Plastik Nabati Jadi Solusi: Pemerintah Siapkan Singkong dan Rumput Laut Guna Lawan Krisis Impor

Menteri UMKM menegaskan skema potongan komisi aplikator sebesar 8 persen berhasil mendongkrak kesejahteraan pendapatan para mitra pengemudi ojol./Foto: TV Parlemen.
  1. Pati Singkong: Mengandung amilosa dan amilopektin yang mampu menghasilkan thermoplastic starch (TPS) yang mudah terurai secara alami.

  2. Rumput Laut: Ekstrak keraginan dan alginatnya dapat menciptakan kemasan yang bisa dimakan (edible packaging) dan larut dalam air, menjadikannya jauh lebih ramah lingkungan dibanding plastik konvensional.

Strategi Jangka Pendek dan Panjang

Meski visi menuju plastik nabati sudah didepan mata, Menteri Maman mengakui bahwa proses transisi membutuhkan pengkajian yang matang secara administratif dan teknis.

“Saya belum bisa bicara sampai sejauh itu (kapan bisa diterapkan),” tuturnya saat ditanya mengenai target waktu implementasi massal.

Sambil menunggu riset bioplastik matang, pemerintah bergerak cepat mengamankan stok jangka pendek dengan mengalihkan sumber impor nafta ke wilayah yang lebih stabil seperti Afrika, India, dan Amerika Serikat. Langkah ini diambil agar biaya produksi UMKM tidak semakin tercekik.

“Nah sekarang lagi proses administrasi dan pengiriman dan segala macamnya,” tutup Maman.

Melalui sinergi antara Kementerian UMKM, Perindustrian, dan Perdagangan, diharapkan Indonesia tidak lagi sekadar menjadi korban gejolak rantai pasok global, melainkan bertransformasi menjadi pelopor kedaulatan bahan baku industri berbasis komunitas lokal.