Fakta Nasional

Tradisi Meugang di Banda Aceh: Harga Daging Premium Tembus Rp200 Ribu, Antusiasme Warga Tak Surut

FAKTANASIONAL.NET – Semarak menyambut Ramadan 1447 Hijriah di Serambi Mekkah mulai terasa seiring dengan pelaksanaan tradisi Meugang . Di sejumlah pasar tradisional di Banda Aceh, harga daging sapi dan kerbau melonjak hingga menyentuh angka Rp200.00…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: admin Editor: Redaksi 📍 Nasional Wednesday, 18 February 2026 📖 1 menit
Tradisi Meugang di Banda Aceh: Harga Daging Premium Tembus Rp200 Ribu, Antusiasme Warga Tak Surut
Penjual daging meugang di Pasar Al-Mahirah, Lamdingin, Banda Aceh. (Dok. Website/rmol.id)
) -->

FAKTANASIONAL.NET – Semarak menyambut Ramadan 1447 Hijriah di Serambi Mekkah mulai terasa seiring dengan pelaksanaan tradisi Meugang. Di sejumlah pasar tradisional di Banda Aceh, harga daging sapi dan kerbau melonjak hingga menyentuh angka Rp200.000 per kilogram untuk kualitas terbaik pada Selasa (17/2/2026).

Meskipun harga merangkak naik, kerumunan warga tetap memadati lapak-lapak pedagang sejak pagi buta. Hal ini membuktikan bahwa Meugang bukan sekadar urusan perut, melainkan warisan budaya yang tak tergoyahkan oleh dinamika harga pasar.

Variasi Harga Berdasarkan Kualitas

Melansir dari rmol.id Para pedagang di pasar menetapkan harga yang beragam tergantung pada jenis dan bagian daging yang dipilih oleh konsumen. Muksal, salah seorang pedagang daging, menjelaskan bahwa segmentasi harga ini dilakukan untuk memberikan pilihan kepada masyarakat.

"Saat ini harga daging bervariasi sesuai kualitas. Sementara harga daging kualitas nomor dua dijual seharga Rp180 ribu per kg, jeroan Rp150 ribu per kg, hati Rp130 ribu per kg, dan tulangan Rp100 ribu per kg," ujar Muksal.

Daging kualitas premium (Grade A) yang mencapai Rp200 ribu per kg tetap menjadi primadona bagi warga yang menginginkan hidangan terbaik untuk santap bersama keluarga di hari pertama puasa.

Tradisi yang Mengalahkan Inflasi

Bagi masyarakat Aceh, Meugang adalah momen sakral untuk mempererat silaturahmi. Memasak daging di rumah dan menyantapnya bersama keluarga besar merupakan bagian dari identitas yang tetap dijaga meski harus merogoh kocek lebih dalam.

Salah seorang pembeli, Rahma, menunjukkan loyalitasnya terhadap tradisi ini. Ia tetap memboyong daging dalam jumlah cukup banyak meski menyadari adanya kenaikan harga yang signifikan dibanding hari biasa.

“Setiap tahun pasti beli daging. Ini sudah kebiasaan sebelum puasa. Saya tetap membeli dua kilogram daging kerbau meski harganya mengalami kenaikan,” ungkap Rahma saat ditemui di sela-sela aktivitas belanjanya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa Meugang telah menjadi mesin penggerak ekonomi musiman di Aceh. Harapannya, ketersediaan stok tetap terjaga hingga hari puncak Meugang berakhir, sehingga seluruh lapisan masyarakat dapat menikmati momen kebersamaan sebelum memasuki bulan suci Ramadan.


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK