Tanah Kalimantan Retak Mirip Afrika, Pakar IPB Ungkap Penyebab dan Fakta Sebenarnya
FAKTNASIONAL.NET - Retakan tanah yang muncul di Dusun Limus, Kalimantan Barat, menjadi perhatian karena bentuknya menyerupai permukaan tanah di kawasan kering Afrika. Meski demikian, fenomena tersebut tidak dapat langsung diartikan sebagai tanda bah…
Dengarkan Ringkasan
FAKTNASIONAL.NET - Retakan tanah yang muncul di Dusun Limus, Kalimantan Barat, menjadi perhatian karena bentuknya menyerupai permukaan tanah di kawasan kering Afrika.
Meski demikian, fenomena tersebut tidak dapat langsung diartikan sebagai tanda bahwa Kalimantan mulai berubah menjadi gurun.
Guru Besar Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian IPB University, Prof Widiatmaka, menjelaskan bahwa retakan dapat terbentuk secara alami ketika tanah atau endapan lumpur kehilangan air dan mengalami penyusutan.
Dikutip dari detikInet, Kamis (8/10/2026), ia menerangkan bahwa kondisi tersebut umumnya terjadi pada material yang mengandung liat. Saat air berkurang, material menyusut. Tekanan yang tertahan oleh lapisan di bawahnya atau material di sekitarnya kemudian memicu terbentuknya retakan di permukaan.
"Yang paling umum adalah pengeringan tanah atau endapan lumpur yang mengandung liat. Saat kehilangan air, material tersebut menyusut, sementara penyusutannya tertahan oleh lapisan di bawah atau material di sekitarnya. Tegangan yang muncul kemudian membuat permukaan pecah membentuk pola retakan," jelasnya seperti dikutip dari situs IPB University.
Menurut Widiatmaka, proses pengeringan tanah dapat dipengaruhi sejumlah faktor. Di antaranya berkurangnya curah hujan, tingginya penguapan, surutnya genangan, serta perubahan sistem drainase. Penurunan atau pergerakan tanah juga dapat berkaitan dengan munculnya retakan.
Untuk kejadian di Dusun Limus, dugaan awal yang masuk akal adalah tanah atau endapan lumpur kehilangan air sehingga menyusut. Namun, penyebab pastinya belum dapat ditentukan tanpa pemeriksaan langsung di lapangan.
"Belum dapat dipastikan apakah pengeringan itu terutama akibat cuaca kering, surutnya genangan, atau perubahan tata air dan penggunaan lahan," ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa aktivitas manusia, seperti pembukaan lahan, perubahan drainase, pengambilan air, dan pertambangan, berpotensi memengaruhi kondisi tata air. Meski begitu, keterlibatan aktivitas tersebut dalam kasus ini belum terbukti.
Widiatmaka menegaskan, kemiripan pola retakan di Kalimantan dengan kawasan kering Afrika tidak membuktikan bahwa kedua wilayah memiliki kondisi lingkungan dan penyebab yang sama.
"Lebih tepat menyebutnya menyerupai tanah retak di kawasan kering Afrika, bukan bukti bahwa lahan di Kalimantan telah berubah menjadi gurun," tegasnya.
Menurutnya, kekeringan dan perubahan iklim masih perlu dikaji berdasarkan data lapangan serta riwayat hujan untuk mengetahui kontribusinya terhadap fenomena tersebut.
Retakan tanah juga tidak selalu menandakan ancaman lingkungan yang serius. Namun, penelitian lebih lanjut diperlukan jika retakan terus berulang, meluas, disertai penurunan permukaan tanah, kematian vegetasi, atau berkurangnya sumber air.
"Retakan saja belum cukup untuk menyimpulkan adanya ancaman serius. Kondisi tanah, air, dan penggunaan lahannya perlu diperiksa terlebih dahulu," pungkasnya.[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.