DALAM setiap waktu, ada masa ketika manusia merasa dunia begitu luas, tetapi hatinya justru terasa sempit.
Ia memiliki rumah, tetapi tidak menemukan ketenangan.
Ia memiliki keluarga, tetapi tetap merasa sendirian.
Ia dikelilingi banyak manusia, namun ada ruang di dalam dirinya yang tidak mampu disentuh oleh siapa pun.
Di situlah manusia sering keliru mencari tempat pulang.
Kita mengira pulang adalah kembali kepada sebuah rumah, kepada seseorang yang kita cintai, kepada pelukan yang pernah membuat kita nyaman, atau kepada tempat yang menyimpan banyak kenangan.
Padahal, rumah hanyalah tempat tubuh beristirahat.
Sedangkan hati membutuhkan tempat yang lebih dalam daripada sekadar dinding, pintu, dan atap.
Hati membutuhkan Allah.
Sebab manusia boleh menjadi tempat kita bercerita, tetapi manusia juga dapat pergi.
Dunia boleh memberi kebahagiaan, tetapi dunia juga dapat mengambilnya kembali.
Harta bisa datang dan hilang. Jabatan bisa meninggi lalu merendahkan.
Cinta bisa membuat seseorang merasa lengkap, tetapi cinta kepada makhluk tetap memiliki batas.
Sementara Allah tidak pernah pergi.
Barangkali inilah rahasia terbesar dari perjalanan hidup: semakin jauh seseorang berjalan mengejar dunia, semakin ia memahami bahwa yang dicari hatinya sejak awal bukanlah dunia, melainkan Allah.
Manusia memiliki kebiasaan yang aneh. Ketika terluka, ia mencari manusia.
Ketika kecewa, ia mencari pengakuan.
Ketika kehilangan, ia mencari sesuatu untuk menggantikan yang hilang.
Ketika kesepian, ia berusaha memenuhi ruang kosong dengan percakapan, kesibukan, hiburan, bahkan terkadang dengan sesuatu yang justru semakin menjauhkannya dari Tuhan.
Padahal, tidak semua kekosongan diciptakan untuk diisi oleh manusia.
Ada kekosongan yang hanya bisa dipenuhi oleh kedekatan kepada Allah.
Imam Al-Ghazali banyak mengingatkan bahwa penyakit terbesar manusia bukan semata-mata karena dunia berada di tangannya, melainkan ketika dunia mulai menguasai hatinya.
Dunia sebenarnya bukan musuh. Yang menjadi persoalan adalah ketika hati menggantungkan keselamatan kepada sesuatu yang fana.
Kita boleh mencintai manusia, tetapi jangan menjadikan manusia sebagai Tuhan kecil dalam kehidupan kita.
Kita boleh mengejar rezeki, tetapi jangan menganggap rezeki datang semata-mata karena kekuatan kita.
Kita boleh membangun masa depan, tetapi jangan sampai lupa bahwa masa depan tetap berada di bawah kehendak Allah.
Dan kita boleh menangis karena kehilangan seseorang, tetapi jangan sampai kehilangan seseorang membuat kita kehilangan Allah.
Sebab ada kehilangan yang sebenarnya merupakan cara Allah mengajari kita tentang ketergantungan.
Kadang Allah membiarkan seseorang pergi agar kita berhenti menggantungkan hati kepadanya.
Kadang Allah mengambil sesuatu yang kita cintai agar kita belajar bahwa tidak ada sesuatu pun di dunia yang benar-benar kita miliki.
Kadang Allah membuat jalan kita begitu sunyi agar suara hati kembali terdengar.
Dan kadang, doa yang belum dikabulkan bukan tanda bahwa Allah tidak mendengar.
Bisa jadi Allah sedang mendidik kita agar memahami bahwa hubungan dengan-Nya tidak boleh dibangun hanya berdasarkan apa yang kita dapatkan.
Jalaluddin Rumi, dalam banyak renungannya, memandang luka bukan sekadar penderitaan, melainkan pintu menuju kedalaman jiwa.
Luka membuat manusia berhenti berlari. Ia memaksa manusia menoleh ke dalam dirinya sendiri.
Bukankah demikian hidup?
Saat semuanya baik-baik saja, kita sering lupa berdoa.
Namun ketika dunia runtuh, nama Allah tiba-tiba menjadi kata pertama yang keluar dari bibir.
“Ya Allah.”
Sederhana.
Tetapi di dalam dua kata itu terkandung pengakuan yang sangat besar: bahwa kita tidak sanggup sendirian.
Mungkin itulah sebabnya sebagian orang baru menemukan Allah setelah kehilangan sesuatu yang sangat dicintainya.
Bukan karena Allah baru datang.
Allah tidak pernah pergi.
Kitalah yang selama ini terlalu sibuk berjalan menjauh.
Ada kesalahpahaman yang sering muncul ketika berbicara tentang “pulang kepada Allah”.
Sebagian orang menganggap pulang kepada Allah berarti menunggu kematian.
Padahal, pulang kepada Allah dapat dimulai sejak kita masih bernapas.
Pulang adalah ketika hati yang lama tersesat mulai mengenali arah.
Pulang adalah ketika seseorang yang selama ini merasa kuat akhirnya berani berkata, “Ya Allah, aku lemah.”
Pulang adalah ketika seseorang berhenti mempertanyakan mengapa hidup tidak sesuai keinginannya dan mulai bertanya, “Apa yang ingin Allah ajarkan kepadaku melalui semua ini?”
Pulang adalah ketika dosa tidak lagi terasa sebagai kebiasaan, tetapi menjadi sesuatu yang membuat hati gelisah.
Pulang adalah ketika setelah jatuh berkali-kali, kita masih mengetuk pintu ampunan-Nya.
Allah tidak meminta manusia datang kepada-Nya dalam keadaan sempurna.
Allah meminta kita datang.
Dengan dosa yang kita sesali.
Dengan air mata yang belum kering.
Dengan hati yang berantakan.
Dengan masa lalu yang membuat kita malu.
Dengan kesalahan yang tidak bisa kita ceritakan kepada siapa pun.
Sebab Allah mengetahui semuanya bahkan sebelum kita mengucapkannya.
Inilah yang membuat pintu taubat begitu indah. Manusia bisa mengingat kesalahan kita bertahun-tahun.
Allah membuka kesempatan untuk menghapusnya ketika kita benar-benar kembali.
Manusia terkadang berkata, “Kamu sudah terlalu jauh.”
Allah mengajarkan bahwa jangan pernah berputus asa dari rahmat-Nya.
Manusia bisa menutup pintu rumahnya.
Tetapi selama hidup masih diberikan, pintu Allah menuju ampunan tetap menjadi tempat kembali.
Maka jangan merasa terlalu kotor untuk bersujud.
Justru karena kotor, bersujudlah.
Jangan merasa terlalu jauh untuk berdoa.
Justru karena jauh, berdoalah.
Jangan merasa terlalu banyak dosa untuk membaca Al-Qur’an.
Justru karena banyak dosa, dekatilah Al-Qur’an.
Sebab setan sering membisikkan sebuah kebohongan yang terdengar seperti logika: “Perbaiki dirimu dulu, baru datang kepada Allah.”
Padahal kita tidak akan pernah menjadi sempurna jika menunggu sempurna untuk kembali.
Kita menjadi lebih baik karena kita kembali.
Ada satu pelajaran yang mungkin terdengar sederhana, tetapi sangat sulit dilakukan: jangan mencari obat untuk luka hati kepada sesuatu yang juga fana.
Ketika seseorang mengecewakan kita, jangan langsung menyimpulkan bahwa seluruh dunia tidak layak dipercaya.
Ketika cinta berakhir, jangan menganggap hidup juga berakhir.
Ketika usaha gagal, jangan menganggap Allah sedang menghukum.
Ketika doa belum terkabul, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Allah tidak sayang.
Kita sering melihat satu halaman kehidupan lalu menganggap sudah mengetahui seluruh cerita.
Padahal Allah melihat keseluruhan buku.
Apa yang kita sebut kehilangan, mungkin Allah sebut perlindungan.
Apa yang kita sebut keterlambatan, mungkin Allah sebut persiapan.
Apa yang kita sebut kegagalan, mungkin Allah gunakan untuk memindahkan kita ke jalan yang lebih baik.
Dan apa yang kita sebut kesendirian, mungkin merupakan ruang yang Allah sisakan agar kita kembali berbicara dengan-Nya.
Di sinilah kedewasaan spiritual mulai tumbuh.
