“Strategi pembiayaan dilakukan secara antisipatif, yaitu memastikan ketersediaan kas tetap memadai sekaligus menjaga fleksibilitas pembiayaan untuk merespons dinamika pasar yang sedang terjadi,” jelasnya.
Minat Investor Domestik dan Global Menguat
Mayoritas penarikan utang dilakukan melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) di pasar domestik.
Menariknya, kepercayaan pasar justru meningkat di tengah ketidakpastian global, terlihat dari rasio bid to cover (minat lelang) yang tinggi.
-
Surat Utang Negara (SUN): Rasio di atas 2 kali.
-
Surat Berharga Syariah Negara (SBSN): Rasio mencapai 3,1 kali.
“Bahkan dibanding tahun lalu, tahun ini lebih baik. Ini menunjukkan minat dan kepercayaan investor terhadap fundamental perekonomian kita masih terjaga di tengah dinamika pasar keuangan global yang sangat penuh dengan ketidakpastian,” kata Juda.
Di kancah internasional, pemerintah juga sukses menerbitkan obligasi dalam dua mata uang (Renminbi dan Euro) dengan tingkat imbal hasil (yield) yang kompetitif:
-
Offshore Renminbi (CNH): 9,25 miliar (yield 2–3%).
-
Euro: 2,7 miliar Euro (yield 4–5%).
“Ini di pasar global, dan yield yang cukup baik tersebut menunjukkan bahwa investor global sangat confident dengan fundamental ekonomi kita yang masih terjaga dengan baik,” tandasnya.
Peningkatan Pembiayaan Non-Utang
Selain mengandalkan utang, pemerintah mencatat lonjakan tajam pada sumber pembiayaan non-utang yang mencapai Rp21,1 triliun.
Angka ini naik drastis dari periode Februari 2025 yang hanya sebesar Rp3,9 triliun. Dengan kombinasi ini, total realisasi pembiayaan anggaran per Februari 2026 tercatat sebesar Rp164,2 triliun.










