Baginya, peningkatan peringkat ini menjadi bukti nyata bahwa nilai toleransi di Banjarmasin benar-benar telah dihidupkan sebagai praktik keseharian seluruh warga, dan bukan hanya sebatas slogan pemerintah semata.
Penilaian kota toleran oleh SETARA Institute tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan lewat serangkaian indikator yang komprehensif.
Aspek utama yang diukur mencakup regulasi pemerintah daerah yang inklusif, respons cepat pemerintah terhadap potensi intoleransi, hingga sehatnya dinamika sosial antar umat beragama. Faktor demografi dan kualitas inklusi sosial turut menjadi instrumen penentu kualitas toleransi sebuah daerah.
Masuknya Banjarmasin ke dalam Zona Mapan membuktikan kokohnya fondasi kebhinekaan di wilayah ini. Kenaikan peringkat ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari kebijakan pemerintah yang responsif dipadukan dengan kultur masyarakat yang terbuka.
Harmoni lintas sektor inilah yang terus memastikan Banjarmasin tetap menjadi kota yang ramah, aman, dan setara bagi semua orang.[dit]











