Transisi Bencana di Jawa Timur: BNPB Percepat Penanganan Banjir Pasuruan dan Siaga Kemarau 2026
FAKTANASIONAL.NET – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, melakukan kunjungan kerja maraton di Jawa Timur pada Jumat (27/3/2026). Kunjungan ini bertujuan untuk memastikan percepatan penanganan pascabanjir di Kabupaten Pasu…
Dengarkan Ringkasan
FAKTANASIONAL.NET – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, melakukan kunjungan kerja maraton di Jawa Timur pada Jumat (27/3/2026).
Kunjungan ini bertujuan untuk memastikan percepatan penanganan pascabanjir di Kabupaten Pasuruan sekaligus memimpin koordinasi lintas sektoral menghadapi ancaman musim kemarau panjang yang diprediksi mulai melanda April ini.
Solusi Terpadu untuk Banjir Pasuruan
Banjir yang merendam Pasuruan sejak Selasa (24/3/2026) akibat curah hujan tinggi dan pendangkalan sungai menjadi perhatian serius pusat.
Suharyanto menegaskan bahwa BNPB tidak akan bekerja sendiri dalam memulihkan kondisi wilayah terdampak.
“BNPB akan melakukan langkah-langkah penanganan darurat yang menjadi kewenangan BNPB, selain itu BNPB juga akan berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait lainnya,” ujar Suharyanto saat meninjau Kantor Kecamatan Rejoso.
Ia mengidentifikasi bahwa masalah utama di wilayah tersebut adalah elevasi lahan yang lebih rendah dari permukaan sungai serta penyempitan badan sungai.
Normalisasi sungai pun ditetapkan sebagai fokus jangka menengah.
“Jangka panjang, permasalahan ini akan kami bawa ke tingkat pusat dan berkoordinasi untuk menentukan langkah-langkah lanjutan,” imbuhnya.
Suharyanto juga memastikan pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi di Dusun Balongrejo berjalan sesuai instruksi kepala negara.
"Hadirnya BNPB pada kesempatan pertama merupakan perintah langsung Presiden Prabowo Subianto agar segera melakukan penanganan secara cepat dan tepat," tegasnya.
Menyongsong Kemarau: Dari Banjir ke Siaga Kekeringan
Usai meninjau banjir, rombongan BNPB bergerak ke Gedung Negara Grahadi, Surabaya, untuk menggelar Rapat Koordinasi menghadapi bencana hidrometeorologi kering.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengingatkan bahwa tantangan alam akan segera berubah drastis dalam hitungan hari.
“Hari ini kita masih melihat banjir di beberapa titik, saat yang sama pun kita harus bersiap, informasi dari BMKG bulan April ini telah mulai kekeringan. Nanti akan terus meningkat prediksi puncaknya bulan Agustus,” ungkap Khofifah.
Strategi OMC dan Water Bombing
Menanggapi peringatan tersebut, Suharyanto menekankan pentingnya kolaborasi total dari tingkat desa hingga pusat.
Langkah-langkah ekstrem seperti Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dan pengerahan helikopter water bombing telah masuk dalam skenario antisipasi.
“Kita sudah sepakat bahwa untuk mengatasi kekeringan tidak bisa diatasi salah satu institusi, harus berkolaborasi dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten kota sampai pemerintah pusat,” tegas Suharyanto.
Sebagai langkah konkret, pemerintah akan segera memperkuat satgas darat, melakukan apel personel, serta menyalurkan bantuan sumur bor untuk menjaga ketersediaan air bersih bagi warga Jawa Timur selama puncak kemarau mendatang.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.