Studi Terbaru: Konsumsi Kedelai dan Kacang-kacangan Ampuh Turunkan Risiko Darah Tinggi, Ini Takaran Idealnya
FAKTANASIONAL.NET — Kabar baik bagi pencinta panganan lokal seperti tahu, tempe, dan kacang-kacangan. Sebuah penelitian terbaru yang dimuat dalam jurnal BMJ Nutrition Prevention & Health mengungkapkan bahwa mengonsumsi makanan nabati, khususnya…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET — Kabar baik bagi pencinta panganan lokal seperti tahu, tempe, dan kacang-kacangan. Sebuah penelitian terbaru yang dimuat dalam jurnal BMJ Nutrition Prevention & Health mengungkapkan bahwa mengonsumsi makanan nabati, khususnya kedelai dan legumes (sejenis kacang-kacangan), terbukti ampuh membantu menurunkan risiko tekanan darah tinggi atau hipertensi.
Dalam penelitian yang berbasis tinjauan sistematis dan meta-analisis terhadap 12 studi kohort prospektif tersebut, para peneliti menemukan korelasi kuat antara konsumsi rutin komoditas ini dengan penurunan potensi hipertensi secara signifikan.
"Dalam meta-analisis terhadap 12 studi kohort prospektif ini, konsumsi kacang-kacangan dan kedelai dikaitkan dengan risiko hipertensi yang lebih rendah," tulis tim peneliti, dilansir dari laman BMJ Journals, Selasa (26/5).
Baca Juga: Dolar Menguat, Mentan Amran: Ekonomi Desa Tetap Tangguh Ditopang Sektor Pertanian
Takaran Harian untuk Hasil Maksimal
Meski berkhasiat tinggi, para peneliti menggarisbawahi bahwa konsumsi makanan nabati ini harus berada dalam takaran atau porsi harian yang pas agar manfaatnya bagi tubuh bisa optimal.
Melansir data dari SciTechDaily, berikut adalah rincian porsi harian yang direkomendasikan berdasarkan hasil analisis:
-
Legumes (Kacang polong, lentil, buncis, dll): Manfaat terbesar didapatkan dari konsumsi sekitar 170 gram per hari. Kelompok dengan asupan tertinggi di porsi ini berhasil memangkas risiko darah tinggi hingga 30 persen lebih stabil dibandingkan mereka yang jarang mengonsumsinya.
-
Produk Kedelai (Tahu, tempe, edamame, susu kedelai, miso): Manfaat terbaik muncul pada tingkat konsumsi yang lebih sedikit, yaitu berkisar 60 hingga 80 gram per hari. Konsumsi pada takaran ini dikaitkan dengan penurunan risiko hipertensi sebesar 28 hingga 29 persen.
Alasan Ilmiah di Balik Manfaat Kedelai dan Kacang-kacangan
Secara biologis, terdapat alasan kuat mengapa kelompok pangan ini sangat baik untuk sistem kardiovaskular manusia. Tim peneliti menggunakan kriteria penilaian bukti dari World Cancer Research Fund untuk menyimpulkan adanya hubungan sebab-akibat yang nyata.
Pertama, kacang-kacangan dan kedelai sangat kaya akan nutrisi mikro penting seperti kalium dan magnesium, serta memiliki kandungan serat makanan yang tinggi. Kombinasi zat gizi ini sudah lama dikenal medis mampu mengontrol tekanan darah.
Kedua, proses fermentasi serat larut dari kacang-kacangan di dalam tubuh akan menghasilkan asam lemak rantai pendek. Zat inilah yang merangsang dinding pembuluh darah menjadi lebih rileks dan elastis. Khusus untuk kedelai, terdapat senyawa aktif bernama isoflavon yang memberikan proteksi atau efek tambahan dalam menurunkan tekanan darah.
Implikasi bagi Kesehatan Global
Penelitian komprehensif ini dilakukan dengan meninjau berbagai studi observasional yang diterbitkan hingga Juni 2025, dengan melibatkan total peserta berkisar antara 1.152 hingga 88.475 orang yang tersebar di wilayah Amerika Serikat, Asia, dan Eropa.
Para penulis mengakui adanya beberapa batasan dalam analisis, seperti perbedaan metode penyiapan makanan di tiap negara dan variasi jenis kacang-kacangan. Namun, temuan ini dinilai sangat krusial mengingat angka kasus hipertensi di tingkat global terus meroket tajam.
Sebagai perbandingan, konsumsi kacang-kacangan masyarakat di Eropa dan Inggris saat ini tergolong sangat rendah, hanya 8 sampai 15 gram per hari—jauh di bawah batas rekomendasi kesehatan jantung sebesar 65 hingga 100 gram per hari.
"Hasil penelitian ini memberikan bukti tambahan yang mendukung rekomendasi gizi pada masyarakat agar memprioritaskan dan memasukkan kacang-kacangan, serta makanan berbahan dasar kedelai sebagai sumber protein sehat dalam pola makan," pungkas tim peneliti.
Baca Juga: Mentan Tegaskan Impor Gandum dan Kedelai AS Jadi Prioritas
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.