Tolak Dokumenter Pesta Babi, KNPI Kalsel Justru Dirujak Netizen
FAKTANASIONAL.NET - Langkah Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kalimantan Selatan (Kalsel) menolak film dokumenter Pesta Babi memicu gelombang protes berskala besar di media sosial. Alih-alih mendulang simpati, sikap ini mendatangkan hujatan ta…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET - Langkah Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kalimantan Selatan (Kalsel) menolak film dokumenter Pesta Babi memicu gelombang protes berskala besar di media sosial.
Alih-alih mendulang simpati, sikap ini mendatangkan hujatan tajam. Seperti dilansir dari berbagai sumber pemberitaan, publik memandang langkah organisasi kepemudaan tersebut terlalu reaktif, anti-diskusi, dan memberangus kebebasan berekspresi di ruang publik.
Dilansir pada 11 Mei, Kontroversi ini bermula ketika akun resmi KNPI Kalsel mengunggah pernyataan tegas terkait penolakan tayangan dokumenter tersebut.
Dalam narasinya, mereka melabeli film itu sebagai wujud “kolonialisme di zaman sekarang” yang berisiko memecah belah persatuan dan memperkeruh toleransi.
Sayangnya, argumen tersebut dimentahkan secara telak oleh netizen. Pengguna Instagram @cecefdjadoel terang-terangan mempertanyakan legitimasi organisasi itu. “Mewakili pemuda yang mana?
Yang anti dialektika, transaksional, fasis dan imperialis?” tulisnya, sembari menantang pemahaman KNPI soal konsep kebebasan berpendapat.
Senada dengan hal itu, akun @adedae melontarkan sindiran menohok, “Seharusnya sekelas KNPI malu memposting seperti ini.”
Ratusan komentar bernada serupa terus membanjiri laman Instagram KNPI Kalsel, menyoroti ketidakmampuan mereka merespons sebuah karya dengan bijak.
Ironisnya, dokumenter Pesta Babi sejatinya adalah rekam jejak kekayaan tradisi nusantara yang otentik. Visual tersebut membedah makna terdalam dari ritual adat, mulai dari gotong royong, penghormatan leluhur, hingga simbol komunal, terutama di wilayah Papua.
Dalam tradisi tersebut, babi memiliki nilai luhur sebagai medium perdamaian antarsuku dan lambang status sosial, bukan sekadar hewan ternak.
Karya ini murni dirancang sebagai medium edukasi agar generasi modern memahami akar keberagaman Indonesia. Buntut dari polemik ini, wacana publik mengenai batas kritik seni semakin memanas.
Masyarakat menilai silang pendapat idealnya dibalas lewat ruang diskusi berbasis data, bukan seruan pelarangan.
Pada akhirnya, manuver KNPI Kalsel justru menjadi bumerang yang membuat dokumenter Pesta Babi kian populer dan memancing sebuah pertanyaan kritis: benarkah harmoni masyarakat sedang dilindungi, atau publik justru dijauhkan dari pemahaman budaya bangsanya sendiri?[dit]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.