OPINI – Bayangkan sebuah film geopolitik modern. Bukan tentang kapal induk yang berlayar di Laut Cina Selatan. Bukan pula tentang perang dagang yang setiap pagi muncul di layar ponsel seperti notifikasi yang tak pernah selesai. Film ini justru dimulai dari tempat yang lebih sunyi: dari akar-akar mangrove yang mencengkeram lumpur pesisir Kalimantan Barat.
Dari bentang hijau yang membentang panjang dari kawasan Singbebas—Singkawang, Bengkayang, dan Sambas—menyusuri Mempawah, Kubu Raya, Kayong Utara hingga Ketapang. Di peta Indonesia, wilayah ini mungkin hanya terlihat sebagai garis hijau tipis di tepian laut. Namun dalam peta ketahanan iklim dunia, kawasan ini adalah salah satu benteng terdepan Nusantara. Ironisnya, semakin penting perannya bagi dunia, semakin sedikit orang yang membicarakannya.
Mangrove tidak pandai berpidato. Ia tidak memiliki akun media sosial. Ia tidak pernah membuat konferensi pers. Tetapi setiap hari ia bekerja lebih keras dibanding banyak institusi yang memiliki gedung megah dan pendingin ruangan. Ketika ombak datang, ia menahannya. Ketika abrasi menggerus pantai, ia menjadi tameng. Ketika karbon atmosfer meningkat, ia menyimpannya. Ketika ikan, udang, dan kepiting membutuhkan tempat tumbuh, ia menyediakan rumah. Pendek kata, mangrove melakukan pekerjaan strategis dunia tanpa pernah meminta tepuk tangan.
Sementara itu, dunia sedang mengalami kegelisahan yang aneh. Negara-negara besar berlomba menguasai kecerdasan buatan, mineral kritis, energi masa depan, dan rantai pasok global. Mereka sibuk memperebutkan siapa yang akan mengendalikan abad ke-21. Namun pada saat yang sama, mereka mulai menyadari kenyataan yang agak memalukan: teknologi paling efektif untuk menyerap karbon ternyata bukan superkomputer, bukan satelit, bukan pula AI. Melainkan ekosistem mangrove yang telah bekerja diam-diam selama ratusan tahun.
Di Kalimantan Barat, cerita ini jauh lebih besar. Bentang mangrove bukan sekadar kumpulan pohon pesisir. Ia adalah pagar ekologis yang menghubungkan daratan, muara, sungai, laut, ekonomi masyarakat, budaya pesisir, dan masa depan pembangunan daerah. Ia adalah benteng hijau yang menjaga garis depan provinsi yang berhadapan langsung dengan Laut Natuna dan dinamika geopolitik Asia Tenggara. Jika hutan hujan tropis disebut paru-paru dunia, maka mangrove adalah sistem pertahanan dunianya.











