Dirinya menyatakan bahwa saat ini keterlibatan partisipasi pemerintah daerah masih disusun dari sisi pengaturan dan mekanismenya. Harapannya diskusi bersama lintas stakeholder melalui kegiatan ini dapat merumuskan solusi terbaik dalam pemanfaatan Pooling Fund Bencana.
Sejalan dengan hal tersebut, Ketua Tim Asuransi dan Perlindungan Sosial dari Direktorat Pengelolaan Risiko Keuangan Negara Kementerian Keuangan Roki Gangsar Winoto menyampaikan bahwa saat ini tengah dikaji mekanisme transfer risiko untuk _multilayering_ pendanaan penanggulangan bencana.
Adapun potensi keuangan domestik dan internasional diharapkan dapat menyerap risiko yang ada secara optimal sehingga Pooling Fund Bencana tidak akan membebani alokasi pendanaan yang sudah ada.
Pada materi lainnya, Direktur Sistem Penanggulangan Bencana BNPB Agus Wibowo mengemukakan proses bisnis penyaluran dana bersama yang dapat diakses oleh pemohon mulai tahap penyusunan proposal, penelaahan, verifikasi, dan evaluasi. Proses ini dilakukan untuk memastikan penggunaan dan penyaluran dana tepat sasaran.
Hal ini turut ditekankan oleh Direktur Utama BPDLH Joko Tri Haryanto bahwa pendekatan baru yang dilakukan oleh pemerintah untuk menjaga stabilitas fiskal negara dalam menghadapi bencana, sehingga perlu kehati-hatian dalam merumuskan tata kelola dan mempersiapkan implementasinya agar akuntabel dan tepat sasaran.
Di samping itu, _Operations Manager World Bank_ Alanna L. Simpson menyatakan tantangan yang sering dihadapi negara lain dalam penanggulangan bencana adalah tidak hanya mengenai ketersediaan anggaran penanggulangan bencana, namun juga kesiapan dalam penggunaan dana tersebut.
Dirinya menyampaikan saat ini pengembangan tata kelola Pooling Fund Bencana sudah berada dalam jalur yang tepat. Alanna berharap Pemerintah Indonesia dapat memanfaatkan proses ini untuk meningkatkan kesadaran dan kesiapsiagaan terhadap bencana dalam setiap level mulai dari tingkat individu, lokal, provinsi, dan nasional.
Keberhasilan Pooling Fund Bencana terletak pada tata kelola yang kuat; berbasis integritas, akuntabilitas, dan transparan dalam pengelolaan serta penggunaan dana. Saat ini persiapan dan perbaikan tata kelola terus dirumuskan oleh pemangku kebijakan terkait. Harapannya, skema ini bisa menjadi terobosan penting untuk memperkuat kapasitas pendanaan bencana dan membangun resiliensi bangsa.
Diskusi interaktif ini berhasil menarik lebih dari 650 peserta yang hadir secara fisik, maupun daring. Kehadiran Pooling Fund Bencana dalam ADEXCO 2025 sekaligus menjadi sarana strategis untuk memperkenalkan manfaat nyata dari mekanisme yang telah dipersiapkan bagi Kementerian/Lembaga, pemerintah daerah, kelompok masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya.
ADEXCO 2025 kembali hadir sebagai bagian dari _Indonesia Energy & Engineering Series_ 2025 (IEE Series 2025) bersama dengan _Construction Indonesia, Concrete Show South-east Asia – Indonesia dan Water Indonesia_.**











