NARASI “evaluasi” yang terus diulang pemerintah dalam setiap kasus keracunan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) justru mulai membentuk kesan bahwa negara sedang terjebak dalam siklus retorika tanpa penyelesaian nyata.
Setiap kali korban berjatuhan, pola responnya hampir identik. Pemerintah menyampaikan keprihatinan, menjanjikan evaluasi, memperbaiki SOP, memperketat pengawasan, lalu program kembali berjalan sampai muncul lagi kasus berikutnya.
Publik akhirnya melihat bahwa yang terus diproduksi bukan perbaikan sistem, melainkan pengulangan diksi.
Masalah terbesar dari pola ini adalah “evaluasi” berubah menjadi tameng politik, bukan instrumen koreksi. Dalam praktik pemerintahan yang sehat, evaluasi seharusnya menghasilkan perubahan yang terukur, penurunan risiko, dan penghentian pola kegagalan yang sama.
Namun dalam kasus MBG, keracunan tetap muncul di berbagai daerah dengan pola yang nyaris seragam. Makanan diduga basi, distribusi tidak higienis, pengawasan lemah, rantai pasok tidak siap, dan dapur massal dipaksa mengejar target besar dalam waktu cepat.
Ketika korban terus muncul meski pemerintah berkali-kali mengklaim sudah melakukan evaluasi, maka publik mulai mempertanyakan sebenarnya yang dievaluasi itu sistemnya, atau hanya narasinya?
Di titik ini, kata “evaluasi” kehilangan makna substantif karena terlalu sering digunakan tanpa dampak yang terlihat. Semakin sering pemerintah mengucapkan evaluasi tetapi kasus tetap berulang, semakin kuat persepsi bahwa negara sedang gagal mengendalikan program berskala nasional yang menyangkut kesehatan anak-anak.
Bahkan secara psikologis, pengulangan diksi yang sama setiap kali tragedi muncul dapat dibaca publik sebagai tanda kebingungan birokrasi. Negara tampak tidak memiliki formula penyelesaian selain mengulang janji yang sama setelah kejadian yang sama.
Yang membuat persoalan ini semakin sensitif adalah objek korbannya, yaitu pelajar, balita, dan ibu hamil. Dalam isu publik lain, kegagalan teknis mungkin masih bisa ditoleransi sebagai risiko transisi kebijakan. Namun ketika program yang membawa nama “bergizi gratis” justru berulang kali dikaitkan dengan keracunan massal, kontradiksi naratifnya menjadi sangat destruktif.
Program yang seharusnya identik dengan kesehatan berubah menjadi sumber ancaman kesehatan. Di sinilah krisis reputasi pemerintah mulai terbentuk secara serius.
