“Sebenarnya bukan karena fundamental makro ekonomi Indonesia yang rapuh itu bukan, sebenarnya saya yakin fundamental domestik kita masih solid. Kita lihat saja tren dollar mengalami penguatan, ini juga dipengaruhi dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah. Serta ekspektasi higher for longer dari Fed rate policy, seperti itu,” tukas Nafan.
Di samping itu, tekanan internal dipicu oleh lonjakan musiman kebutuhan dollar AS di dalam negeri sepanjang Mei 2026. Periode ini merupakan masa puncak repatriasi dividen oleh korporasi asing di Indonesia ke negara asal, ditambah dengan tingginya kebutuhan valas untuk operasional musim haji.
Soroti Kebijakan Pemerintah dan Langkah Bank Indonesia
Di sisi lain, pasar juga tengah bersikap wait and see mencermati rentetan kebijakan domestik yang berpotensi memengaruhi persepsi risiko investasi. Beberapa poin yang disoroti investor mencakup kebijakan kenaikan royalti komoditas tambang hingga isu pelebaran defisit fiskal pada anggaran negara.
Kini, seluruh mata pelaku pasar tertuju pada ramuan strategi lanjutan dari Bank Indonesia (BI).
Pasar berharap bank sentral dapat mengendalikan volatilitas rupiah, baik melalui skema intervensi langsung di pasar valas (Spot dan DNDF) maupun opsi agresif berupa penyesuaian suku bunga acuan (BI Rate) dalam waktu dekat.
Baca Juga: NPI Jauh Lebih Besar dari Ferronikel, DPR Ingatkan Skema Ekspor Satu pintu Danantara Harus Selektif











