Refleksi 30 Tahun Kudatuli, Prof Sukidi Ingatkan Pentingnya Politik Keberanian Lawan Otoritarian

Menghilangkan atau melukai satu nyawa, menurutnya, pada hakikatnya adalah serangan terhadap seluruh nilai kemanusiaan.

“Pesan yang dikirim oleh kekuasaan yang otoriter melalui politik ketakutan adalah agar masyarakat tidak bersuara. Sikap diam (silence) justru memberikan ruang bagi otoritarianisme untuk tumbuh semakin kuat,” tegasnya.

Ia mencontohkan bagaimana Megawati Soekarnoputri beserta seluruh elemen gerakan pro-demokrasi pada 30 tahun silam memilih berdiri tegak melawan kesewenang-wenangan tersebut.

“Satu-satunya jalan terbaik untuk menghentikan dan mengalahkan otoritarianisme adalah dengan keberanian. Terutama keberanian untuk menyuarakan kebenaran di hadapan penguasa yang lalim,” lanjut Sukidi.

Sebagai pelajaran ketiga, Sukidi mengingatkan bahwa gerakan otoritarianisme di masa lalu hampir selalu ditopang oleh kekuatan militerisme yang berupaya menguasai berbagai lini kehidupan masyarakat.

Dalam konteks pertanggungjawaban publik, Sukidi mengingatkan konsep pembangkangan sipil yang beradab (civil disobedience atau civil resistance) seperti yang dirumuskan oleh pemikir Henry David Thoreau.

Sukidi menekankan bahwa seluruh persenjataan dan fasilitas yang digunakan oleh aparat keamanan pada dasarnya dibiayai oleh uang pajak rakyat.

Oleh karena itu, aparat tidak memiliki legalitas moral untuk melukai rakyatnya sendiri.

Ia juga mengutip pandangan sosiolog Harvard University, Profesor Lawrence Lessig, mengenai kesadaran moral warga negara untuk menolak tunduk pada kesewenang-wenangan aparat negara yang menyimpang atau melakukan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

“Henry David Thoreau mengatakan, kita tidak memiliki kewajiban sedikit pun untuk patuh kepada pemerintah yang bertindak layaknya pelanggar hukum itu sendiri. Tidak ada kepatuhan pada kekuasaan yang merawat ketidakadilan dan kezaliman,” kata Sukidi.

Sebagai penutup refleksinya, Sukidi mengutip pesan mulia keagamaan yang menegaskan bahwa bentuk perjuangan yang paling utama adalah keberanian untuk menyampaikan kebenaran secara jujur dan adil di hadapan pemimpin yang menyimpang.

“Sebaik-baik jihad, sebaik-baik perjuangan, adalah berani mengatakan kebenaran di depan penguasa lalim,” tandasnya.