AGUSTUS BERBICARA

AGUSTUS BERBICARA/(Instagram)

KETIKA jalanan menjadi ruang sidang rakyat. Ada masa ketika sebuah bangsa berbicara melalui gedung-gedung resmi.

Ada masa ketika keputusan lahir dari ruang rapat, dibicarakan dalam sidang, ditulis dalam dokumen, kemudian diumumkan kepada masyarakat sebagai sebuah kebijakan.

Tetapi ada pula masa ketika suara dari ruang-ruang itu terasa terlalu jauh dari kehidupan sehari-hari.

Pada saat itulah jalanan mulai berbicara.

Agustus 2026 memberi kita pemandangan semacam itu.

Di bulan ketika Indonesia seharusnya merayakan kemerdekaan dengan bendera yang berkibar dan pidato-pidato tentang perjuangan, jalanan justru dipenuhi suara kegelisahan.

Dari Makassar sampai Medan, dari Papua Tengah hingga Jakarta, masyarakat membawa persoalan masing-masing ke ruang publik.

Ada warga yang menolak pembangunan PLTSa karena mengkhawatirkan lingkungan dan kesehatan.

Ada peternak ayam dan telur yang berhadapan dengan harga jual yang jatuh ketika biaya pakan justru meningkat.

Ada buruh yang meminta kepastian upah dan perlindungan di tengah perubahan dunia kerja.

Ada masyarakat adat yang mempertahankan wilayah yang mereka anggap sebagai bagian dari hak ulayat.

Ada mahasiswa yang mempertanyakan arah pemerintahan.

Dan pada 27 Agustus, Gedung DPR RI menjadi titik temu berbagai keresahan: pemberantasan korupsi, RUU Perampasan Aset, kesejahteraan buruh, tata kelola pemerintahan, hingga evaluasi program Makan Bergizi Gratis.

Kemudian malam tiba.

Negosiasi gagal.

Massa bertahan.

Water cannon dikerahkan.

Gas air mata memenuhi jalan.

Ban dibakar.

Sepeda motor dibakar.

Pos polisi dibakar.

Jalanan yang sebelumnya menjadi ruang menyampaikan aspirasi berubah menjadi medan benturan.

Di situlah kita seharusnya berhenti sejenak.

Bukan untuk buru-buru memilih siapa yang paling benar.

Bukan untuk mencari siapa yang paling salah.

Tetapi untuk bertanya:

Mengapa begitu banyak orang merasa perlu turun ke jalan untuk didengar?

Pertanyaan itu mungkin lebih penting daripada suara kericuhan yang terdengar sepanjang malam.

Sebab kerusuhan hanya berlangsung beberapa jam.

Kekecewaan masyarakat bisa berlangsung bertahun-tahun.

Dan tulisan ini dimulai dari kegelisahan tersebut.

Indonesia yang Merayakan Kemerdekaan Sambil Bertanya

Setiap Agustus, Indonesia mempunyai ritual yang hampir selalu sama.

Bendera dikibarkan.

Lomba digelar.

Upacara dilaksanakan.

Pidato disampaikan.

Kata “merdeka” terdengar di mana-mana.

Namun kemerdekaan bukan sekadar peristiwa yang dikenang.

Kemerdekaan adalah pertanyaan yang harus terus dijawab.

Apa arti merdeka bagi peternak yang menjual produknya dengan harga yang tidak sebanding dengan biaya produksi?

Apa arti merdeka bagi buruh yang merasa posisi tawarnya semakin lemah?

Apa arti merdeka bagi masyarakat yang khawatir lingkungan tempat tinggalnya rusak?

Apa arti merdeka bagi masyarakat adat yang merasa wilayahnya harus dipertahankan?

Apa arti merdeka bagi pekerja digital yang bekerja dengan algoritma tetapi belum selalu mendapatkan kepastian perlindungan sebagaimana pekerja dalam sistem konvensional?

Dan apa arti merdeka bagi mahasiswa ketika kritik terhadap kebijakan pemerintah harus selalu dicurigai sebagai ancaman?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu memiliki jawaban sederhana.

Namun negara tidak boleh takut terhadap pertanyaan.

Justru negara yang sehat seharusnya mampu hidup bersama pertanyaan.

Sebab kritik adalah semacam alarm.

Alarm tidak dibuat untuk menyenangkan penghuni rumah.

Alarm dibuat untuk memberitahu bahwa ada sesuatu yang perlu diperiksa.

Jika alarm berbunyi terus-menerus, persoalannya bukan sekadar bagaimana mematikan suara alarm.

Pertanyaannya:

Apa yang membuat alarm itu terus berbunyi?

Demonstrasi Bukan Selalu Tentang Politik

Salah satu kesalahan paling mudah dalam membaca demonstrasi adalah menganggap semua aksi massa sebagai produk kepentingan politik.

Padahal masyarakat turun ke jalan dengan alasan yang jauh lebih beragam.

Pada 9 Agustus 2026, warga Tamalanrea, Makassar, memprotes pembangunan PLTSa. Mereka membawa kekhawatiran mengenai lingkungan dan kesehatan.

Pada 10 Agustus, peternak ayam dan telur melakukan aksi di sejumlah daerah karena tekanan ekonomi.

Di Nabire, masyarakat adat menyuarakan persoalan wilayah dan lingkungan.

Di Medan, buruh berbicara tentang outsourcing, upah, serta perlindungan pekerja aplikasi.

Semua itu bukan satu cerita.

Tetapi semuanya mempunyai satu kesamaan: ada kepentingan masyarakat yang merasa perlu disuarakan.

Karena itu, membaca demonstrasi hanya dari jumlah massa adalah kekeliruan.

Seribu orang bukan sekadar seribu kepala.

Di dalam kerumunan itu terdapat seribu cerita.

Ada keluarga.

Ada utang.

Ada pekerjaan.

Ada tanah.

Ada lingkungan.

Ada masa depan.

Ada kekecewaan.

Ada harapan.

Dan kadang-kadang ada kemarahan.

Kita boleh tidak setuju dengan cara mereka menyampaikan aspirasi.

Tetapi sebelum menilai cara, kita perlu memahami persoalannya.

Sebab menyelesaikan kemarahan tanpa menyelesaikan penyebab kemarahan hanya menghasilkan ketenangan sementara.

Dari Persoalan Dapur ke Gedung Parlemen

Barangkali salah satu gambaran paling kuat tentang demokrasi adalah ketika persoalan yang awalnya terjadi di dapur akhirnya sampai ke gedung parlemen.

Peternak tidak sedang berbicara tentang teori ekonomi.

Mereka berbicara tentang harga pakan.

Buruh tidak sedang membahas istilah akademik tentang ketenagakerjaan.

Mereka berbicara tentang upah dan kepastian hidup.

Pengemudi ojek online tidak sedang mendiskusikan masa depan teknologi secara abstrak.

Mereka sedang bekerja di jalan.

Masyarakat adat tidak sedang membahas tanah hanya sebagai komoditas.

Bagi mereka, tanah dapat berarti sejarah, identitas komunitas, ruang hidup, dan masa depan.

Ketika semua persoalan itu bertemu dengan kebijakan negara, masyarakat akhirnya mencari tempat untuk menyampaikan keberatan.

Dan salah satu tempat tersebut adalah parlemen.

Gedung DPR RI bukan sekadar bangunan.

Ia adalah simbol representasi.

Karena itu, ketika masyarakat datang ke sana, pesan yang dibawa sebenarnya cukup sederhana:

“Kami ingin wakil kami mendengar.”

Masalahnya, dalam demokrasi modern, mendengar saja tidak cukup.

Masyarakat membutuhkan tindak lanjut.

Mereka membutuhkan kebijakan.

Mereka membutuhkan kepastian.

Mereka membutuhkan hasil.

Sebab rakyat tidak dapat membayar kebutuhan hidup dengan kalimat, “aspirasi Anda akan kami tampung.”

Aspirasi memang harus ditampung.

Tetapi setelah ditampung, ia harus diproses.

27 Agustus dan Pertarungan Dua Wajah Demokrasi

Tanggal 27 Agustus 2026 memperlihatkan dua wajah demokrasi secara bersamaan.

Wajah pertama adalah dialog.

Perwakilan AMPB bersama sejumlah rekannya diterima masuk ke ruang paripurna dan bertemu pimpinan DPR.

Mereka membawa tuntutan, termasuk dorongan agar RUU Perampasan Aset segera disahkan.

Massa daerah kemudian membubarkan diri secara tertib.

Ini adalah wajah demokrasi yang seharusnya kita pertahankan.

Masyarakat menyampaikan tuntutan.

Pimpinan lembaga menerima.

Ada dialog.

Ada komitmen.

Ada ruang negosiasi.

Tetapi beberapa jam kemudian, wajah kedua muncul.

Sebagian massa masih bertahan setelah batas waktu demonstrasi berakhir.

Negosiasi tidak menemukan jalan keluar.

Situasi memanas.

Fasilitas umum dirusak.

Water cannon digunakan.

Massa terpecah.

Pembakaran terjadi.

Gas air mata ditembakkan.

Pos polisi dibakar.

Puluhan orang diamankan.

Di titik tersebut, demokrasi menghadapi batas yang tegas.

Kebebasan berpendapat tidak sama dengan kebebasan melakukan kekerasan.

Demonstrasi adalah hak.

Kerusuhan bukan hak.

Negara pun memiliki batas.

Penegakan hukum adalah kewajiban, tetapi penggunaannya harus dapat dipertanggungjawabkan.

Inilah keseimbangan yang sering hilang dalam perdebatan publik.

Ketika massa melakukan kekerasan, sebagian orang membenarkannya atas nama perjuangan.

Ketika aparat melakukan tindakan tegas, sebagian orang langsung menganggap seluruh aparat represif.

Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu.

Demokrasi membutuhkan kritik terhadap massa sekaligus kritik terhadap kekuasaan.

Jika hanya berani mengkritik satu sisi, kita bukan sedang membela demokrasi.

Kita sedang membela kelompok.

Provokator dan Bahaya Mengubah Tuntutan Menjadi Tontonan

Ada satu persoalan lain yang semakin penting dalam demonstrasi zaman sekarang: kamera.

Dulu demonstrasi membutuhkan wartawan untuk diberitakan.

Sekarang hampir setiap orang membawa kamera di dalam genggaman.

Satu lemparan batu dapat direkam.

Satu pagar yang roboh dapat menjadi video.

Satu pos yang terbakar dapat menjadi viral.

Dalam hitungan menit, sebuah demonstrasi dapat berubah menjadi tontonan nasional.

Di sinilah provokasi menjadi berbahaya.

Satu kelompok kecil dapat mengubah persepsi terhadap ribuan orang.

Tuntutan yang disusun berhari-hari dapat kalah oleh satu adegan kekerasan yang berlangsung beberapa detik.

Publik akhirnya tidak lagi membahas substansi.

Mereka membahas siapa yang melempar.

Siapa yang membakar.

Siapa yang mengejar.

Siapa yang menembakkan gas air mata.

Padahal sebelum semua itu terjadi, ada persoalan yang seharusnya dibicarakan.

Tentang korupsi.

Tentang kesejahteraan.

Tentang hukum.

Tentang pekerjaan.

Exit mobile version