JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET – KH. Maman Imanuel Haq alias Kang Maman memberi tiga butir catatan kritis terhadap kinerja PBNU selama lima tahun kepemimpinan KH. Yahya C. Staquf alias Gus Yahya.
Kang Maman yang Pengasuh Pondok Pesantren Al Mizan Majalengka, mengungkap catatan tersebut saat diskusi di Aula Dirosah Al Amin, Pondok Pesantren Al Maliki 2 Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Kamis (27/8/2026).
Kiai Maman menilai NU memiliki karakter, tradisi, dan kultur yang khas sehingga tidak semestinya dikelola dengan mengadopsi model organisasi lain. Menurutnya, kekuatan NU justru terletak pada kemampuannya mengelola masyarakat sipil, pesantren, serta tradisi keagamaan yang telah mengakar di tengah Nahdliyin.
“Poin pertama kritik terhadap kinerja 5 tahun PBNU adalah jangan mencabut NU dari kultur NU. Kalau ada orang bermimpi NU itu ingin seperti Muhammadiyah, beda. Kita dengan Muhammadiyah itu berbeda,” kata Kiai Maman.
Menurutnya, NU memiliki keunggulan dalam mengembangkan pesantren dan membangun civil society. Karena itu, upaya transformasi pesantren harus tetap berpijak pada karakter dan tradisi NU.
“Kita harus bangga dengan tradisi kita. NU ini memang harus diawasi. Itulah ciri Nahdlatul Ulama, ada kritik-kritik yang konstruktif, saling mengkritik,” ujarnya.
Kiai Maman mengatakan, NU merupakan Ahlul Haqq. Menurutnya, NU sejak awal telah memiliki komitmen terhadap Islam Ahlussunnah wal Jamaah dengan mengikuti jalan para ulama.
“NU itu sudah meyakini kebenaran Islam, Ahlussunnah wal Jamaah ala thariqati ulama. Maka wajar kalau orang mencoba mengganggu kita atau menguji komitmen kita terhadap Ahlussunnah wal Jamaah. Tinggal apakah pengurus bisa meyakinkan diri sebagai Ahlul Haqq atau tidak?” katanya.
Catatan kedua Kiai Maman adalah lemahnya konsolidasi internal organisasi. Ia menyoroti konflik yang terjadi antara unsur Syuriyah dan Tanfidziyah sebagai salah satu persoalan yang menjadi kelemahan kepemimpinan PBNU dalam lima tahun terakhir.
Ia membandingkan dinamika NU saat ini dengan perdebatan di masa lalu yang menurutnya lebih banyak berkaitan dengan persoalan besar, termasuk ideologi dan kebangsaan.
Kiai Maman mencontohkan kisah KH Ahmad Siddiq dan Gus Miek dalam pencarian dasar keagamaan terkait penerimaan Pancasila sebagai asas tunggal. Menurutnya, perbedaan dan perdebatan di tubuh NU memang telah berlangsung sejak lama, tetapi dah ya lebih banyak menyangkut persoalan fundamental.











