Fakta Nasional

Superiority Complex Menjadi Awal Seseorang Suka Merendahkan Orang Lain

FAKTANASIONAL.NET - Pernahkah Anda bertemu dengan seseorang yang selalu merendahkan orang lain dan abai terhadap masukan siapapun meskipun benar? Dalam dunia psikologi, fenomena ini dikenal sebagai superiority complex. Ini adalah suatu kondisi peril…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Wednesday, 17 June 2026 📖 1 menit
Superiority Complex Menjadi Awal Seseorang Suka Merendahkan Orang Lain
Superiority Complex Menjadi Awal Seseorang Suka Merendahkan Orang Lain /(Foto: Pixabay)

FAKTANASIONAL.NET - Pernahkah Anda bertemu dengan seseorang yang selalu merendahkan orang lain dan abai terhadap masukan siapapun meskipun benar?

Dalam dunia psikologi, fenomena ini dikenal sebagai superiority complex. Ini adalah suatu kondisi perilaku di mana seorang individu merasa dirinya jauh lebih unggul dibandingkan lingkungan sekitarnya, meskipun realitas yang ada justru bertolak belakang.

Menurut pencetus awal konsep ini, psikolog legendaris Alfred Adler, perilaku superiority complex sebenarnya hanyalah sebuah mekanisme pertahanan ego.

Seseorang sengaja menciptakan ilusi kehebatan demi menutupi rasa rendah diri (inferiority complex) serta rentetan kegagalan yang mendalam.

Menukil informasi dari laman kesehatan Alodokter, pengidap kondisi ini kerap menunjukkan karakteristik spesifik yang merugikan relasi sosial.

Mereka cenderung menilai harga dirinya paling tinggi, melebih-lebihkan bakat lewat kebohongan, hingga enggan mendengarkan opini orang lain.

Tidak jarang, mereka juga nekat melakukan perundungan (bullying) atau mengabaikan orang yang jelas-jelas lebih kompeten.

Sikap arogan ini muncul secara tidak sadar sebagai tameng instan saat mereka merasa tidak aman (insecure) terhadap kekurangan diri sendiri.

Meskipun belum dikategorikan sebagai diagnosis gangguan mental resmi, pola defensif ini disinyalir kuat berakar dari respons traumatik terhadap kegagalan yang dialami sejak usia dini.

Jika terus dibiarkan, kebiasaan toksik ini berisiko memicu isolasi sosial, keretakan hubungan asmara, hingga komplikasi psikologis berat seperti depresi dan gangguan kecemasan. Oleh sebab itu, pemulihan harus diinisiasi lewat kejujuran personal yang mendalam.

Langkah awal dapat dimulai dengan belajar menerima ketidaksempurnaan dan berhenti membandingkan pencapaian pribadi dengan orang lain.

Mengakui kelebihan sesama tanpa merasa terancam merupakan kunci utama dalam membangun empati yang sehat.

Namun, apabila pola perilaku ini sudah mendarah daging dan sulit diubah secara mandiri, berkonsultasi dengan psikolog profesional adalah solusi terbaik untuk mengurai akar masalahnya.[dit]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK