SELAMA bertahun-tahun, kita terbiasa melihat ekonomi Indonesia seperti panggung yang itu-itu saja. Nama-nama besarnya berulang. Konglomerat lama, grup lama, jaringan lama.
Ada yang menyebutnya era “sembilan naga”. Istilah ini tentu tidak perlu ditelan mentah-mentah. Tapi sebagai kiasan, ia menggambarkan satu hal: pusat gravitasi ekonomi pernah berputar di sekitar lingkaran tertentu yang sangat kuat, sangat global, dan sangat sulit disentuh.
Lalu muncul cerita baru: “sembilan haji”.
Sekali lagi, ini bukan istilah resmi. Bukan teori. Bukan pula kategori ilmiah. Tapi ungkapan itu hidup di obrolan, di warung kopi, di grup WhatsApp, di antara orang-orang yang merasa sedang menyaksikan perubahan arah.
Seolah-olah ada pergeseran dari satu keseimbangan lama ke keseimbangan baru.
Dulu, modal besar identik dengan jaringan global, pasar bebas, dan konglomerasi yang tumbuh sejak era Orde Baru.
Kini, muncul figur-figur baru yang tumbuh dari daerah, dari tambang, dari logistik, dari jasa, dari jaringan usaha yang lebih membumi, kadang dengan simbol-simbol keagamaan yang lebih kental.
Haji Isam, dalam cerita ini, bukan sekadar nama. Ia seperti lambang dari gelombang baru itu.
EQUILIBRIUM LAMA yANG MULAI RETAK
Selama kurang lebih tiga puluh tahun, Indonesia hidup dalam satu corak keseimbangan ekonomi: pasar bebas, liberalisasi, deregulasi, dan kepercayaan bahwa modal harus dibiarkan mengalir sebebas-bebasnya.
Negara sering kali diminta mundur sedikit. Pasar diminta maju lebih dulu. Harga dianggap sebagai hakim paling adil. Siapa yang efisien, dia menang. Siapa yang kuat modal, dia bertahan. Siapa yang lemah, tersingkir.
Dalam bahasa yang lebih keras, banyak orang menyebutnya _neoliberalisme_.
Tentu tidak semua salah. Pasar bebas pernah membawa pertumbuhan, investasi, dan modernisasi. Tapi ada sisi gelapnya juga: ketimpangan, penguasaan sumber daya oleh segelintir kelompok, dan ekonomi yang kadang terasa seperti kasino raksasa.
Di luar negeri, orang sering menyebut nama-nama besar: George Soros, Open Society Foundation, The Economist, Bloomberg, Bilderberg, BlackRock, dan sebagainya. Sebagian adalah fakta, sebagian lagi menjadi bahan spekulasi.
Tapi yang penting bukan selalu apakah semua nama itu benar-benar duduk dalam satu ruangan yang sama.
Yang lebih penting adalah ini: ada satu cara berpikir yang lama sekali bekerja. Cara berpikir yang percaya bahwa dunia sebaiknya diatur oleh pasar, bahwa modal lebih tahu daripada masyarakat, dan bahwa negara cukup menjadi penjaga malam.
Cara berpikir itulah yang membentuk banyak kebijakan, banyak narasi media, banyak standar “reformasi”, dan banyak ukuran “kemajuan”.
Lama-lama, cara berpikir itu tidak hanya mengatur ekonomi. Ia juga membentuk persepsi.










