Rumah Angker di Indonesia Diburu Organisasi Jepang

Rumah yang dikenal angker di Jawa Timur, tak disebutkan di kota mana. Foto: Rukita

Seseorang dapat mengirim foto rumah biasa.

Orang lain dapat menambahkan cerita bahwa rumah itu berhantu.

Foto kemudian menyebar. Cerita semakin besar.

Dan akhirnya sebuah organisasi dari luar negeri dapat datang mencari rumah tersebut berdasarkan cerita yang beredar di internet.

Masalahnya, bagaimana membuktikan bahwa sebuah rumah benar-benar berhantu?

Di sinilah jurnalistik harus berhati-hati. CCTV dapat merekam sesuatu.

Tetapi rekaman tersebut belum otomatis membuktikan keberadaan makhluk gaib.

Alat elektronik dapat menunjukkan perubahan tertentu.

Tetapi perubahan itu juga tidak otomatis membuktikan adanya hantu.

Paranormal dapat menyampaikan hasil penerawangan.

Tetapi itu tetap merupakan klaim atau pengalaman spiritual, bukan bukti ilmiah mengenai keberadaan makhluk gaib.

Karena itu, fakta yang dapat diberitakan adalah bahwa ANNYA mengaku melakukan metode tersebut, bukan bahwa metode itu terbukti dapat mendeteksi hantu.

Kisah ini menarik justru karena berada di perbatasan antara budaya, bisnis, hiburan, internet dan kepercayaan masyarakat.

Indonesia mempunyai tradisi cerita rumah angker yang panjang.

Jepang juga mempunyai budaya horor yang kuat.

ANNYA mencoba mempertemukan kedua pasar tersebut melalui pengalaman menginap di rumah yang dianggap berhantu.

Namun ketika uang mulai ditawarkan, persoalannya berubah.

Orang mulai bertanya: siapa penyelenggaranya? Apa legalitasnya? Apakah rumah tersebut benar-benar ada? Apakah hadiah benar-benar dibayarkan? Apakah kegiatan tersebut benar-benar akan dilaksanakan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada pertanyaan apakah hantunya benar-benar ada.

Karena dalam jurnalistik, keberadaan sebuah cerita harus dipisahkan dari kebenaran klaim di dalam cerita tersebut.

ANNYA memang mencari rumah angker—itu dapat diberitakan berdasarkan pernyataan mereka.

Namun bahwa rumah tersebut benar-benar dihuni makhluk gaib adalah perkara lain.

Dan justru di situlah kisah ini menjadi unik. (*)