MARI kita berkabung dan memanjatkan doa untuk saudara kita yang menaiki KMP Mutiara Sentosa 2. Kapal itu terbakar di tengah laut. Dikabarkan lima meninggal, 41 masih hilang. Simak narasinya!
Minggu pagi, 2 Agustus 2026, seharusnya menjadi hari biasa. Ada manusia berangkat mencari nafkah, pulang menemui keluarga, atau sekadar duduk di kapal sambil menatap laut. Tetapi di tengah perjalanan dari Surabaya menuju Makassar, sebuah perjalanan berubah menjadi tragedi.
KMP Mutiara Sentosa 2 yang membawa 271 orang, terdiri 232 penumpang dan 39 awak kapal. Lalu, terbakar di perairan Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.
Hingga pukul 16.00 WIB, Kantor SAR Surabaya melaporkan lima orang meninggal dunia, 225 orang selamat, sementara 41 lainnya masih dalam pencarian. Empat puluh satu manusia. Bukan angka.
Mereka adalah anak seseorang. Ayah seseorang. Ibu seseorang. Suami, istri, saudara, atau sahabat yang pagi itu mungkin hanya berpamitan dengan kalimat sederhana, “Hati-hati.”
Kini keluarga mereka menunggu dalam ketidakpastian yang jauh lebih menyakitkan dari sebuah kabar buruk. Informasi kebakaran pertama kali diterima perusahaan pelayaran dari nakhoda sekitar pukul 06.00 WIB. Setelah itu, nakhoda tak lagi dapat dihubungi.
Kalimat itu terdengar pendek dalam sebuah laporan. Tetapi bagi keluarga, “tidak dapat dihubungi” bisa menjadi kalimat paling panjang dalam hidup.
Kantor SAR Surabaya baru menerima informasi pertama sekitar pukul 08.24 WIB dari Syahbandar Tanjung Perak. Posisi kapal kemudian diketahui sekitar pukul 09.45 WIB, sekitar 19 mil laut di utara Pulau Burung, Sapudi.
Saat itu sebagian badan kapal sudah terbakar. Para penumpang bertahan di anjungan dan haluan, menunggu pertolongan. Mereka berdiri di atas kapal yang perlahan berubah menjadi neraka, sementara di sekelilingnya hanya ada laut.
Lalu sekitar pukul 10.20 WIB, sebagian penumpang memilih melompat ke laut. Nuan bayangkan ketakutan itu. Di belakang ada api. Di depan ada lautan. Mereka tidak melompat karena berani. Mereka melompat karena ingin hidup.










