Opini  

Dari Sembilan Naga ke Sembilan Haji: Bukan Sekedar Ganti Pemilik (Bagian 2)

PERSEPSI yang MENJADI REALITAS

Di sinilah teori reflexivity menjadi relevan.

George Soros pernah mengatakan bahwa pasar tidak selalu rasional. Persepsi pelaku pasar bisa memengaruhi kenyataan, dan kenyataan bisa kembali memengaruhi persepsi.

Jadi bukan hanya fakta yang menggerakkan harga, tetapi juga cerita tentang fakta itu.

Kasus BYAN adalah contoh yang sangat jelas.

Ketika rumor akuisisi Haji Isam beredar, harga saham naik. Ketika harga saham naik, kapitalisasi pasar membesar. Ketika kapitalisasi pasar membesar, kekayaan Dato Low ikut melonjak. Ketika kekayaan itu melonjak, daftar orang terkaya berubah. Ketika daftar itu berubah, media menulis lebih banyak. Ketika media menulis lebih banyak, pasar semakin tertarik.

Maka rumor pun menciptakan gelombang.

Belum tentu transaksinya terjadi. Belum tentu skemanya jelas. Belum tentu dananya siap. Tapi persepsi sudah lebih dulu bekerja.

Dan di pasar modal, persepsi kadang sama nyatanya dengan kenyataan.

Inilah dunia yang kita huni sekarang: dunia di mana narasi bisa menggerakkan triliun rupiah hanya dalam beberapa hari.

SERANGAN TIDAK TERLIHAT, TAPI TERASA

Ada yang menyebut bahwa Indonesia pernah mengalami semacam “serangan empat puluh hari”. Serangan yang tidak tampak seperti invasi militer. Tidak ada tank, tidak ada pasukan, tidak ada bendera asing.

Serangannya halus: lewat opini, lewat media, lewat aktivis, lewat influencer, lewat laporan, lewat framing, lewat algoritma.

Tidak selalu ada komando yang terlihat. Tidak selalu ada rapat rahasia. Tapi di era jaringan, koordinasi tidak harus berbentuk perintah dari atas. Kadang cukup dengan narasi yang sama, lalu dipantulkan berulang-ulang oleh banyak saluran.

Satu isu membesar. Satu sentimen menyebar. Satu persepsi terbentuk. Lalu masyarakat yang tadinya tenang bisa berubah gelisah. Pasar yang tadinya stabil bisa berubah bergejolak. Pemerintah yang tadinya percaya diri bisa tiba-tiba defensive.

Di sinilah kita belajar: kekuatan zaman ini bukan hanya menguasai tambang atau bank. Ia juga menguasai cerita.

Dan siapa yang menguasai cerita, sering kali ikut menguasai arah bangsa. (bersambung ke bagian 3….)

Penulis: Agus M Maksum _ tentang Perpindahan Zaman