“Saya dan Mbak Ning (Ribka Tjiptaning) merasakan perjalanan paling panjang hingga 18 jam, total bolak-balik 33 jam naik mobil. Penting bagi kami untuk tahu kesulitan relawan di lapangan, mulai dari akses jalan yang berat hingga fasilitas yang terbatas,” ungkapnya.
Baginya, pengabdian ini bukan sekadar tugas organisasi, melainkan bentuk kebanggaan sebagai kader partai yang memegang teguh prinsip kemanusiaan.
Agenda Pascabencana dan Antisipasi Penyakit
Selain memberikan apresiasi, pertemuan ini juga menjadi ajang penguatan organisasi relawan. Sri Rahayu melaporkan kepada Sekjen Hasto Kristiyanto mengenai rencana tindak lanjut bakti sosial pasca-Ramadan mendatang.
Fokus utama ke depan adalah antisipasi munculnya penyakit pascabencana akibat sisa lumpur dan debu yang belum tertangani sepenuhnya di permukiman warga.
“Masyarakat di tiga provinsi tersebut sangat menyambut baik kehadiran kita. Ke depan, kita akan susun kembali langkah-langkah terorganisir untuk bakti sosial kesehatan, terutama mengantisipasi penyakit pernapasan saat musim kemarau akibat debu sisa bencana,” jelasnya.
Ia juga berpesan agar para relawan kesehatan tetap aktif di daerah masing-masing, termasuk membantu masyarakat dalam mengakses pelayanan kesehatan seperti BPJS.
“Apapun masalah kesehatan di tengah warga, jika kita tahu informasinya, tugas kita adalah hadir dan membantu melaksanakannya,” tutup Sri Rahayu.











