Fakta Nasional

Trotoar dan Halte di Tanah Abang Mulai Dipadati Lapak Hewan Kurban Musiman

FAKTANASIONAL.NET – Menjelang perayaan Hari Raya Iduladha, keberadaan para pedagang hewan kurban musiman mulai marak bermunculan di sejumlah wilayah DKI Jakarta. Para pedagang tampak memanfaatkan area fasilitas publik, seperti trotoar hingga bahu ja…

volume_up

Dengarkan Ringkasan

Penulis: Jessy Serianda Editor: Redaksi 📍 Nasional Tuesday, 19 May 2026 📖 2 menit
Trotoar dan Halte di Tanah Abang Mulai Dipadati Lapak Hewan Kurban Musiman
Menjelang Iduladha, sejumlah fasilitas pedestrian dan halte bus beralih fungsi menjadi tempat penjualan hewan kurban yang mulai dikeluhkan oleh para pejalan kaki./Dok. Warta Kota

FAKTANASIONAL.NET  – Menjelang perayaan Hari Raya Iduladha, keberadaan para pedagang hewan kurban musiman mulai marak bermunculan di sejumlah wilayah DKI Jakarta.

Para pedagang tampak memanfaatkan area fasilitas publik, seperti trotoar hingga bahu jalan, untuk menggelar barang dagangan mereka. Salah satu titik yang terpantau mulai dipadati lapak hewan kurban berada di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Berdasarkan pantauan langsung di lokasi pada Selasa (19/5/2026), sejumlah lapak penjualan kambing dan sapi berdiri kokoh di atas trotoar, bahkan hingga memakan sebagian badan jalan utama.

Tidak hanya trotoar, fasilitas halte bus di sekitar kawasan tersebut juga tidak luput dari pemanfaatan para pedagang untuk menempatkan hewan ternak mereka.

Kondisi alih fungsi fasilitas publik ini berimbas pada menyempitnya ruang pergerakan bagi para pejalan kaki.

Baca Juga: Bank Kalbar Salurkan 29 Hewan Kurban ke Seluruh Kalbar Sambut Idul Adha 1446 H

Selain itu, arus lalu lintas di sekitar lokasi juga mengalami ketersendatan akibat aktivitas bongkar muat hewan dan penyempitan lajur jalan.

Alasan Pedagang dan Klaim Kebersihan Lahan

Sejumlah pedagang yang ditemui di lokasi mengungkapkan bahwa aktivitas berdagang di pinggir jalan ini sengaja dilakukan demi merespons lonjakan permintaan hewan kurban yang tinggi dari masyarakat menjelang Iduladha.

Di sisi lain, para pedagang secara terbuka mengakui bahwa operasional lapak mereka saat ini belum mengantongi izin resmi dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) setempat.

Kendati berjualan di tempat yang tidak semestinya, salah seorang pedagang di kawasan Tanah Abang mengeklaim bahwa pihaknya tetap berkomitmen dan bertanggung jawab untuk menjaga kebersihan lingkungan di sekitar lapak mereka selama masa berjualan.

“Kita jualan cuma 10 hari doang kok, kotoran pasti juga diberesihin,” ujarnya saat memberikan keterangan.

Pedagang tersebut menambahkan, dirinya menilai pihak pemerintah daerah kemungkinan besar masih memberikan toleransi atau permakluman terhadap keberadaan para pedagang kurban musiman ini, mengingat aktivitas tersebut hanya berlangsung dalam waktu singkat sekali dalam setahun.

Keluhan dari Pengguna Jalan dan Pejalan Kaki

Meskipun para pedagang menjanjikan kebersihan, keberadaan lapak-lapak hewan kurban di atas fasilitas pedestrian ini tetap memicu keluhan dari warga, khususnya para pejalan kaki dan pengguna transportasi umum.

Warga menilai penempatan hewan di trotoar dan halte sangat mengganggu kenyamanan serta hak aksesibilitas pejalan kaki.

Selain mempersempit ruang gerak, keberadaan hewan-hewan tersebut juga berpotensi menimbulkan aroma bau tidak sedap yang menyengat apabila sistem pembersihan kotoran tidak dilakukan secara maksimal dan berkala oleh para pedagang.

Situasi ini memicu harapan warga agar instansi terkait, seperti Satpol PP dan Dinas Perhubungan, dapat segera melakukan penataan atau menyediakan lokasi alternatif yang layak bagi para pedagang agar ibadah kurban dapat berjalan lancar tanpa mengorbankan hak pengguna jalan.

Baca Juga: Hasil Riset: Jumlah Pekurban Tahun Ini Lebih Rendah dari 2024, Bahkan Lebih Rendah dari Masa Pandemi


Halaman:

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.

Jaringan Informasi Nusantara

Menghubungkan fakta dari setiap sudut Indonesia, memberikan suara bagi daerah untuk literasi positif yang membangun bangsa.

28 Provinsi Tercover
500+ Kontributor Daerah
FAKTA NASIONAL NETWORK