Kepanikan pasar diperparah oleh lonjakan harga energi. Harga minyak mentah AS kini mendekati 100 Dolar AS per barel, sementara Brent sudah melampaui 112 Dolar AS.
Kenaikan drastis ini memicu kekhawatiran bahwa inflasi akan kembali meledak, menghancurkan daya beli masyarakat, dan memaksa bank sentral untuk tetap mempertahankan suku bunga tinggi.
Raksasa teknologi seperti Nvidia dan Amazon tidak luput dari aksi jual, masing-masing turun 2,2 persen dan 4 persen. Sektor konsumsi juga terpukul setelah Carnival Corporation memangkas proyeksi laba tahunannya.
Dengan VIX (Indeks Ketakutan) yang melonjak tinggi, analis Matt Britzman menilai pasar saat ini butuh bukti nyata perdamaian, bukan sekadar janji manis pejabat.[dit]











