Kedua, Apridon selaku pengurus DPP AMPI membantah keras klaim SNI yang mengaku berhasil dalam memperjuangkan dibukanya kembali Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI) tanpa penerapan kuota, serta belum diterapkannya kebijakan Penangkapan Ikan Terukur (PIT).
Faktanya: Apridon menegaskan bahwa relaksasi PIT bukan karena kerja keras perjuangan SNI tapi sudah menjadi perjuangan seluruh nelayan Nusantara.
“Soal relaksasi PIT, itu sudah dilakukan oleh KKP sejak dua tahun lalu. Bahkan ini sebenarnya kami tuntut KKP agar bersikap adil. Tidak ada lagi relaksasi-relaksasi yang hanya mementingkan nelayan di Jawa saja,” tukas Apridon.
Ketiga, SNI mengklaim berhasil membuat Pemerintah memproses revisi PP Nomor 85 Tahun 2021 dengan arah penurunan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) pascaproduksi.
Bantahan: Apridon menegaskan bahwa penerapan PNBP dan revisi PP 85/2021 itu bukan hasil kerja perjuangan SNI, tapi lagi-lagi perjuangan para nelayan dari banyak organisasi. Bahkan jejak perjuangan SNI nyaris tidak ada di dalamnya.
“Penurunan PNBP itu juga sudah sejak setahun ini dalam proses pembahasan antara KKP dengan kemenkeu dan para pemangku kepentingan yang lainnya. Jadi jangan sok-sok ngaku, gitu loh,” tukas Apridon.
Apridon menilai masih banyak hak-hak awak kapal yang masih belum dipenuhi, seperti upah sistem bagi hasil yang belum sesuai UMR, standar keselamatan dan pola jam kerja yang belum sesuai standar pekerja yang layak.
“Harusnya SNI juga mengangkat isu standar kelayakan pekerja kapal ikan yang masih jauh dari layak tersebut. Bukan hanya sibuk mementingkan diri dan kelompoknya mereka sendiri,” tukas Apridon.
Lebih jauh Apridon meminta KKP harus mendengar dan menerima aspirasi daerah Timur Indonesia dan daerah-daerah lainnya. Para nelayan daerah Timur belum mendapat keadilan yang merata, padahal selama ini wilayahnya jadi tempat penangkapan ikan oleh kelompok SNI.
“Kami dari wilayah Timur mengapresiasi kinerja KKP yang selama ini selalu membuka ruang komunikasi dan diskusi bahkan mengambil langkah-langkah cepat setiap ada masalah,” tuntas Apridon.
