FAKTANASIONAL.NET – Bidang Perlindungan Perempuan dan Perlindungan Anak Dinas Sosial Kabupaten Mempawah mulai menangani pemulihan trauma dua remaja perempuan korban kejahatan seksual ayah kandungnya sendiri.
Tindakan asusila tersebut menimpa kakak beradik berinisial Mawar (18) dan Melati (15) yang merupakan warga Kecamatan Mempawah Hilir.
Kedua korban dipastikan sangat membutuhkan langkah pendampingan psikologis korban kekerasan seksual setelah mengalami kejadian kelam selama bertahun-tahun di bawah tekanan ancaman mematikan.
Petugas dinas sosial telah turun langsung ke lapangan untuk melakukan asesmen awal terhadap kondisi mental para korban.
“Assesment awal baru kita lakukan terhadap Melati, karena saat kami berkunjung tidak bertemu dengan korban Mawar. Kami akan mendampingi untuk pemeriksaan psikologi, karena kita melihat ada tanda-tanda trauma terhadap korban,” sebut Nonny.
Tersangka utama berinisial EW diketahui selalu menekan kondisi psikologis anak-anaknya dengan melontarkan ancaman pembunuhan terhadap ibu mereka jika berani melapor kepada pihak berwajib.
“Setiap kali melakukan perbuata itu, EW selalu mengancam korban. Jika korban berani menceritakan kejadian itu, maka ibu korban akan dibunuh,” sebutnya.
Ancaman tersebut memaksa kedua korban bungkam saat sang ayah melancarkan aksi bejatnya ketika ibu mereka sedang bekerja sebagai pengasuh anak di luar rumah.
“EW ini bekerja sebagai buruh bangunan di luar kota, sehingga tidak setiap hari berada di rumah. Namun, setiap kali pulang kerumah dan ada kesempatan, saat itulah EW melakukan perbuatan itu kepada kedua korban,” bebernya.
Pemerintah daerah berkomitmen memfasilitasi seluruh proses pendampingan psikologis korban kekerasan seksual ini hingga kondisi mental anak kembali stabil.
Langkah pemulihan mental tersebut dinilai sangat mendesak mengingat salah satu korban dilaporkan telah dilecehkan sejak masih duduk di bangku kelas empat sekolah dasar.
“Untuk jadwal pemeriksaan, kami masih berkoordinasi dengan Unit PPA Polres Mempawah. Nanti, kita akan berkoordinasi pula dengan psikolog rujukan kami,” katanya.
Masyarakat menuntut penanganan kasus ini berjalan transparan sekaligus memberikan keadilan penuh bagi masa depan dan pemulihan kedua korban remaja tersebut.
(*Red)









