Fakta Nasional

Teknologi Diri Dari Michel Foucault: Cara Saya Merebut Kembali Kuasa Atas Jiwa

FAKTANASIONAL.NET - Malam ini, di depan redup layar smartphone dan keheningan yang sesekali dipecahkan oleh suara hewan di malam hari, saya terdiam sejenak. Pikiran saya melayang, menjauh dari rutinitas harian yang menuntut kecepatan, mengejar tengg…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Aditya Editor: Redaksi 📍 Nasional Friday, 10 April 2026 📖 9 menit
Teknologi Diri Dari Michel Foucault: Cara Saya Merebut Kembali Kuasa Atas Jiwa
Teknologi Diri Dari Michel Foucault: Cara Saya Merebut Kembali Kuasa Atas Jiwa/(instagram)
) -->

FAKTANASIONAL.NET - Malam ini, di depan redup layar smartphone dan keheningan yang sesekali dipecahkan oleh suara hewan di malam hari, saya terdiam sejenak.

Pikiran saya melayang, menjauh dari rutinitas harian yang menuntut kecepatan, mengejar tenggat waktu, meracik referensi untuk berita Indonesia yang tak pernah sepi dari intrik, hingga mendalami ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang seolah tak berujung.

Ada kelelahan mental yang diam-diam menumpuk. Kelelahan yang tidak bisa diselesaikan sekadar dengan tidur atau pelarian sesaat.

Dalam pencarian akan ketenangan rumus hidup untuk menstabilkan emosi di tengah tuntutan pekerjaan, tiba-tiba perhatian saya tertuju pada sosok Michel Foucault.

Ia adalah seorang filsuf, sejarawan ide, dan pemikir strukturalis asal Prancis yang mungkin bagi sebagian orang terdengar eksentrik, namun bagi saya malam ini, pemikirannya adalah jendela yang baru saja didobrak dari dinding buntu pikiran saya sendiri.

Tulisan ini adalah sebuah catatan jiwa yang saya tulis bukan untuk mengejar traffic atau clickbait, melainkan untuk membedah isi kepala saya sendiri melalui kacamata Foucault.

Tidak untuk menghakimi, menilai orang lain, ataupun menyinggung orang lain, hanya semata-mata ingin intropeksi diri saya sendiri dan menyuarakan tentang trend hari ini tentang "Tidak Bercerita" Yang membuat banyak orang mengklaim bahwa yang kuat itu tidak pernah bercerita, sehingga membuat ketitik intinya seseorang tidak ingin bercerita dan mengakhiri hidup menjadi pandangan sebuah keheroikan di akhir kehidupan nya,

Bagi saya itu kebodohan yang sangat besar, percayalah harus diketahui, lekatkan pada dirimu, saat engkau mati itu tidak menghilangkan masalah mu, malah akan menambah masalahmu di alam berikut nya, kau akan diminta pertanggungjawaban atas keputusan mu untuk mengakhiri hidup sedangkan engkau tidak mencoba datang kepada Tuhan di malam hari, Neraka mutlak lah tempat mu.

Mari kita telusuri bagaimana konsep-konsep gagasannya tentang kegilaan, relasi kuasa, dan "teknologi diri" bisa menjadi peta jalan untuk merawat kesehatan mental kita di era modern ini.

Mendefinisikan Ulang "Sakit" dan Konstruksi Kewarasan

Sering kali, ketika kita merasa penat, cemas, atau burnout akibat rentetan informasi tanpa henti, kita buru-buru melabeli diri kita dengan diagnosis tertentu.

Foucault mengajak kita untuk membongkar kembali konsep tentang "sakit". Dalam kajian filsafat medis, terdapat tiga lapis penderitaan: Disease (penyakit objektif pada tubuh fisik, seperti memar atau virus), Illness (pengalaman subjektif kita terhadap rasa sakit tersebut), dan Sickness (konsep, teori, dan kesepakatan sosial tentang apa itu "sakit").

Foucault menitikberatkan perhatiannya pada ranah ketiga: Sickness. Baginya, definisi sehat atau sakit, waras atau gila, sering kali bukanlah sebuah realitas objektif, melainkan sebuah konstruksi sosial.

Ini adalah hasil kesepakatan (intersubjektivitas) yang diciptakan oleh mereka yang memiliki otoritas atau kekuasaan dalam hal ini, institusi medis, psikiater, hingga norma mayoritas masyarakat.

Ketika saya menatap layar dan merasa "berbeda" atau tidak mampu mengikuti ritme dunia yang serba cepat ini, masyarakat modern dengan mudah memvonis bahwa ada yang kesalahan dalam diri saya.

Namun dari sudut pandang Foucault menyebut fenomena ini sebagai medikalisasi. Segala sesuatu yang menyimpang dari standar mayoritas tiba-tiba dikategorikan sebagai masalah medis.

Jika kita tidak produktif, jika kita butuh waktu untuk diam dan menarik diri, kita dianggap "sakit" dan harus segera "disembuhkan" agar kembali bisa berfungsi sebagai roda penggerak industri kapitalis.

Dalam bukunya History of Madness, Foucault membuktikan bahwa standar kenormalan ini berubah-ubah sepanjang sejarah.

Pada era klasik, orang yang bertingkah laku aneh atau di luar nalar tidak serta merta dikurung; mereka kerap dianggap memiliki pengalaman spiritual khusus, bahkan dianggap mendapat anugerah.

Masuk ke abad ke-17, muncul Great Confinement (pengurungan besar-besaran), di mana mereka yang dianggap "gila", bersama dengan para pengemis dan pengangguran, diisolasi.

Alasannya bukan medis, melainkan murni ekonomi: mereka dianggap tidak produktif dan membebani masyarakat. Barulah pada abad ke-18 dan ke-19, pendekatan medis mulai mendominasi, dan "kegilaan" resmi dilabeli sebagai penyakit jiwa yang harus didisiplinkan.

Menyadari hal ini memberikan saya sebuah kelegaan yang aneh. Terkadang, perasaan tidak baik-baik saja yang saya alami bukanlah sebuah kecacatan mental, melainkan respons yang sangat manusiawi terhadap dunia yang memang berjalan terlalu cepat.

Standar "normal" yang selama ini membebani pundak saya—harus selalu up-to-date, harus selalu produktif meracik SEO, harus selalu relevan—hanyalah standar artifisial yang diciptakan oleh zaman.

Jika saya merasa aneh, mungkin saya hanya sedang menolak untuk tunduk pada narasi "normal" tersebut.

Relasi Kuasa yang Tak Terlihat

Mengapa kita begitu patuh pada standar-standar kenormalan itu? Jawabannya, menurut Foucault, terletak pada Relasi Kuasa (Power Relations).

Kekuasaan dalam pandangan Foucault bukanlah sesuatu yang hanya dipegang oleh raja, presiden, atau pemerintah.

Kekuasaan itu menyebar, mengalir, dan bekerja di setiap celah kehidupan kita: di ruang redaksi, di kolom komentar media sosial, di sekolah, di rumah sakit, bahkan di dalam pikiran kita sendiri.

Kekuasaan memproduksi pengetahuan, dan pengetahuan memperkuat kekuasaan (Power is Knowledge).

Institusi yang memiliki kuasa berhak memproduksi "pengetahuan" tentang apa yang disebut waras, sukses, atau ideal.

Dalam keseharian saya, kekuasaan ini mengambil wujud yang sangat halus namun mencengkeram.

Saya teringat konsep Foucault tentang Panopticon—sebuah desain penjara berbentuk menara bundar di mana para tahanan merasa diawasi setiap saat oleh penjaga di tengah menara, meskipun mereka tidak tahu apakah penjaga itu benar-benar sedang melihat mereka atau tidak. Akibatnya? Para tahanan mendisiplinkan diri mereka sendiri.

Dunia digital modern adalah Panopticon raksasa. Sebagai seseorang yang bekerja di media daring, saya (dan kita semua) hidup dengan perasaan terus-menerus diawasi.

Diawasi oleh algoritma, diawasi oleh netizen, diawasi oleh standar viralitas. Kita menyensor tulisan kita, mengatur gerak-gerik kita, memilah minat kita—bahkan ketika saya sekadar ingin menikmati berita transfer pemain sepak bola atau mencari hiburan dari dunia K-Pop—kita selalu berpikir: "Apa kata orang nanti? Apakah ini pantas? Apakah ini normal?"

Kita patuh secara permanen. Tanpa sadar, otoritas eksternal itu telah merasuk ke dalam kepala kita. Kita menghakimi diri kita sendiri dengan suara dan standar orang lain. Itulah yang sering kali membuat kita overthinking, cemas, dan kehilangan ketenangan. Kita teralienasi dari diri kita yang otentik karena kita sibuk menjadi "normal" versi kesepakatan sosial (atau versi New Normal yang dipaksakan).

Teknologi Diri (Technology of the Self) sebagai Jalan Pembebasan

Jika kekuasaan begitu absolut mengepung kita, lantas bagaimana kita bisa bernapas? Di masa-masa akhir hidupnya, Foucault menawarkan sebuah jalan keluar yang ia sebut sebagai Technology of the Self (Teknologi Diri).

Jika selama ini kita hanya mengenal teknologi untuk memproduksi barang (produksi), memanipulasi simbol (sistem tanda), atau mengontrol orang lain (kekuasaan), kita sering melupakan teknologi yang paling esensial: seni mengarahkan dan membentuk diri kita sendiri untuk mencapai kebijaksanaan, kebahagiaan, dan ketenangan.

Foucault merumuskan empat langkah praktis dari tradisi Yunani kuno dan spiritualitas awal untuk memodifikasi diri kita agar tidak mudah hancur oleh tekanan kuasa eksternal:

1. Kewaspadaan dan Penulisan (Vigilance and Writing)

Langkah pertama menuju ketenangan mental adalah mengenali dan mengawasi pikiran kita sendiri.

Pikiran yang dibiarkan liar akan mudah disetir oleh kepanikan massa atau tuntutan algoritma. Kita harus senantiasa awas: Apa yang sedang saya rasakan saat ini? Mengapa saya marah melihat berita ini? Mengapa saya merasa tertekan hari ini?

Pengawasan ini menjadi jauh lebih efektif ketika diwujudkan dalam bentuk tulisan (hypomnemata). Menulis untuk diri sendiri. Sebagai penulis, saya terbiasa memproduksi ribuan kata untuk dibaca publik.

Namun, menulis jurnal pribadi adalah hal yang berbeda. Di sini, tidak ada target keyword, tidak ada pembaca yang harus dipuaskan.

Menulis jurnal adalah cara kita mengobjektifikasi pikiran kita sendiri yang kusut, memindahkannya dari benak ke atas kertas (atau layar), dan melihat pola-pola bagaimana kekuasaan orang lain memengaruhi kita.

2. Diam dan Mendengarkan (Silence and Listening)

Dalam budaya masa kini yang serba reaktif—di mana semua orang berlomba-lomba memberikan komentar, mengunggah opini, dan menjadi yang paling pertama merespons isu politik atau tren teknologi terbaru—diam adalah bentuk perlawanan yang radikal.

Foucault mengingatkan bahwa melatih kemampuan untuk mendengarkan secara pasif dan kritis adalah kunci. Ketika kita diam, kita menolak untuk ditelan oleh wacana orang lain. Diam berarti kita mengambil jeda untuk merefleksikan diri, menjaga jarak agar tidak terseret arus emosi kolektif.

Dengan mendengarkan (bukan sekadar menunggu giliran untuk berbicara), kita membuka ruang dialog dan empati, sekaligus menciptakan batasan (otonomi) bahwa:

"Aku adalah aku, dan aku tidak harus bereaksi terhadap segala hal yang kau lemparkan padaku."

- Michel Foucault.

Kata Ini mengajarkan kita bahwa suka atau tidak nya orang lain dengan apa yang kita lakukan dalam hidup tidak membuat mereka berhak menyetir arah kehidupan kita.

Saat kau tak disukai, harus kau tahu saat itu pulalah kau sedang diperhitungkan, yang berarti kau.

Saat kau disukai tidak pula membuat keangkuhan dalam diri, atau membuat dirimu tunduk, sehingga takut membuat orang yang sudah menyukai mu menjadi tidak suka. Jadilah dirimu apa adanya!

3. Askesis (Tirakat/Latihan Disiplin)

Askesis adalah praktik pendisiplinan tubuh dan jiwa untuk mencapai transformasi diri. Di masa lalu, ini berarti menarik diri dari kenikmatan duniawi untuk mencari kebenaran.

Dalam konteks modern, askesis bisa diterjemahkan sebagai latihan-latihan kecil untuk memerdekakan diri dari ketergantungan pada penilaian eksternal.

Bagi saya, ini bisa berbentuk puasa media sosial di akhir pekan, atau secara khusyuk mendirikan Solat tanpa memikirkan notifikasi ponsel yang menyala di sudut ruangan.

Ini adalah bentuk uzlah (menarik diri) sementara waktu, memusatkan kembali poros kehidupan kita bukan pada tuntutan bos atau ekspektasi netizen, melainkan pada kedamaian internal. Latihan-latihan yang mungkin terasa berat di awal ini pada akhirnya akan menciptakan otonomi diri yang kokoh.

4. Pengakuan dan Pengungkapan Diri (Confession and Self-Disclosure)

Teknologi diri yang terakhir adalah keberanian untuk mengakui kerapuhan dan kesalahan. Kekuasaan sering kali memaksa kita memakai topeng kesempurnaan. Kita dituntut untuk selalu kuat, rasional, dan tanpa cela. Padahal, memendam kelemahan adalah sumber utama dari gangguan kecemasan.

Mengungkapkan diri apa adanya—baik kepada Tuhan dalam doa, kepada profesional (psikolog/psikiater), atau sekadar mengakui pada diri sendiri di dalam jurnal—adalah proses melepaskan beban sejarah kita.

Dengan mengakui "Ya, saya lelah," atau "Ya, saya merasa gagal di bagian ini," kita sebenarnya sedang mentransformasi diri kita menjadi lebih baik, sekaligus mendeklarasikan kebebasan bahwa kita berhak untuk menjadi manusiawi.

Merayakan Ketidaknormalan yang Otentik

Menuliskan semua ini, merefleksikan gagasan-gagasan Michel Foucault hingga menyentuh dasar kesadaran saya, membuat malam terasa sedikit lebih ringan.

Foucault tidak pernah mengklaim dirinya sebagai nabi yang membawa kebenaran mutlak. Ia hanya menyebut dirinya sebagai "pembuat jendela" bagi dinding-dinding kokoh yang memenjarakan pikiran kita.

Bagi saya, jendela itu kini terbuka. Ia memperlihatkan pemandangan bahwa banyak dari kecemasan mental yang saya alami bukanlah kelemahan personal, melainkan benturan antara diri saya yang otentik dengan struktur kekuasaan sosial yang terus-menerus mendikte definisi "pantas".

Jika berada di luar standar mayoritas membuat saya dilabeli "tidak pantas", maka biarlah. Saya akan merengkuh new normal versi saya sendiri. Saya tidak perlu menghabiskan sisa hidup saya untuk menyenangkan mata Panopticon yang tak berwajah itu.

"Do not ask who I am and do not ask me to remain the same," tulis Foucault. Jangan tanyakan siapa saya, dan jangan tuntut saya untuk terus menjadi orang yang sama seperti anda.

Kita adalah entitas yang terus mengalir, bertransformasi, dan belajar. Ketenangan sejati tidak datang dari upaya mati-matian untuk menyesuaikan diri dengan cetakan dunia yang bising ini.

Ketenangan datang ketika kita berani menggunakan teknologi diri kita: mengawasi batin kita, berani untuk diam, melatih ketangguhan spiritual, dan jujur pada kerapuhan kita sendiri.

Malam ini, biarlah dunia dengan segala tuntutan beritanya berputar di luar sana. Di dalam sini, melalui tulisan ini, saya mengambil kembali kuasa atas kewarasan saya sendiri.

Salam dari saya Aditya Faqihhurahman dari FAKTANASIONAL.NET

"Soal Pendidikan, Sertifikat gelar mungkin saya tak punya, walapun mungkin bisa saya beli, tapi soal pengalaman kepahitan dan manisnya kehidupan boleh diadu."

"Duduklah dengan Saya Jika Ingin Mengenal Lebih Jauh, Menyala Kakanda."

- Aditya Faqihhurahman. [dit]


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK