DALAM ketatnya dinamika dunia profesional dan korporasi modern, pepatah lama yang mengingatkan bahwa keangkuhan adalah awal dari kejatuhan rupanya bukan sekadar isapan jempol belaka.
Banyak perusahaan atau institusi raksasa yang hancur berkeping-keping bukan karena kurangnya suntikan modal, melainkan murni akibat kesombongan dari para jajaran eksekutifnya.
Fenomena psikologis ini semestinya menjadi peringatan sangat keras bagi siapa pun yang saat ini sedang berada di puncak kejayaan karier.
Ketika seorang figur sukses meraih rentetan pencapaian fantastis, otak manusia cenderung memproduksi hormon dopamin yang sering kali memicu rasa percaya diri berlebih.
Dalam skala yang lebih ekstrem, kondisi psikologis ini berubah wujud menjadi “sindrom hubris”, di mana seseorang mulai merasa sama sekali tidak terkalahkan dan secara perlahan mengabaikan saran objektif dari orang lain.
Berdasarkan data historis kebangkrutan banyak perusahaan, kegagalan fatal beradaptasi dengan inovasi pasar sering kali bermula dari sifat arogan para pemimpin yang terlalu cepat meremehkan kompetitor baru.











