Sangkuni

Sangkuni

DALAM kisah Mahabharata, Sangkuni bukan sekadar tokoh yang pandai berbicara. Ia adalah simbol kecerdikan yang kehilangan kompas moral.

Lidahnya tajam, pikirannya penuh perhitungan, dan kemampuannya membaca kelemahan orang lain nyaris tanpa tanding.

Namun, ada satu persoalan besar yang membuat karakter seperti Sangkuni menjadi sangat berbahaya: ia pandai mendorong orang lain masuk ke medan perang, tetapi tidak ikut menanggung harga dari perang itu sendiri.

Di sinilah letak bahayanya manusia dengan karakter semacam Sangkuni.

Ia berani menyusun strategi dari tempat yang aman. Ia mampu membakar keberanian orang lain dengan kata-kata besar.

Ia bisa berbicara tentang kehormatan, kemenangan, harga diri, pengkhianatan, bahkan pengorbanan. Tetapi ketika tiba waktunya mempertaruhkan sesuatu yang benar-benar berharga, keberanian itu mendadak berubah menjadi perhitungan.

Orang seperti ini biasanya memiliki satu keahlian: membuat orang lain merasa harus berkorban untuk kepentingan yang sebenarnya bukan kepentingannya sendiri.

Dalam kehidupan nyata, Sangkuni tidak selalu hadir sebagai penjahat dengan wajah menyeramkan.

Ia bisa muncul sebagai teman, pemimpin, tokoh publik, penasihat, bahkan orang yang setiap hari berbicara tentang keberanian.

Kalimatnya terdengar meyakinkan.

“Jangan takut.”

“Perjuangkan prinsip.”

“Kita harus berani melawan.”

“Kalau ingin menang, harus ada yang berkorban.”

Persoalannya sederhana: siapa yang diminta berkorban?

Jika yang selalu diminta maju adalah orang lain, sementara dirinya sibuk mencari tempat paling aman, maka keberanian itu patut dicurigai.

Keberanian bukan sekadar kemampuan mengeluarkan kalimat keras. Keberanian adalah kesediaan menanggung konsekuensi dari keputusan yang kita dorong kepada orang lain.

Seorang pemimpin yang meminta bawahannya bekerja sampai kelelahan, tetapi dirinya menikmati hasil tanpa memahami penderitaan mereka, sedang mempraktikkan logika Sangkuni.

Seorang pejabat yang mudah mengeluarkan kebijakan keras, tetapi tidak pernah merasakan dampaknya terhadap rakyat kecil, juga harus dikritik.

Begitu pula orang yang gemar mengajak orang lain bertengkar demi “harga diri”, tetapi ketika konflik pecah justru menghilang.

Orang semacam itu bukan pemberani. Ia hanya pandai menggunakan keberanian orang lain sebagai tameng.

Yang lebih berbahaya lagi, mereka sering memiliki kemampuan membungkus kepentingan pribadi dengan bahasa perjuangan.

Jangan Percaya kepada Orang yang Hanya Pandai Mengorbankan Orang Lain