Haidar Alwi ungkap Ancaman Krisis Energi dan Pangan di Tengah Konflik Global

Ir. R Haidar Alwi, MT.

JAKARTA, FAKTANASIONAL.NET – Krisis energi global bukan sekadar persoalan naik turunnya harga minyak. Di balik setiap barel yang gagal diproduksi, setiap jalur pelayaran yang terancam, dan setiap kapal tanker yang menghadapi kenaikan biaya asuransi, terdapat rantai risiko yang dapat menjalar ke nilai tukar, inflasi, anggaran negara, industri, hingga daya beli masyarakat.

Gejolak Timur Tengah memperlihatkan bahwa energi telah menjadi instrumen kekuatan geopolitik. Negara yang tidak terlibat dalam perang sekalipun dapat menanggung biaya ekonominya ketika pasokan dan distribusi energi dunia terganggu.

Persoalan mendasarnya adalah kemampuan negara mengantisipasi rambatan risiko sebelum berubah menjadi tekanan domestik. Dalam kerangka itulah Ir. R. Haidar Alwi, MT, Presiden Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute serta Wakil Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, menempatkan ketahanan energi sebagai ukuran penting kapasitas institusi dan kedaulatan ekonomi.

Indonesia memiliki sumber daya alam yang besar, tetapi kekayaan tersebut tidak otomatis menghapus ketergantungan terhadap pasar internasional. Ketahanan nasional ditentukan oleh kemampuan menghubungkan kebijakan energi, fiskal, moneter, industri, dan perlindungan sosial dalam satu perhitungan strategis yang konsisten.

Ketegangan yang melibatkan Arab Saudi di bawah Mohammed bin Salman memberikan gambaran tentang besarnya taruhan geopolitik tersebut. Ambisi Saudi Vision 2030, perang berkepanjangan di Yaman, dan ancaman terhadap kepentingan energi kerajaan memperlihatkan bahwa kekayaan minyak tidak menghilangkan risiko keamanan.

Bagi Indonesia, pelajaran terpenting bukan meramalkan nasib Dinasti Saud, melainkan memahami bahwa gangguan di pusat produksi dan jalur perdagangan energi dapat menjadi ujian bagi kualitas pengelolaan ekonomi nasional.

“Negara yang tangguh bukan negara yang menganggap dirinya kebal terhadap krisis, melainkan negara yang mengetahui titik rentannya, menghitung konsekuensinya, dan menyiapkan tindakan sebelum masyarakat menanggung akibatnya. Kedaulatan energi harus tercermin dalam kemampuan menjaga pasokan, stabilitas ekonomi, dan kesejahteraan rakyat.” Tegas Haidar Alwi.

Untuk memahami apa yang perlu dibenahi Indonesia, analisis harus bergerak dari geopolitik minyak menuju mekanisme yang menghubungkan gangguan pasokan internasional dengan struktur ekonomi nasional.

Geopolitik Minyak Menguji Ketahanan Negara Dan Mengubah Risiko Menjadi Tekanan Ekonomi.

Konflik Timur Tengah menunjukkan bahwa kekuatan energi tidak hanya ditentukan oleh besarnya cadangan minyak. Produksi harus didukung fasilitas pemrosesan, jaringan pipa, terminal ekspor, kapal tanker, pelabuhan, dan jalur pelayaran yang aman.

Gangguan pada satu titik dapat diatasi melalui jalur alternatif, tetapi gangguan serentak pada beberapa titik dapat memperbesar biaya dan memperpanjang pemulihan. Perang Yaman, yang melibatkan intervensi koalisi pimpinan Saudi sejak Maret 2015, juga memperlihatkan bahwa keunggulan militer tidak otomatis menghasilkan penyelesaian politik.

Bagi Mohammed bin Salman, tantangannya adalah mengubah ambisi regional menjadi keamanan yang bertahan lama, bukan sekadar mempertahankan citra kekuatan.

Dampak terhadap pasar tidak selalu mengikuti pemberitaan secara lurus. Harga minyak dipengaruhi oleh volume pasokan yang benar-benar hilang, durasi gangguan, persediaan, kapasitas produsen lain, permintaan global, dan biaya logistik.

Pada 6 Oktober 2026, Menteri Energi Saudi menyatakan aliran minyak melalui pipa East-West mencapai 5,8 juta barel per hari. Sementara itu, Brent berada di sekitar US$103,18 per barel pada 12 Oktober.

Kedua perkembangan ini memperlihatkan bahwa kemampuan mempertahankan jalur pasokan dapat berjalan bersamaan dengan tingginya premi risiko geopolitik. Artinya, harga minyak tidak hanya mencerminkan kelangkaan fisik, tetapi juga ketidakpastian tentang kemampuan sistem energi memenuhi kebutuhan dunia.

Indonesia perlu membaca risiko tersebut melalui skenario, bukan ramalan tunggal. Pemerintah perlu menguji dampak apabila harga minyak naik sementara rupiah melemah, pengiriman terlambat, atau pasokan produk olahan terganggu. Pengujian juga harus memperhitungkan kemungkinan harga kembali turun, sehingga kebijakan tidak menimbulkan pemborosan ketika keadaan membaik.

Kemampuan membaca beberapa kemungkinan sekaligus akan menentukan apakah pemerintah mampu bertindak lebih awal atau justru baru bergerak ketika tekanan sudah masuk ke anggaran dan kehidupan masyarakat.

“Dalam geopolitik energi, risiko terbesar bukan hanya berkurangnya produksi, tetapi terganggunya hubungan antara pasokan, distribusi, pembiayaan, dan kepercayaan pasar. Negara yang mampu membaca hubungan tersebut akan memiliki waktu untuk menyesuaikan kebijakan sebelum gangguan eksternal berkembang menjadi tekanan ekonomi yang lebih luas.” Jelas Haidar Alwi.