Trump Saat Ini Terus Berbelit-belit Soal Iran
Israel sangat menginginkan perang besar dengan Iran bahkan sampai Iran harus jatuh.
FAKTANASIONAL.NET - Ini karena dia tidak mau mengakui bahwa menyerang Iran adalah kesalahan, menyerang Iran adalah kekeliruan terbesar yang dia lakukan yang tidak pernah dilakukan oleh Presiden AS yang lain.
Netanyahu tau betul siapa Trump, Presiden penuh kontroversi, nol prestasi, kebanyakan retorika, kebanyakan aib politik, termasuk skandal Epstein.
Israel sangat menginginkan perang besar dengan Iran bahkan sampai Iran harus jatuh, ini karena kalau bukan di era Trump, akan hilang kesempatan menyerang Iran.
Trump menyelewengkan kekuasaan ke tingkat yang sangat ekstrem. Dia menjalankan pemerintahan dengan ego, selera, dan full demi kepentingan pribadinya bukan kepentingan nasional.
Kondisi ekonomi di AS sekarang juga bukan main kacau, harga harga yang naik, kebutuhan hidup yang naik, dan harga energi yang naik akibat perang Iran terutama.
Trump mati kutu di depan Iran, berawal dari provokasi beberapa orang dekatnya untuk menyerang Iran. Menteri menterinya dan para pejabat pro zionis yang ada disamping Trump.
Sekarang semua terasa di lapangan, Partai Republik yang terancam kalah pemilu, kekacauan internal, kekacauan di Pentagon, antara sesama pejabat AS dll.
Narasi yang dipakai oleh trump dalam pemilu kali ini juga sangat naif, dia menjual isu islamis, menjual isu islamophobia, menjual rasisme, dan retorika retorika murahan yang tidak menyentuh persoalan dasar warga AS.
Trump tetap gengsi mengakui kesalahan keputusan menyerang Iran, alih alih memperbaiki arah, justru Trump semakin bingung mau mengakhiri konflik dengan Iran dan kegagalan AS di Timur Tengah.
Trump pada dasarnya sosok bodoh, egois, kalau tidak mau dibilang sakit jiwa, dia mendorong AS merusak banyak kebijakan, terutama kebijakan luar negeri AS.
Di AS, uang berbicara dalam pemilu, seperti yang terjadi di banyak negara ketiga lainnya di dunia. Siapapun yang terpilih jadi anggota kongres atau senat AS, rata rata adalah sosok yang mengucurkan banyak uang. Dan uang itu sebagian besar dari zionis yang mempengaruhi pemilu.
Sekarang, apapun yang mau dilakukan Trump soap Iran sudah tidak relevan, mau menyerang Iran kembali akan mengantarkan konflik lebih besar yang akan merugikan dalam negeri AS sendiri.
Kalau tidak menyerang Iran, Trump akan malu dan ini artinya kekalahan telak bagi AS lebih pahit dari kekalahan perang Vietnam atau Afghanistan.
Trump punya banyak uang, bisnis kotor, dan karena itulah dia bisa memenangkan pemilu di AS, uang adalah raja dan menentukan segalanya dalan pemilu AS.
Trump berharap bisa merampok minyak Iran seperti dia merampok minyak Venezuela, tapi gagal. Dan kegagalan itu menampar muka Trump lebih keras dari apa yang dia bayangkan di awal.
Iran bukan mundur, Iran tidak lemah, Iran bahkan bangkit lebih kuat, Ali Khamenei meninggal digantikan Khamenei yang lebih muda dan lebih radikal anti AS dan Israel.
Iran berdarah-darah, tapi Iran berhasil menentukan arah perang dan menentukan eskalasi konflik, Iran menguasai lapangan dan memenangkan pertempuran. Baik di lapangan maupun di meja diplomasi.
Omongan Trump yang semakin hari semakin ngawur, mengindikasikan dia frustasi bagaimana cara terbaik menghentikan perang dengan Iran dan memulihkan kondisi dalam negeri nya.
Iran bukan hanya menguasai Selat Hormuz dan memaksa dunia membayar secara berjamaah atas cost konflik yang dilakukan Trump dan Netanyahu. Tapi Iran juga keluar sebagai pemenang dengan survive nya pemerintahan sah Iran saat ini.
Trump akan turun 2028, dan Iran akan tetap kuat saat dia meninggalkan gedung putih. Tapi bagi Trump, selesai masa jabatan bukan akhir dari konsekuensi politiknya, tapi justru itu akan menjadi awal buruk lanjutan bagi Trump dan karir politiknya.
Baik partai Republik atau partai Demokrat yang berkuasa, memang tidak akan banyak perubahan kebijakan terutama soal dukungan mereka untuk israel, tapi setidaknya, lengsernya Trump akan memberikan nafas lebih bagi Iran untuk memperkuat diri, dan mengubah arah GeoPolitik di timur tengah keluar dari kegilaan Trump.
Penulis: Tengku Zulkifli Usman
Sumber: FB @Tengku Zulkifli Usman
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama.