gunung Semeru.
Daftar Sanghyang dalam Riwayat
Riwayat yang beredar mencatat sejumlah nama yang disebut sebagai bagian dari jajaran Sanghyang. Nama-nama tersebut adalah:
1. Sanghyang Burung 2. Sanghyang Asta Dewa 3. Sanghyang Baruna 4. Sanghyang Lodaya 5. Sanghyang Braja Dharma 6. Sanghyang Agni Bagaswara 7. Sanghyang Antari Kusuma 8. Sanghyang Anan Jaya atau Anoman 9. Sanghyang Ananta Sena 10. Sanghyang Surya Diva Sekha
Rangkaian cerita tersebut menggambarkan sebuah tradisi naratif mengenai asal-usul, pergantian kepemimpinan, serta perjalanan para tokoh yang disebut Sanghyang. [dit]Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.