Ini BRIN, Loh… Masa Bikin Sepatu Rp75 Ribu

Sepatu produk BRIN. Foto: RRI

Karena itu, persoalan sebenarnya bukan “mengapa BRIN membuat sepatu?”

Pertanyaan yang lebih tepat adalah: “Apa dampak riset tersebut bagi masyarakat dan industri Indonesia?”

Pertanyaan kedua adalah: apakah teknologi tersebut nantinya dapat diproduksi secara massal? Apakah industri dalam negeri akan memperoleh manfaat? Apakah harga Rp75.000 benar-benar realistis setelah produksi massal, distribusi, pajak, dan keuntungan industri dihitung?

Jika jawabannya positif, kritik warganet mungkin justru dapat menjadi kesempatan bagi BRIN untuk menjelaskan hasil risetnya secara lebih baik.

Lembaga negara sering kali menghadapi persoalan komunikasi publik. Masyarakat melihat produk akhirnya, tetapi tidak melihat proses penelitian yang panjang di belakangnya.

Sebaliknya, lembaga penelitian terkadang menjelaskan teknologi dengan bahasa yang terlalu teknis sehingga publik tidak memahami manfaatnya.

Karena itu, BRIN sebaiknya tidak sekadar menunjukkan produk kepada Presiden atau wartawan. BRIN perlu menjelaskan apa masalah nasional yang hendak diselesaikan, berapa biaya risetnya, berapa nilai ekonominya, dan bagaimana hasil penelitian itu akan masuk ke industri.

Dengan cara tersebut, masyarakat dapat menilai secara objektif.

Kritik warganet mengenai sepatu BRIN sebenarnya menunjukkan sesuatu yang positif: publik semakin ingin mengetahui ke mana arah uang negara digunakan.

Masyarakat tidak cukup hanya diberi informasi bahwa sebuah lembaga menghasilkan inovasi. Masyarakat juga ingin mengetahui apakah inovasi tersebut menghasilkan manfaat nyata buat masyarakat.

Jika sepatu karet Rp75.000 kelak mampu membantu anak-anak dari keluarga kurang mampu mendapatkan alas kaki murah, sekaligus menghidupkan industri karet dan manufaktur dalam negeri, maka produk itu bukan hal kecil.

Sebaliknya, jika inovasi berhenti pada pameran, seremoni, dan pemberitaan, kritik publik akan tetap muncul.

Karena itu, kritik terhadap BRIN sebaiknya tidak dijawab dengan kemarahan. Jawaban terbaik adalah data, transparansi, dan hasil nyata. (*)