Dida memaparkan bahwa di tahun 2025, rekor nilai ekspor kelapa sawit menyentuh angka US$ 40 miliar dengan volume 38,84 juta ton, atau meningkat 11%. Dampak positif ini juga dirasakan langsung kesejahteraannya oleh para pekebun rakyat yang tercermin pada perbaikan harga Tandan Buah Segar (TBS), dilansir pada 1/5.
Sebagai strategi peningkatan nilai tambah, pemerintah juga terus mendorong hilirisasi industri. Jika pada tahun 2015 ekspor crude palm oil (CPO) masih mendominasi, saat ini proporsi ekspor bahan mentah telah menurun signifikan menjadi sekitar 8% saja.
Dalam kerangka keberlanjutan demi memastikan manfaat jangka panjang, implementasi RAN-KSB menjadi landasan utama untuk menjaga keseimbangan antara produksi, ekspor, serta kebutuhan domestik yang mencakup minyak goreng dan biodiesel.
Dalam rapat tersebut, mengemuka pula pentingnya penguatan kerangka kebijakan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir, penyempurnaan regulasi penguatan sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO), serta penguatan data geospasial.
Koordinasi lintas Kementerian dan Lembaga, sinkronisasi pusat dan daerah, hingga pemanfaatan Dana Bagi Hasil (DBH) sawit terus dipadukan demi memastikan kelancaran implementasi di lapangan.[dit]











