FAKTANASIONAL.NET – Kisah ini dimulai dari sesuatu yang terdengar seperti cerita film horor. Sebuah organisasi asal Jepang bernama ANNYA mengumumkan sedang mencari rumah angker di Indonesia.
Bukan sekadar rumah tua. Mereka mencari rumah yang menurut cerita masyarakat benar-benar berhantu, memiliki sejarah kelam, atau pernah berkaitan dengan peristiwa tragis.
Hadiah bagi orang yang berhasil merekomendasikan rumah yang kemudian dipilih, sebesar Rp50 juta.
Berita tersebut menjadi viral di Indonesia pada Mei 2026.
Pendiri ANNYA, Kenbo Kiriki, mengatakan kepada detikProperti bahwa timnya sudah memperoleh beberapa kandidat rumah.
Rencananya, rumah tersebut akan dibeli atau disewa untuk dijadikan lokasi uji nyali.
Peserta akan tinggal di rumah tersebut selama sekitar 10 jam, mulai pukul 21.00 hingga 07.00.
Kegiatan direncanakan dilakukan untuk satu kelompok per hari.
Yang lebih unik adalah cara mereka ingin memastikan rumah tersebut benar-benar “angker”.
ANNYA menyebut akan memasang kamera pengawas atau CCTV dalam waktu lama.
Mereka juga menyatakan menggunakan peralatan elektronik tertentu yang mereka yakini dapat mendeteksi keberadaan hantu.
Selain itu, mereka berencana menggunakan paranormal atau medium spiritual.
Setelah kegiatan selesai, menurut Kiriki, rumah tersebut akan menjalani ritual pembersihan atau eksorsisme.
Dari sudut pandang jurnalistik, ada dua cerita di sini.
Cerita pertama adalah fenomena wisata horor.
Cerita kedua jauh lebih menarik: perdebatan mengenai kebenaran organisasi tersebut.
Pada awal Juni 2026, muncul tuduhan di media sosial bahwa ANNYA adalah penipuan. Seorang pengguna X memperingatkan masyarakat Indonesia agar tidak mudah percaya terhadap tawaran pekerjaan yang dikaitkan dengan organisasi tersebut.
Tuduhan itu kemudian diberitakan detikProperti.
Artinya, berita berkembang dari “orang Jepang mencari rumah angker” menjadi “apakah organisasi tersebut benar-benar kredibel?”
Dalam perkembangan sebelumnya, ANNYA bahkan sempat menampilkan beberapa foto kandidat rumah.
Salah satunya kemudian disebut netizen sebagai rumah Presiden ke-7 Indonesia, Joko Widodo.
Namun rumah tersebut kemudian dihapus dari daftar kandidat karena dianggap berasal dari rekomendasi iseng.
Hal itu justru memperlihatkan betapa rumitnya proyek semacam ini di era media sosial.
