Tragedi Ponpes Al Khoziny Sidoarjo: Doa, Harapan, dan Usaha Menyelamatkan Santri
SIDOARJO, FAKTANASIONAL.NET – Rabu pagi yang seharusnya dipenuhi riuh semangat santri Pondok Pesantren Al Khoziny mendadak berubah menjadi duka mendalam. Gedung tiga lantai di kompleks ponpes yang berdiri kokoh selama bertahun-tahun itu, ambruk dala…
Dengarkan Ringkasan
SIDOARJO, FAKTANASIONAL.NET – Rabu pagi yang seharusnya dipenuhi riuh semangat santri Pondok Pesantren Al Khoziny mendadak berubah menjadi duka mendalam. Gedung tiga lantai di kompleks ponpes yang berdiri kokoh selama bertahun-tahun itu, ambruk dalam hitungan detik, meninggalkan reruntuhan beton, debu pekat, dan teriakan panik.
Peristiwa yang terjadi pada Senin sore (29/9) itu diduga kuat akibat kegagalan konstruksi. Puluhan santri sedang mengikuti kegiatan belajar saat bangunan mulai bergetar. Beberapa saksi menyebut mendengar suara “retakan” seperti kayu patah sebelum lantai atas roboh menimpa ruang kelas di bawahnya.
“Semua terjadi sangat cepat. Kami hanya bisa berteriak ‘lari!’ sebelum akhirnya tembok runtuh,” ungkap Raka (14), salah satu santri yang berhasil selamat meski mengalami luka di kaki.
Detik-Detik Panik dan Jeritan Minta Tolong
Menurut kesaksian para santri yang selamat, beberapa di antara mereka sempat berusaha menarik teman-temannya keluar. Namun beratnya beton dan cepatnya runtuhan membuat banyak yang terjebak.
“Suara tangisan dan teriakan minta tolong masih terdengar saat itu. Kami mencoba memanggil nama mereka satu per satu,” kata Ahmad Fauzi, santri kelas akhir.
Warga sekitar yang mendengar suara keras segera berdatangan. Dengan tangan kosong, mereka berusaha memindahkan pecahan beton, hingga akhirnya tim SAR tiba membawa peralatan darurat.
Kehadiran Kepala BNPB: Amanat dari Presiden
Dua hari setelah kejadian, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto tiba di lokasi bersama Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI M. Syafii, dan Sekda Provinsi Jawa Timur Adhy Karyono. Disusul Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, mereka meninjau langsung puing bangunan yang kini dipadati ratusan petugas SAR, relawan, dan keluarga korban.
“Kehadiran saya di sini adalah perintah langsung dari Presiden RI Prabowo Subianto. Beliau menitipkan salam duka mendalam bagi keluarga korban dan berdoa semoga mereka diberi ketabahan,” ujar Suharyanto dengan wajah serius.
Operasi Penyelamatan: Harapan Masih Ada
Berdasarkan data absensi, ±91 santri masih diduga tertimbun. Tim SAR menghadapi dilema besar: menggunakan alat berat bisa mempercepat evakuasi, namun juga berisiko menghancurkan ruang-ruang sempit yang mungkin masih dihuni korban selamat.
Maka, strategi diganti: penggalian manual dengan alat sederhana seperti linggis, sekop, dan pemotong besi. Jalur kecil dibuka untuk menyalurkan air, oksigen, dan makanan ringan ke celah reruntuhan.
“Fokus utama kami adalah menyelamatkan mereka yang masih hidup. Evakuasi jenazah akan dilakukan setelah kondisi benar-benar aman,” tegas Kepala BNPB.
Beberapa relawan SAR menyebut, suara samar sempat terdengar pada malam pencarian. Itu menyalakan kembali semangat tim yang mulai kelelahan.
Kisah-Kisah Santri di Balik Puing
Di balik tragedi ini, cerita para santri menambah pilu:
Ahmad (15), santri asal Jombang, terakhir kali menelepon ibunya, Siti Mariam, untuk meminta doa sebelum ujian hafalan Qur’an. Kini, sang ibu hanya bisa menggenggam peci anaknya sambil berdoa di halaman ponpes.
Hasan Basri (17), dikenal rajin membantu adik kelas, sempat menulis di grup keluarga: “Besok doakan aku ujian, ya.” Pesan singkat itu kini menjadi pengingat penuh air mata.
Ustaz Abdul Karim, pengajar tafsir Qur’an, disebut tetap menenangkan muridnya saat bangunan berguncang. “Beliau hanya berkata jangan panik, perbanyak zikir,” tutur salah satu murid yang selamat. Hingga kini, keberadaan ustaz Karim masih belum diketahui.
Data Korban di Penanganan
Hingga Rabu (1/10) pukul 11.00 WIB, tim SAR berhasil mengevakuasi sekitar 100 korban dengan rincian:
3 orang meninggal dunia.
Puluhan mengalami luka berat maupun ringan dengan rinciannya:
- RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo: 39 pasien (5 luka berat, 32 luka ringan, 2 meninggal).
- RS Siti Hajar: 53 pasien (9 luka berat, 42 luka ringan, 1 dirujuk ke RSI Sakinah Mojokerto, 1 meninggal).
- RS Delta Surya: 6 pasien (5 luka berat, 1 luka ringan).
- RS Sheila Medika: 1 pasien, sudah pulang.
- RS Unair: 1 pasien rawat inap.
- Kerugian material sementara tercatat rusaknya satu unit fasilitas madrasah.
BNPB menyalurkan bantuan berupa paket sembako, tenda darurat, selimut, matras, tikar, dan hygiene kit. Selain itu, Dana Siap Pakai (DSP) disiapkan untuk mendukung operasi SAR, perbaikan sarana, dan fase rekonstruksi.
BPBD Jawa Timur, BPBD Sidoarjo, Damkar, PMI, TNI, Polri, Tagana, Dinas PU, Baznas, dan ratusan relawan bekerja tanpa henti. Dapur umum juga didirikan untuk keluarga korban yang menunggu di lokasi.
“Kami mohon doa dari seluruh masyarakat agar proses evakuasi berjalan lancar dan korban yang masih tertimbun bisa segera diselamatkan,” pinta Kepala BNPB.
Doa dan Harapan
Malam semakin larut, namun doa tidak pernah berhenti. Lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar di antara isak tangis keluarga. Di balik reruntuhan, masih ada keyakinan bahwa beberapa santri bertahan hidup.
Seorang ayah berujar lirih sambil menatap puing: “Kami titipkan anak-anak kami untuk menuntut ilmu agama. Semoga mereka pulang dalam keadaan selamat. Itu saja harapan kami.”
Tragedi ini tidak hanya menjadi luka bagi keluarga besar Ponpes Al Khoziny, tetapi juga tamparan bagi bangsa tentang pentingnya standar keselamatan bangunan. Namun di atas segalanya, ia menunjukkan kekuatan doa, solidaritas, dan semangat pantang menyerah untuk menyelamatkan nyawa.[zul]
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.