Kita tidak lagi hanya mencintai Allah ketika diberi.
Kita belajar mencintai Allah ketika diuji.
Sebab iman bukan hanya tentang tersenyum ketika mendapatkan apa yang diinginkan. Iman juga tentang tetap bersujud ketika kenyataan tidak sesuai dengan doa.
Ada orang yang doanya belum dikabulkan, tetapi hidupnya justru menjadi lebih dekat kepada Allah.
Ada orang yang keinginannya tercapai, tetapi hatinya semakin jauh.
Maka ukuran kasih sayang Allah tidak selalu berbentuk apa yang kita dapatkan.
Kadang kasih sayang Allah berbentuk sesuatu yang tidak kita mengerti.
Dan manusia memang tidak selalu harus mengerti untuk dapat percaya.
Bukankah seorang anak kecil tidak memahami mengapa ibunya melarangnya menyentuh api?
Ia mungkin menangis karena dilarang.
Namun sang ibu mengetahui sesuatu yang tidak diketahui anaknya.
Begitu pula kita di hadapan Allah.
Kita hanya melihat hari ini.
Allah mengetahui hari esok, tahun depan, bahkan seluruh perjalanan hidup yang belum kita jalani.
Karena itu, percayalah.
Bukan berarti berhenti berusaha.
Bukan berarti pasrah tanpa ikhtiar.
Tetapi setelah ikhtiar dilakukan, serahkan hasilnya kepada Dia yang mengetahui apa yang tidak kita ketahui.
Pada Akhirnya, Semua Akan Pulang
Kita datang ke dunia tanpa membawa apa-apa.
Lalu kita mengumpulkan banyak hal.
Nama.
Harta.
Jabatan.
Rumah.
Kendaraan.
Pengikut.
Pujian.
Cinta.
Kenangan.
Namun pada akhirnya, satu per satu akan kita tinggalkan.
Tidak ada manusia yang bisa membawa seluruh isi rumahnya ke dalam liang lahat.
Tidak ada jabatan yang ikut bersujud bersama jasad.
Tidak ada jumlah pengikut yang dapat menemani kesunyian kubur.
Yang tersisa adalah amal, doa, dan rahmat Allah.
Maka mungkin pertanyaan paling penting dalam hidup bukanlah, “Seberapa banyak yang berhasil aku miliki?”
Melainkan:
“Seberapa dekat aku dengan Allah ketika semua yang kumiliki akhirnya harus kutinggalkan?”
Hidup ini pada akhirnya memang perjalanan pulang.
Kita sedang berjalan menuju satu kepastian yang tidak bisa ditawar oleh siapa pun.
Tetapi indahnya, Allah memberi kita kesempatan untuk memilih bagaimana kita menjalani perjalanan itu.
Kita bisa pulang dengan hati yang penuh kesombongan.
Atau pulang dengan hati yang tunduk.
Kita bisa pulang sambil membawa kebencian.
Atau membawa maaf.
Kita bisa pulang dengan merasa telah memiliki dunia.
Atau pulang sebagai seorang hamba yang sadar bahwa sejak awal dirinya hanya milik Allah.
Karena itu, sebelum tubuh benar-benar pulang kepada tanah, biarkan hati terlebih dahulu pulang kepada Allah.
Jika hari ini hidup terasa berat, pulanglah kepada Allah.
Jika seseorang meninggalkanmu, pulanglah kepada Allah.
Jika dunia tidak memahami tangismu, pulanglah kepada Allah.
Jika doa terasa lama menemukan jawaban, pulanglah kepada Allah.
Jika dosa masa lalu membuatmu malu, pulanglah kepada Allah.
Dan jika suatu hari seluruh dunia bersorak karena keberhasilanmu, jangan lupa tetap pulang kepada Allah.
Sebab kebahagiaan terbesar bukan ketika kita memiliki segala sesuatu.
Kebahagiaan terbesar adalah ketika hati tidak lagi membutuhkan segala sesuatu untuk merasa cukup.
Ada ketenangan yang tidak dapat dibeli.
Ada pelukan yang tidak terlihat.
Ada rumah yang tidak terbuat dari batu.
Dan ada tempat pulang yang pintunya tidak pernah benar-benar tertutup bagi hamba yang ingin kembali.
Itulah Allah.
Sebaik-baiknya tempat pulang.
Mungkin kita telah berjalan terlalu jauh.
Mungkin kaki kita penuh debu dosa.
Mungkin hati kita penuh luka.
Mungkin ada begitu banyak kesalahan yang ingin kita sembunyikan dari dunia.
Tidak apa-apa.
Berhentilah sebentar.
Tarik napas.
Ambil wudu.
Bentangkan sajadah.
Kemudian katakan kepada-Nya dengan bahasa paling sederhana yang mampu kita ucapkan:
“Ya Allah, aku pulang.”
Barangkali tidak ada kalimat yang lebih indah daripada itu.
Sebab ketika seluruh dunia terasa seperti tempat asing, Allah tetap menjadi rumah bagi hati yang ingin kembali.
Dan kelak, ketika perjalanan ini benar-benar selesai, semoga kita bukan sekadar menjadi manusia yang pernah hidup di dunia, tetapi menjadi hamba yang berhasil menemukan jalan pulang kepada Rabb-nya.
Sebab dunia hanyalah persinggahan.
Manusia hanyalah musafir.
Waktu hanyalah perjalanan.
Sedangkan Allah adalah tujuan.
Maka berjalanlah.
Jatuhlah jika harus jatuh.
Menangislah jika harus menangis.
Istirahatlah jika lelah.
Tetapi jangan kehilangan arah.
Karena selama hati masih mengingat Allah, sejauh apa pun kita tersesat, selalu ada jalan untuk pulang.
Dan sebaik-baiknya pulang, adalah pulang kepada Allah.[dit]











